Berburu Tokek

SIANG itu akhir Juli 2009. Di Naimata. Tempat yang masih dianggap kampung dalam wilayah Kota Kupang. Saya duduk santai di halaman rumah seorang tetua. Coba lepas dari rutinitas yang menjenuhkan sambil bersosialisasi.

Duduk di bangku kayu yang ditanam mati. Dikelilingi hamparan pekarangan/kebun gersang berdebu. Namun perasaan tetap teduh di bawah rimbunan ratusan pohon lontar. Kekayaan Naimata.

Saya tidak perlu menyebut nama tetua itu. Yang jelas dia warga asli. Atoin Meto. Saya begitu kagum dengan aktivitas hariannya. Aktivitas yang oleh banyak orang mungkin tidak diperhitungkan. Naik-turun pohon lontar, mengiris nira (tuak/laru). Delapan sampai sepuluh bambu setiap pagi dan sore. Dari penjualan nira, dia bisa menafkahi keluarga. Bahkan bisa membiayai pendidikan anak-anaknya.

"Tapi, beberapa hari ini, saya tidak iris. Saudara saya yang bantu iris. Saya sakit. Katanya asma (asthma bronchiade, pen), dada sakit, napas sesak," tutur tetua itu dengan nada getir. Penyakit ini sulit sembuh total. Kapan saja dia bisa kambuh kembali.

Lalu dia bercerita bahwa dia disuruh makan tokek. Tidak gampang baginya makan daging tokek. Selain tidak biasa, dia merasa ngeri dengan tampang tokek. Mulut lebar, kulit kasar, kaki dan tangannya melengket. Hi...


Saya pun tertegun. Prihatin dengan penyakit si tetua. Tapi, saya meyakinkannya bahwa penyakit itu bisa sembuh. Saya juga meyakinkannya bahwa daging tokek itu tidak sengeri tampangnya. Enak, apalagi dia berkhasiat untuk menyembuhkan asma.

Saya lalu teringat dan menceritakan bagaimana saya dan teman- teman SD berburu daging tokek di kampungku Cumpe, di Manggarai. Sebagaimana kebanyakan anak-anak di kampungku pada masa itu, saya pergi sekolah di SDK Golo. Dalam bahasa Manggarai, golo berarti bukit. Tetapi, sekolahku itu terletak di lembah, dikelilingi lereng-lereng. Saya tidak tahu kenapa namanya justru kebalikan dari kondisi alamnya.

Pada saat ke sekolah, kami bisa berlari-lari menuruni lereng sekitar dua kilometer. Tetapi, waktu kembali dari sekolah, sungguh melelahkan. Kami harus mendaki lereng. Kami selalu melukiskannya seperti naik ke surga, penuh perjuangan.

Untung saja di sekitar jalan itu, terdapat kebun-kebun milik warga dari kampungku. Kebun milik orangtuaku juga. Ada sawah yang ditanami jagung di awal musim hujan, dilanjutkan dengan tanam padi. Ada juga ladang yang ditanami ubi kayu, ubi jalar, keladi, sayur-mayur, pisang, jeruk, satu dua pohon kelapa dan masih banyak lagi.

Di kebun-kebun itu terdapat banyak sekali batu besar. Bukan batu karang. Melalui proses alam selama bertahun-tahun, batu- batu itu banyak yang pecah atau sekadar retak membentuk celah-celah. Membahayakan kalau sesewaktu rubuh dan terguling. Tetapi, celah atau lubang pada batu-batu itu justru nyaman bagi berbagai jenis binatang liar, seperti tikus, bengkarung, cecak, ular dan tokek. Di dalam batu-batu itu mereka hidup dan bersembunyi dari buruan manusia.

Sebelum sampai kembali di rumah, kami menyinggahi kebun- kebun itu. Kalau lagi musim kebun, kami membantu orangtua menyiangi rumput di sawah atau ladang. Tetapi, kalau belum musim, seperti saat ini, kami biasanya bergerombol, menyelinap di kebun-kebun warga. Persis seperti Si Bolang (Bocah Petualang) di Trans7. Apa pun yang kami jumpai dan pantas dimakan, kami makan saja, meskipun di kebun milik orang.

Kalau kami lihat pisang masak, kami potong saja lalu makan. Ada semacam etika yang kami anut waktu itu, bahwa mengambil barang orang lain karena desakan lapar, tidak berdosa. Asalkan makan di tempat, tidak boleh dibawa pulang ke rumah. Mungkin tuannya akan marah, tapi Tuhan tidak. Itu kami yakin betul.

Maksud utama kami menyelinap di kebun-kebun itu adalah berburu binatang liar, tokek, yang tinggal di celah atau lubang batu. Begitulah kami di pedalaman. Beda dengan orang-orang di pantai. Kami memburu tokek untuk makan dagingnya.

Kami jalan dari batu ke batu, mengintip di celah-celah. Kalau celah batunya terang atau samar-samar, kami bisa melihat tokeknya menempel di dinding batu. Ada yang seluruh badannya kelihatan, tapi ada yang hanya kelihatan sorotan matanya. Putih.

Tapi, kalau celah batunya gelap, kami harus memasukkan kayu ke dalam lalu mengorek-ngorek dinding batu supaya tokeknya keluar, kalau ada tokek.

Menangkap tokek tidak gampang. Dia kepala batu, tidak gampang beranjak. Tangan dan kakinya melengket di dinding batu. Untuk menangkapnya kami menggunakan tali jerat. Tali diikat melingkar di ujung kayu panjang. Tali yang lainnya memanjang mengikuti batang kayu. Kayu dan tali itu dikendalikan dari ujungnya di luar celah batu. Hati-hati sekali, jangan sampai kayu dan tali dilihat si tokek. Dia bisa lari, masuk ke celah batu yang lebih dalam lagi.

Kalau leher tokek berhasil masuk ke dalam lingkaran tali, kayu didorong supaya lingkaran tali mengecil dan mencekik leher tokek. Kalau tali dipastikan sudah menjerat leher tokek, kayu dilepas dari dari tali. Sambil menarik tali keluar, ujung kayu digunakan untuk mendongkel badan tokek, melepaskan kaki- kakinya yang melengket di dinding batu. Kalau sudah di luar, ujung kayu secepatnya menekan leher tokek. Kawan lainnya langsung mencekik lehernya, menangkap dan mematikannya.
Kami bisa menangkap sampai beberapa ekor tokek. Tapi bisa juga gagal sama sekali. Hari berikutnya kami mencoba lagi.

Tokek yang sudah kami tangkap selanjutnya dibelah mulai dari mulut terus ke perut sampai anusnya. Tidak hanya ususnya dibuang, zat warna putih menyerupai kapur di kepalanya pun dibersihkan. Selanjutnya dipanggang sampai matang. Dagingnya dipotong-potong sampai semua kebagian. Kalau ada ubi, dagingnya dimakan menemani ubi. Tapi kalau tidak, dimakan kosong saja. Enak to.

Waktu itu kami makan daging tokek sebatas daging. Kami belum tahu kalau tokek itu bisa menyembuhkan asma. Tapi, boleh jadi karena makan tokek itu, maka belum ada di antara kami yang divonis sakt asma.

Tetua di Naimata itu terheran-heran mendengar cerita saya. "Ya, katanya memang enak. Saya harus makan," kata si tetua. Semoga asma-nya segera sembuh. (Agus Sape)

Pos Kupang edisi Sabtu, 29 Agustus 2009 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes