Energi


SECUIL kerepotan menghampiri beta dan bung Wilson Therik, moderator Forum Academia NTT (FAN) pada sepenggal waktu di pekan silam. Ternyata tidak enteng mengajak kawan-kawan wakil rakyat menjadi narasumber diskusi (informal) tentang kemandirian energi di beranda Nusa Tenggara Timur.

Total ada lima anggota Dewan yang kami hubungi dan mereka semua dengan sangat menyesal tak dapat memenuhi undangan FAN guna memberi pencerahan dari sudut pandang wakil rakyat. Dua di antaranya sempat mengatakan siap hadir namun pada detik-detik akhir mengonfirmasikan tak bisa datang.


Tuan dan puan sebaiknya tidak berburuk sangka dulu! Buang jauh vonis prematur bahwa ketidakhadiran wakil rakyat itu karena diskusi yang digagas FAN berlangsung pada masa akhir pengabdian sehingga mereka cuek bebek alias ogah. Akhir masa pengabdian memang tak sepenuhnya indah. Ada sebagian kolega mulai menghitung hari menuju akhir "kehormatan" sebagai pejabat negara.

Alasan sesungguhnya demikian. Para sahabat anggota Dewan tidak bisa hadir karena umumnya mereka tidak berada di Kupang. Ada yang sedang di Jakarta dan ada yang di kampung halaman. Ada pula yang jujur mengaku mendadak diminta pimpinan partai menyukseskan kampanye pilpres.

Beta mengenal betul komitmen para kolega itu sebagai wakil rakyat. Mereka tidak sedang "mengkadali" beta, bung Wilson serta para anggota FAN yang sudah mentradisikan diskusi bulanan tentang berbagai masalah sosial Flobamora.

Bukan cuma wakil rakyat yang diundang FAN. Diskusi energi di akhir pekan lalu menyisakan kisah unik. Narasumber dari universitas ternama Flobamora tidak bisa hadir gara-gara salah disposisi. Surat permintaan FAN untuk diskusi kemandirian energi disposisinya ditujukan kepada ahli komputer. Ketika kekeliruan itu terkuak, waktu tak lagi cukup bagi ahli energi menyiapkan bekal diskusi.

Insiden ini menjelaskan tentang cara membaca surat. Kerapkali kita cuma baca judul dan aliena pertama. Lupa menyingkap isi pesan terdalam. Bagi FAN tak ada masalah. Manusia toh bisa keliru dan salah.

Diskusi hari Sabtu itu tetap bergulir meskipun cuma dua dari enam narasumber yang hadir. Disamping DPRD dan pakar energi, narasumber lain yang juga tidak hadir adalah pihak berwenang mengelola energi serta wakil masyarakat.

Energi memang bukan isu yang seksi hingga selalu rindu menarik ingin. Salah FAN sendiri, mengapa bukan diskusi tentang calon presiden yang sedang hot? Kalau pilih topik politik, niscaya banyak yang datang berbondong-bondong. Tak diundang pun minta ikut. Bukankah politik lebih seksi, cenderung lebih memikat hati?

Tapi diskusi di luar prediksi kami. Dua panelis yang kompeten di bidangnya sungguh menghidupkan jalannya diskusi. Waktu dua setengah jam tak terasa berlalu. Kalau tidak dibatasi bung Winston N Rondo selaku moderator, barangkali diskusi berlanjut hingga agak larut karena peserta sungguh penasaran dengan krisis energi di propinsi banyak pulau ini.

Bayangkan tuan dan puan, rekan-rekan jurnalis yang meliput diskusi itu tak beringsut seinci pun dari tempat duduk. Padahal wartawan lazimnya tidak betah duduk berlama-lama mendengar ocehan. Kalau tidak menarik dan tidak penting, mana mungkin mereka mau bertahan dan terlibat aktif dalam diskusi?

Salah satu fakta menarik yang tersingkap adalah energi di beranda Flobamora ini belum dipandang sebagai kebutuhan harian rakyat meski mereka tiada henti meringis soal listrik mati kaget dan minyak tanah (selalu) langka. Energi yang dibutuhkan setiap detik itu belum diposisikan sama dengan makanan pokok semisal jagung katemak, jagung titi, ubi kayu, gula air, nasi, air bersih dan lainnya.

Mengingat energi bukan sembako rakyat NTT, masuk akal bila pemda yang telah sewindu menjalankan otonomi daerah belum menjadikan energi sebagai kebijakan prioritas. Energi sekadar pilihan, bukan kebijakan wajib. Namanya juga pilihan,bisa ya bisa tidak. Tergantung kebaikan hati pengatur rumah tangga daerah. Tak apa- apa. Kue buat bangun energi pun seadanya saja. Dibandingkan nilai uang triliunan rupiah yang masuk ke NTT saban tahun, jatah bagi energi membuat beta urut dada. Sebagus apapun rencana mengembangkan energi terbarukan seperti PLTS, PLTA, Panas Bumi, Tenaga Mikrohidro dan lain-lain, tetapi dengan komitmen anggaran sekecil itu, perubahan apa yang diharapkan? Cuma mimpi perubahan!

Energi memang tidak semata soal listrik. Cakupan energi itu luas. Tapi izinkan beta kembali menunjuk data elektrifikasi sekadar memberi gambaran wajah 4,4 juta rakyat Flobamora. Dari total 2.836 desa/kelurahan di NTT sebanyak 1.351 atau 47,64 persen belum berlistrik. Dari jumlah rumah tangga sebanyak 914.521 KK, yang sudah berlistrik baru sebanyak 209.688 KK atau rasio elektrifikasi Flobamora baru 22,92 persen. Bisa juga diformulasikan begini: Baru sekitar 1 juta rakyat NTT yang menikmati listrik. Sisanya 3,4 juta jiwa hidup dalam kegelapan. Bagaimana menjelaskan "malapetaka" ini dalam terang NTT hampir berusia 51 tahun dan NKRI segera genap 64 tahun? Apakah NTT telah merdeka?

Keterlaluan kalau Sadar Energi tidak dipompa lewat terobosan konkret! Keterlaluan bila tuan masih menganut pola lama. Terus saja berharap perusahaan listrik negara merambah sampai pelosok Flobamora. Kita sudah lelah menanti!

Membangun Kemandirian Energi mesti dimulai. Potensi energi terbarukan di NTT dashyat. Berlimpah ruah, tak bakal habis disedot berabad-abad. Potensi yang bikin dunia terpesona seperti kekaguman Walikota Tynaarlo-Belanda yang baru saja pamit dari Kupang. Pekerjaan siapa? Beta tidak setuju frase tanggung jawab bersama. Frase itu telah melahirkan kawanan "pelari" berbakat lari dari tanggung jawab. Kita butuh yang berani bertanggung jawab. Siapa? (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 29 Juni 2009 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes