Pria Stres Bantai Satu Keluarga

KEFAMENANU, PK -- Petrus Mendoza (32), seorang pria yang diduga stres membantai satu keluarga yang tinggal di depan rumahnya hingga dua orang tewas di tempat dan tiga orang lainnya sekarat, Kamis (11/6/2009) malam. Mendoza juga tewas malam itu juga akibat dihakimi massa yang marah.

Pembunuhan sadis ini terjadi di Desa Bakitolas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (11/6/2009) malam.

Dua orang yang tewas, yaitu Ny. Apolonia Nono (26) dan Ny. Magdalena Ato (52). Tiga lainnya yang sekarat dan dilarikan ke RSUD Kefamenanu untuk dirawat, yakni Ariyanto Tane (4), Ribal Tane (2), keduanya anak kandung Ny. Apolonia Nono, ditambah Ariyanti Nono (18), anak gadis dari Ny. Magdalena Ato yang adalah sepupu kandung Ny. Apolonia Nono. Seorang bayi laki-laki usia satu bulan, anak bungsu Ny. Apolonia, selamat kendati mata kirinya tampak memar dan membengkak.

Korban tewas dan sekarat akibat dihajar pakai besi gali (linggis, Red) dan dibacok dengan parang. Pelaku dan korban memiliki hubungan keluarga dekat karena istri pelaku, Ny. Dominggas Nono adalah sepupu kandung para korban dan tinggal bersebelahan rumah.

"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Ini baru pertama terjadi di kampung ini. Pelaku dan korban masih keluarga dekat," kata Kepala Desa Bakitolas, Lukas Eli, salah satu saksi mata peristiwa sadis itu, ketika ditemui di rumah duka, sekitar 45 kilometer arah utara Kefamenanu, Sabtu (13/6/2009) siang.

Atas izin keluarga korban, Eli menuturkan kronologi peristiwa itu kepada para wartawan. Hari Kamis (11/6/2009), istri pelaku, Ny. Dominggas Nono bersama mertua laki-lakinya, Sixtus Mendoza pergi ke Noemuti untuk menghadiri ritus adat keluarga besar Mendoza. Di rumah, tinggal pelaku dan seorang anaknya. Pagi itu, pelaku mengasah parangnya. Ipar dan para korban tidak manaruh curigai sedikit pun.

Malam sekitar pukul 21.00 Wita, pelaku mendatangi rumah Ny. Apolonia Nono, salah satu saudara iparnya. Letak rumah pelaku dengan rumah korban sekitar 15 meter, dipisahkan jalan raya. Saat itu suami Ny. Apolonia Nono, yaitu Gregorius Tane, tidak berada di rumah karena sedang menghadiri kenduri di rumah tetangganya, sekitar 500 meter dari rumahnya. Di rumah itu hanya ada Ny. Apolonia Nono dan tiga orang anak laki-lakinya, Ariyanto Tane (4), Ribal Tane (2) dan bayi laki-laki berusia satu bulan, yang belum sempat diberi nama. Turut menemani, Ny. Agnes Benu, ibu kandung Ny. Apolonia Nono. Hadir juga, Ariyanti Nono (18), sepupu kandung Ny. Aplonia Nono.

Ketika sampai di rumah korban Ny. Apolonia Nono, muncul Ny. Agnes dari rumah induk dan mempersilahkan pelaku masuk. Bahkan pelaku ditawarin makan malam bersama, namun dia menolak dengan alasan sudah kenyang. Lalu pelaku masuk ke ume bubu (rumah bulat berbentuk sarang lebah, yang dijadikan dapur, Red). Di dapur, ada Ny. Apolonia bersama tiga orang anaknya yang sedang tidur di sebuah balai-balai bambu.

Sedangkan Ny . Apolonia dan sepupunya, Nona Ariyanti, sedang berdiang di dekat tungku api karena merasa kedinginan. Pelaku pun duduk bergabung untuk berdiang dekat tungku api. Ruangan dapur tampak remang karena cuma diterangi cahaya lampu teplok dan cahaya api dari tungku.

Melihat pelaku membawa parang dan bertingkah mencurigakan, Ny. Agnes bergegas ke rumah Magdalena Nono, sekitar 10 meter dari rumah pelaku, untuk memberitahukan hal itu. Ny. Magdalena Nono pun bergegas ke rumah Apolonia lalu masuk ke dapur. Sedangkan Ny. Agnes masuk ke dalam rumah induk, mengambil sirih dan pinang untuk disuguhkan kepada pelaku.

Ketika Ny. Agnes balik ke dapur, ia sangat terkejut karena pintu dapur ditutup oleh pelaku dari dalam dan lampu teplok sudah padam. Sempat terdengar suara protes dari para korban dalam dapur, namun tidak dihiraukan pelaku. Bahkan protes para korban dijawab dengan ayunan parang dan hantaman linggis ke tubuh dan kepala para korban. Suasana dalam dapur pun berubah jadi gaduh dan menjadi tempat pembantaian berdarah. Rintihan dan teriakan minta tolong selama beberapa menit akhirnya lenyap, karena korban telah jatuh bersimbah darah lalu tewas dan yang lainnya sekarat.

Ny. Agnes berlari ke rumah Kades Bakitolas, Lukas Eli, meminta pertolongan. Eli dibantu beberapa pria bergegas ke TKP dan membujuk pelaku agar keluar dari dapur. Tapi pelaku tidak menghiraukan permintaan itu. Eli pun bergegas ke pos polisi yang berjarak sekitar enam kilometer untuk melapordan meminta bantuan polisi.

Ketika Eli pergi, beberapa pria membongkar paksa atap dapur yang terbuat dari alang-alang. Suami Ny. Apolonia, Gregorius Tane, yang sudah tiba di rumahnya mendobrak pintu dapur yang terkunci rapat. Pelaku dibekuk dan dihakimi massa hingga tewas di tempat.

Disaksikan Pos Kupang, jenazah Ny. Apolonia dan Ny. Magdalena telah dibaringkan dalam peti jenazah. Namun peti jenazah tidak dimasukkan dalam rumah tetapi diletakkan di halaman depan rumah, di bawah tenda terpal. Itu mengikuti tradisi orang Timor, yakni anggota keluarga yang meninggal dunia tak wajar tidak boleh dibawa masuk dalam rumah. Para pelayat dan anggota keluarga menangisi kedua korban.

Di sebelah timur, sekitar lima meter dari tenda duka, beberapa pria sedang menggali liang lahat dalam jarak berdekatan. Seorang ibu berdiri di bawah tenda dan menyusui seorang bayi laki-laki dengan botol susu. Bayi laki-laki itu adalah anak bungsu Ny. Apolonia yang selamat dari amukan pelaku. Mata kirinya terlihat bengkak dan membiru.

Gregorius Tane, yang ditemui terpisah di RSUD Kefamenanu, kemarin siang, belum bisa menjelaskan peristiwa sadis itu. Dia tampak trauma dan murung. Ia menggendong anak laki-laki kedua, Ribal Tane (2 tahun), yang sudah siuman dari pingsannya. Di tempat tidur satunya, anak laki-laki pertama, Ariyanto Tane (4 tahun), belum sadarkan diri. Kepalanya berbalut perban dan wajahnya membengkak. Di tempat tidur lainnya, Nona Ariyanti Nono (18), juga terbaring belum sadarkan diri. Kepalanya dibalut perban tebal dan wajahnya membengkak. (ade)

Pos Kupang edisi Minggu, 14 Juni 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes