Yth

Si miskin itu tak punya apa-apa.
Modalnya dua ribu rupiah


PEKAN yang baru lewat beta kembali mendengar suara berulang di beranda Flobamora. Pekan yang baru lewat beta juga terkenang nama Yth. Nama-nama yang indah, unik dan sarat makna. Nama mengagumkan sekaligus menyayat hati.
Suara-suara itu, suara yang terdengar kesekian kalinya. Nada dasarnya sama. Irama sama. Syairnya pun masih yang itu-itu juga.

Begitulah tuan dan puan. Izinkan beta menyuarakan suara-suara berulang itu. Mungkin membosankan dan terasa menjengkelkan tetapi lebih baik bersuara ketimbang diam berpangku tangan.


Di sebuah gedung megah masih terdengar lirih suara paramedis. Suara gundah- gulana menghadapi dilema. Menolak pasien? Menyandera mereka yang tak sanggup bayar? Ataukah memulangkan begitu saja setelah mereka sembuh dengan risiko rumah sakit tidak mendapatkan pemasukan apa-apa?

Menghadapi sang papa yang tak terjamah negara, seorang perawat senantiasa serba salah. Bagaikan makan buah simalakama. Sudah banyak kisah nyata seperti itu dan kisah itu terulang lagi untuk kesekian kalinya.

Pasien miskin tak pegang kartu Jamkesmas datang dengan wajah iba memelas. Sesuai ketentuan mestinya sang perawat menolak pasien tanpa kartu jaminan negara. Tapi nuraninya berontak. Dia tak sanggup berkata tidak. Kalau ditolak, orang miskin papa yang sedang sekarat itu berpeluang kehilangan nyawa.

Dia mengabaikan syarat administratif. Mengangkangi aturan. Buru-buru si sakit dilayani dengan baik. Dimasukkan ke ruang rawat inap kelas III. Sepekan lewat pasien papa itu sembuh dari sakitnya. Sang perawat tersenyum ceria. Satu lagi sesama manusia yang bisa ditolongnya. Puji Tuhan!

Namun, apa daya keceriaan tersebut berlangsung tak lama. Pasien miskin ini tak diizinkan pulang oleh yang berwenang. Dia bisa pulang ke rumah apabila telah membayar seluruh biaya rumah sakit selama sepekan. Si sakit lalu diberi kesempatan mencari sanak famili, kerabat atau kenalan yang sudi membantu. Sepekan lewat tak ada tanda-tanda bantuan datang.

Si miskin itu masih menghuni ruangan kelas III. Dia diberi waktu seminggu lagi. Lagi-lagi mengalami kenyataan yang sama. Tiga pekan "tersandera" di ruangan berdinding putih. Bukan karena sakit tetapi semata karena tak sanggup membayar.
Apa mungkin si miskin dipaksa membayar biaya sedemikian besar? Perawat itu bergumam sendiri. Dia kemudian bertindak nekat. Pasien itu diizinkan pulang tanpa membayar sepeser pun.

Si miskin itu memang tidak punya apa-apa. Uang di dalam dompetnya yang lusuh cuma dua ribu rupiah. Oh Tuhan, bagaimana mungkin dia bisa pulang ke rumah yang berjarak lebih dari 40 km dengan modal senilai itu? Perawat itu urunan bersama sejawatnya. Ada juga dokter yang membantu. Mereka memberi modal pulang uang sebesar Rp 100 ribu. Si miskin tersenyum riang. Berulang-ulang kata terima kasih meluncur dari mulutnya.

Masalah si miskin tuntas. Tapi tidak bagi si perawat. Hari-hari ini hatinya galau. Dia paham risiko yang harus diterima karena melanggar ketentuan. Dia mesti siap dimarahi atasan. Bahkan risiko yang lebih buruk dari itu.

Begitulah tuan dan puan suara berulang yang beta rekam. Suara riuh rendah di beranda rumah Flobamora yang cuma sedikit orang mau mendengar, peduli dan berani bertindak. Gampang nian pemimpin kita cakapkan pemerintahan pro rakyat. Biaya sebesar-besarnya untuk rakyat. Ketimpangan di depan mata dibiarkan berjingkrak-jingkrak. Yang kerja setengah hati, yang suka jalan-jalan dipelihara! Yang susah payah bahkan makan buah simalakama tak dilirik dan dijamah.

Di saat-saat seperti ini beta teringat Yth. Teringat teman, sahabat, saudara, keluarga yang mendapat sapaan Yang Terhormat. Mereka yang segera mendapatkan cincin kenangan. Cincin emas-berlian tanda ucapan terima kasih atas pengabdian yang luar biasa selama lima tahun memperjuangkan aspirasi rakyat Flobamora. Mereka yang selalu disapa Yth meski rumah dinas untuk mereka yang dibangun dengan uang dari pajak rakyat dibiarkan tanpa penghuni. Bahkan yang menghuni justru kambing- kambing. Begitulah tuan dan puan, suara yang berulang! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 22 Juni 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes