"Revolusi" Turunkan Angka KIA di NTT

KUPANG, PK--Dinas Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan program Revolusi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Program ini dioperasionalkan melalui cara-cara yang luar biasa dengan misi agar indikator angka kematian di NTT tahun 2009-2013 sama dengan angka kematian secara nasional atau satu digit di bawahnya.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr. Stef Bria Seran, ketika memaparkan materi pada forum diskusi terbatas bertajuk Revolusi KIA: Selamatkan Ibu dan Anak, di Kantor Redaksi Harian Umum Pos Kupang, Sabtu (13/6/2009).

Diskusi yang dimoderatori Benny Dasman dihadiri Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho, Pemimpin Redaksi, Dion DB Putra, para redaktur pelaksana, redaktur, dan para manajer. Sementara dari Dinkes NTT hadir sejumlah dokter dan pejabat di dinas itu.

Stef Bria menjelaskan, berdasarkan dana Susenas 2004 di NTT, dari 100 ribu kelahiran hidup, terdapat 554 ibu yang meninggal dunia. Data ini melebihi data rata-rata secara nasional 307/100 ribu kelahiran hidup.

"Dengan berbagai upaya, angka kematian ibu ini sudah diturunkan, namun karena jumlahnya masih di atas rata-rata nasional. Angka itu memang tidak berbicara, namun kalau dibaca 554 orang ibu yang meninggal, pasti menyentuh perasaan kita semua. Karenanya program Revolusi KIA ini diluncurkan," ujarnya.

Salah satu bentuk Revolusi KIA, kata Stef Bria, semua ibu harus melahirkan anaknya pada fasilitas kesehatan yang memadai agar mendapat pertolongan memadai oleh tenaga terlatih. Hal ini penting karena penyebab kematian ibu yang terbesar adalah akibat pendarahan karena melahirkan di rumah. "Jadi, strateginya bertindak cepat dengan cara yang luar biasa," tegasnya.

Stef Bria menyebutkan, dalam Revolusi KIA ada enam elemen. Pertama, orang yang menolong harus memadai. Kedua, peralatan kesehatan harus sesuai standar. Ketiga, obat dan bahan yang dibutuhkan. Keempat, bangunan yang sesuai dengan standar dan fungsi. Kelima, sistem pelayanan yang bagus. Keenam, anggaran yang memadai pula.
Untuk mendukung Revolusi KIA, demikian Stef Bria, minimal di setiap desa di NTT harus memiliki pustu dengan ruang perawatan yang memadai dan tempat tinggal petugas kesehatan (bidan, dokter) agar mereka tidak selalu meninggalkan tugas. Selain itu, lanjutnya, pada tahun 2010, semua puskesmas di NTT harus ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas rawat inap.

Jika NTT mau menurunkan tingkat kematian ibu dan anak, kata Stef Bria, harus ada mimpi dan untuk mewujudkan mimpi itu perlu langkah-langkah operasional yang terukur. Dia menyebut langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain pengorganisasian dengan perencanaan yang baik, pun pelaksanaan dilakukan dengan baik pula.

Selain itu, kata Stef Bria, pemantauan dan evaluasi harus dilakukan secara kontinyu. "Jika tidak berhasil harus dibilang tidak berhasil, sehingga bisa dicari di mana kelemahannya. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi harus dilakukan dengan baik," ujarnya.

Dikatakannya, evaluasi harus dilakukan secara obyektif, berkala dan transparan serta dilaksanakan secara berjenjang, terjadwal dan berkesinambungan mulai dari propinsi, kabupaten hingga puskesmas dan pustu atau pos kesehatan desa (poskesdes).

Perihal anak NTT dan status gizi, Stef Bria mengatakan, status gizi balita di NTT jumlahnya 504.900 orang, dengan rincian yang normal 496.350 orang, dan gizi bermasalah sebanyak 55.550 orang. Dari gizi yang bermasalah itu, yang gizi kurang 48.436 orang, gizi kurang tanpa kelainan klinis 7.065 orang dan gizi buruk dengan kelainan klinis 49 orang dan yang meninggal tujuh orang.

Masalah kesehatan, kata Stef Bria, bukan hanya tanggung jawab dinas kesehatan saja, tetapi ada banyak komponen terkait karena itu butuh dukungan dari berbagai pihak, misalnya dari DPRD ada perda dan juga fungsi penganggaran, dari gubernur dan lintas sektor lainnya.

"Kalau di daerah tidak ada jembatan atau jalan raya berlubang-lubang, ibu hamil lewat bisa meninggal dunia. Jadi, jangan salahkan orang kesehatan, kenapa orang itu meninggal. Jajaran kesehatan ibarat penjaga gawang. Yang mencetak gol di depan bukan kami," ujarnya.

Stef Bria mengharapkan dukungan dari masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan dukungan dari media massa. Dalam rangka Revolusi KIA ini, fasilitas kesehatan seperti pustu juga akan dibuat tempat tinggal bagi bidannya, seperti pustu bangunannya harus 80 meter persegi di mana untuk tempat tinggal bidan seluas 50 meter persegi dan sisanya untuk pelayanan. Setiap puskesmas juga akan dibuat sebagai puskesmas rawat inap dengan minimum tempat tidur sebanyak 10 unit.

Sementara Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho, mengatakan, peranan media sangat penting dalam menyosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. (ira/yel)

Fasilitas Kesehatan di NTT
----------------------------
* Puskemas : 326 unit
* Pustu : 890 unit
* Pusling : 336 unit
* Rumah sakit : 16 unit
* RS propinsi : 1 unit
* RS angkatan : 4 unit
* RS swasta : 12 unit
----------------------------
Total rumah sakit : 33 unit.
Rumah sakit khusus, yakni RS Kusta di Lewoleba (Lembata) dan Naob (TTU).

Pos Kupang edisi Minggu, 14 Juni 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes