Aimitak, Malam Gelap Siang Gersang

NAMANYA kampung Aimitak. Letaknya di pinggiran Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Tepatnya di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. Daerah ini gersang seperti Kota Maumere, tapi jauh dari kebisingan kendaraan. 

Aimitak butuh sentuhan. Warga di kampung itu masih hidup dalam suasana gotong-royong dan kekeluargaan. Kesederhanaan dan pola hidup tradisional membuat warga kampung ini harus berjuang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Kawasan Aimitak terhitung mulai dari Km 5 trans Pantai Utara (Pantura) Flores. Namun, kampung Aimitak berjarak sekitar 10 km dari Kota Maumere. 

Pada tanggal 15 Mei 2009 saya diundang meliput serah terima jabatan lurah di Kantor Kelurahan Wailiti. Di kantor itu saya bertemu Lurah Wailiti, Petrus Piter. Petrus memperkenalkan pada saya tiga warga kampung Aimitak. Namanya Stefanus Sadipun, Yuvensius Siku dan Yustus Nong. 

Di Aimitak Sadipun sebagai Ketua RW 05, Siku sebagai Ketua RT 15 dan Nong sebagai Ketua RT 19. Ketiganya merupakan aparatur pemerintahan di Aimitak.

Di depan Lurah Wailiti, Stefanus Sadipun berkisah tentang air bersih yang membuat mereka tertinggal dan kurang diperhatikan. Namun, perjuangan mereka mendapatkan air bersih akhirnya berhasil. Pada tahun 2008 lalu, mereka mendapat bantuan air bersih dari Dinas PU Kabupaten Sikka. Air ini telah masuk ke perkampungan. 

Namun, ada satu hal yang masih akan terus mereka perjuangkan yakni listrik. Stefanus dan warga Aimitak lainnya pada malam hari masih hidup dalam kegelapan. Mereka tak bisa berbuat banyak. Pulang kerja bermodal lampu pelita menerangi malam. Menjelang terbitnya matahari mereka menatap kegersangan alam di Aimitak. 

Bukan Stefanus saja yang berkisah tentang listrik. Yuvensius Siku dan Yustus Nong pun berkisah tentang hal yang sama. Mereka hanya butuh listrik agar kampung mereka menjadi terang. 

Aimitak berpenduduk 68 KK dan ratusan jiwa. Siapa yang bersedia membantu warga Aimitak. Kampung yang berada di samping dan di depan mata kemegahan dan gemerlapnya Kota Maumere yang telah dinamis dengan kehidupan dunia malamnya.

Lurah Wailiti pun berkisah tidak jauh beda dengan tiga warga Kampung Aimitak. Lurah malah berkisah bahwa kini Aimitak telah banyak berubah. Tapi penerangan di rumah penduduk belum ada. 

Aimitak hendaknya tidak dilupakan. Mereka butuh penerangan dan ketenangan pada malam hari. Biarlah kegersangan di siang hari bisa terobati dengan penerangan listrik. (Aris Ninu)

Pos Kupang edisi Sabtu, 30 Mei 2009 halaman 10
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes