Wai Penerun, Muko Take, Tapo Di Take

HALIMAH, perempuan setengah umur itu tiba-tiba keluar dari gubuknya yang terletak di tepi pantai Menanga, ibu kota Kecamatan Solor Timur. Rumah itu berukuran 6 x 5 meter, atapnya terbuat dari daun enau, dan dindingnya dari bambu.

Rumah yang tampak sudah tua itu berlantai tanah. Kedua anak Halimah sedang bermain di dalam rumah tersebut. Kedua anak itu tampak sangat dekil karena belum mandi. Lantai tanah rumah itu juga sangat kering, tandus.

Ketika saya bertandang ke rumah itu, Kamis (11/6/2009), Halimah pun mengeluh. Menurut dia, sejak dulu kala mereka kesulitan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada air, itu air sumur yang umumnya asin. Ada satu dua sumur yang airnya berasa sepat, digunakan untuk minum. Sedangkan air yang rasanya asin digunakan untuk mencuci dan mandi.

"Sejak dulu kala kami seperti ini, selalu kesulitan air. Air masalah utama bagi kami. Tapi, kepada siapa kami mengadu. Orang selalu bilang, kalau pilih tinggal di kampung risikonya
seperti ini. Karena itu, kami menerima ini sebagai kodrat kami," keluh Halimah sedih.

Apa yang disampaikan Halimah bukan hanya dirasakan oleh Halimah yang sehari-hari bekerja sebagai penambak garam tradisional di wilayah itu. Masalah air adalah masalah
masyarakat Pulau Solor umumnya. Bahkan orang mengidentikkan gadis-gadis di Pulau Solor dengan gigi kuning. Bukan karena mereka malas sikat gigi atau ditambal dengan emas, melainkan karena minum air asin itu.

Tidak ada sumur bor bantuan pemerintah di wilayah itu, apalagi air leding seperti masyarakat lain di Kabupaten Flores Timur (Flotim). Padahal, kalau pemerintah mempunyai perhatian, masyarakat bisa dibantu dengan membangun sumur bor. Air dari sumur bor itu kiranya bisa dialirkan untuk masyarakat agar bisa menanam sayur-sayuran dan makanan lain di wilayah itu.
Sulitnya mendapatkan air inilah yang membuat warga di Menanga dan masyarakat Solor umumnya sangat kekurangan sayur-sayuran. Bahkan orang mengidentikkan tanah Solor dengan wai penerun (air asin), muko take (tidak ada pisang), tapo di take (kelapa juga tidak ada). Kondisi ini pulalah yang membuat orang enggan ke Pulau Solor.

Julukan ini pun diakui Halimah. Menurut dia, untuk mendapatkan sayur-sayuran, warga harus mendatangkannya dari Waiwerang atau Larantuka dan sekitarnya.

"Kalau kita beli di Menanga, sayurnya mahal karena sayur itu berasal dari luar daerah. Kadang kami tidak bisa beli karena terlalu mahal," kata Halimah. (Syarifah Sifah)

Pos Kupang edisi Sabtu, 13 Juni 2009 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes