PR & Rp


PESAWAT berguncang pelan. Tak terasa kami sudah di atas Kota Palembang ketika perempuan awak kabin bersuara seksi mengingatkan untuk mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi dan melipat meja karena sesaat lagi pesawat akan landing di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Bukan pengumuman standar itu yang menggoda telinga. Kupingku justru terusik oleh obrolan dua rekan jurnalis di kursi sebelah yang sama-sama dalam perjalanan ke Palembang guna mengikuti Konferensi Kerja Nasional PWI, Rabu pekan lalu. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba beta menangkap sepenggal pernyataan ini.


"Kalau urusan PR, itu tanggung jawab bupati dan wakil bupati. Tetapi menyangkut Rp hanya dengan bupati. Itulah perbedaan antara bupati dan wakil bupati," kata rekan yang duduk di tepi jendela sambil terbahak. Beta senyam-senyum saja meski tak mengikuti awal pembicaraan itu karena terlelap sejak pesawat take-off dari Jakarta. Tak sempat lagi bertanya lebih jauh karena pesawat mulai menukik halus lalu mendarat mulus di bumi Sriwijaya. Kami bergegas ke lokasi konferensi di jantung Kota Palembang, tak jauh dari jembatan Ampera yang tersohor itu.

Urusan PR dan Rp (rupiah) menarik nian. Terkenang beta ke kampung halaman Flobamora yang hari-hari ini riuh mengucapkan terima kasih dan sayonara kepada para wakil rakyat. Di ujung masa pengabdian 2004-2009, mereka melantunkan koor senada yakni meninggalkan banyak Pekerjaan Rumah (PR) buat penghuni baru gedung Dewan 2009-2014. Terima kasih buat wakil kita yang jujur mengakui kekurangan itu. Tentu tidak semuanya buruk. Ada prestasi warisan mereka.

DPRD Propinsi NTT, misalnya, menyebut lima PR yang ditinggalkan bagi anggota baru. Kelima PR itu, yakni kasus-kasus korupsi yang belum tuntas, mutu pelayanan masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan yang belum optimal, pemetaan batas wilayah administrasi lintas kabupaten di Timor dan Flores, bangkrutnya PT Semen Kupang serta perjuangan menjadikan NTT sebagai propinsi kepulauan.

Antara PR & Rp, jika diminta memilih yang pertama, bagaimana keputusan tuan dan puan? Beta yakin cenderung memilih Rp ketimbang PR. Untuk apa pilih PR yang bisa bikin kepala kesemutan dan kaki pegal-pegal? Sejatinya PR dan Rp itu lengket dengan keseharian kita. Siapa pun dia. Dan, kita doyan mengejar Rp ketimbang menyelesaikan PR meski sudah terbukti rupiah hanya mengenal kata "kurang" sehingga kerap membuat buta mata, hati tertutup dan nalar lumpuh.


Beberapa pekan lalu beranda Flobamora dikejutkan dua kejadian heboh. Orang dengan status sosial tinggi di tengah masyarakat, orang yang seharusnya memberi teladan kebaikan, malah tertangkap basah bermain judi. Motivasi berjudi itu jelas berkaitan dengan Rp bukan sekadar mengisi waktu senggang mengerjakan PR.

PR dan Rp pulalah yang ikut memantik pertikaian terbuka atau terselubung antara kepala daerah dan wakil kepala daerah di beberapa tempat. Duet pemimpin wilayah bukan fokus mengerjakan PR tetapi tergoda Rp hingga terjebak pertikaian panjang. Bulan madu kepala daerah paling lama setahun. Tahun-tahun sesudahnya mereka bertarung. Pisah ranjang. Berjalan sendiri-sendiri. Di sini bisa dihitung dengan jari duet kepala daerah yang akur sampai akhir.

Hasil Pemilu Legislatif (pileg) 2009 menunjukkan fakta menarik. Inilah pertama kali dalam sejarah pemilu di daerah kita hanya 15 sampai 20 persen anggota DPRD periode lama yang terpilih kembali. Di masa lalu paling minim 50 persen wajah lama akan kembali mendapat sapaan Wakil Rakyat yang Terhormat (Yth).

Rakyat kini lebih memilih wajah baru. Apa artinya itu? Sistem dan regulasi berbeda serta gemuknya partai bisa dituding sebagai penyebab. Tapi boleh jadi ada tali-temalinya dengan PR dan Rp tadi. Bukan mustahil selama lima tahun tuan anggota Dewan Yth lebih menguber Rp ketimbang tuntaskan PR. Puan kelewat sibuk mengejar rupiah guna membayar hutang politik selama kampanye, membalas budi para penjasa atau meningkatkan kesejahteraan.

Gara-gara Rp seantero Flobamora pun menorehkan kisah unik tentang TKI (Tunjangan Komunikasi Intensif) yang jumlahnya miliaran rupiah. Sampai menjelang akhir masa jabatan anggota DRPD 2004-2009, masih ada yang belum lunas mengembalikan dana TKI ke kas negara.

"Bung tahulah, itu uang beta sudah pakai semua. Terpaksa berhutang lagi. Ini pelajaran berharga bagi kawan kawan anggota Dewan yang baru. Jangan mudah terbius uang," kata si bung yang tidak lagi terpilih meski dia sudah mati matian meyakinkan konstituen. Meski sudah menggelontorkan harta benda selama masa kampanye terpanjang dalam sejarah pemilu di Indonesia.

DPRD baru dengan mayoritas wajah baru, akankah lebih bermutu? Apakah mereka lebih fokus mengerjakan PR yang disuarakan sampai mulut berbusa-busa selama kampanye? Mohon maaf, beta tidak terlalu berharap kinerja mereka akan lebih baik. Dengan anggota yang beragam latar belakang, beta belum temukan alasan untuk yakin profil DPRD periode 2009-2014 akan lebih berkualitas dibandingkan pendahulu mereka.

Mayoritas wajah baru butuh waktu untuk tahu peringai dan perilaku. Menghadapi wajah baru biasanya tuan dan puan kikuk dan rikuh. Wajah baru niscaya menciptakan rimba persilatan baru. Rimba persilatan di gedung Dewan bakal makin seru, seram dan kejam. Perburuan rupiah mungkin kian mengerikan.

Mudah-mudahan saja tidak! Semoga rupiah tidak membius hingga tidur terlalu lama sambil mengorok lalu lupa mengerjakan PR yang ditinggalkan anggota Dewan lama. Juga PR baru yang akan hadir seiring kebutuhan masyarakat Flobamora.

Omong-omong soal mengorok, sudah lebih dari 200-an ekor sapi dan kerbau mati disikat penyakit ngorok di Nagekeo dan Ende utara. Kerugian rakyat peternak mencapai miliaran rupiah. Ini bencana besar!

Kok bisa ya? Kejadian begini terus berulang. Tak terlihat antisipasi dini agar ternak besar yang mati seminim mungkin. Kok bisa terjadi berkali-kali di saat ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat mestinya bisa mencegah penyakit primitif itu. Luar biasa tebal wajah kita ini yang tidak malu memelihara cara kerja primitif, cara kerja ala pemadam kebakaran. Mati dulu baru huru-hara. Jatuh korban dulu baru sibuk bukan main. Sekian lama kerja apa saja? Sekian lama mengapa ternak rakyat tidak divaksinkan? Infeksi dulu baru bergeliat. Payah!

Aihh, jangan-jangan kita memang suka tidur sambil ngorok hingga lupa buat PR bagi marhaen. Ngorok setelah kenyang menikmati rupiahkah? Ah, beta tak mau berburuk sangka. Beta mau kutip warisan Mbah Surip saja. Pilih rupiah enak to? Mantap to? Bisa lupa diri to? Hahaha...! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 24 Agustus 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes