Kremo Kepiting

WAKTU SMP dulu, saya tinggal di rumah Bapak Markus Turuk. Seorang PNS di lingkup Perwakilan Kecamatan Borong (Kini Kecamatan Kota Komba). Salah seorang anak Bapak Markus Turuk, Irenius Tersa, teman kelas saya di SMPK Wae Mokel. Kini Iren bekerja sebagai guru SD.

Alasan saya tinggal di rumah Bapak Markus Turuk, selain dekat sekolah, beliau adalah teman baik bapak saya. Keduanya sering menyapa dalam sapaan yang khas akrab "Mamo". Sapaan mamo karena bapak saya juga bernama Markus.

Bapak Markus Turuk mempunyai hobi mencipta lagu-lagu daerah. Di kala senggang diiringi gendang bapak Markus Turuk mendendangkan lagu-lagu ciptaannya. Beberapa lagu ciptaannya juga dinyanyikan saat misa inkulturasi di gereja.
Kehidupan keluarga Bapak Markus Turuk sungguh harmonis, penuh pengertian. Kemerdekaan anak-anak sungguh diperhatikan sehingga setiap anak sudah tahu tugas dan tanggung jawabnya. Dinamika kehidupan keluarga menjadi rutinitas yang mendidik. Anak-anak hidup dalam disiplin yang tinggi. Saya betah tinggal di rumah Bapak Markus Turuk. Kecuali ketika kelas III SMP oleh almarhum Pater Armien Mathier, SVD, kami wajib tinggal di asrama.

Hari pertama saya menjadi anggota tambahan keluarga Bapak Markus Turuk, kami makan bersama. Menu makanan terdiri dari nasi, sayur dan lauk. Lauk siang itu kepiting tumbuk. Untuk saya lauk ini unik dan menarik. Naluri ingin tahu pun mendorong saya bertanya kepada Iren, teman kelas saya ketika kami mulai tidur siang.

Kala itu Iren menceritakan, lauk kepiting tumbuk berasal dari kepiting hasil kremo di muara sungai Wae Lengga, sehari sebelum kedatangan saya. Dia menuturkan, setiap ada kesempatan ketika musim tiba, ibu-ibu sekitar kompleks camat dari Kala Pandu, Mabha Kou dan Padha Rambu pergi kremo kepiting, udang dan kalo mango di muara Wae Lengga atau Wae Mokel. Sungguh menjadi kebiasaan keluarga yang baik. Lauk kepiting menjadi alternatif ketika harga ikan mencekik leher. Atau ingin variasi lauk. Terkadang waktu kremo dapat kalo mango.

Jenis kepiting besar dengan tingkat gizi yang tinggi. Cara mendapat kepiting cukup muda, yang penting tahu perputaran musim. Juga muara sungai lagi surut dan tidak ada banjir. Muara sungai Wae Mokel, Wae Lengga menjadi langganan orang mencari kepiting. Tidak sulit mendapat kepiting. Kita tinggal membalikkan batu lalu kita pungut kepitingnya. Jika sudah cukup banyak pulang ke rumah. Kepiting hasil tangkapan bisa menjadi oleh-oleh bagi keluarga di luar Wae Lengga.
Cara mengolah kepiting cukup simpel dan sederhana. Tidak butuh banyak bumbu. Bisa direbus dengan kuah asam, goreng atau tumbuk. Khusus kepiting tumbuk, hasil tangkapan langsung ditumbuk. Sari kepiting dicampur bumbu dimasak dan disuguhkan.

Gurih kepiting tumbuk luar biasa. Lauk kepiting tumbuk menambah salera makan. Beda dengan kepiting rebus dan goreng karena kepiting rebus hanya berupa sari-sari kepiting.
Agnes DS, salah seorang tenaga bantu PPL (petugas penyuluh lapangan) Desa Watunggene, Kecamatan Kota Komba mengatakan, kepiting biasa ditangkap ketika musim tiba.

Kecenderungan ibu-ibu waktu kremo pungut kepiting betina. Kepiting betina mengandung telur dengan tingkat kelezatan yang khas. Sedangkan kepiting jantan biasa dilepas kembali. Namun jika jumlah perolehan sedikit dan populasi kepiting sudah berkurang, maka jantan atau betina sama saja dibawa ke rumah.

Kebiasaan tangkap kepiting sangat boleh jadi berasal dari warga penghuni sekitar muara Wae Mokel atau Wae Lengga yang biasa menangkap ikan atau udang secara kremo atau hand fishing. Kebiasaan itu menular kepada ibu-ibu di sekitar kompleks kantor camat. Kremo biasanya meninggalkan rasa penasaran luar biasa. Ada nilai rekreasi, inovasi dan kebersamaan.

Agnes menambahkan, lima tahun terakhir populasi kepiting menurun drastis. Sangat boleh jadi hal ini sebagai dampak dari penangkapan ikan atau udang dengan cara menggunakan obat.
Kremo berakhir ketika musim kepiting berakhir. Kepiting jantan akan mati setelah menunaikan fungsi kejantananya. Jika musim kepiting berakhir, lauk kepiting tumbuk pun hilang dari suguhan menu keluarga. (Kanis Lina Bana)

Pos Kupang edisi Sabtu, 8 Agustus 2009 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes