Pong


SPIDERMAN tua beraksi di Senayan. Dia gesit merayap tanpa sepengetahuan petugas keamanan. Di atas kura-kura raksasa bernama Gedung Nusantara, Spiderman menulis tiga kata: Jujur, Adil, Tegas. Mereka Yang Terhormat (Yth) terkejut dan marah! Tuan dan puan pasti sudah tahu apa yang hendak beta ceritakan. Beta sekadar merangkai ulang aksi aktor senior Pong Hardjatmo yang menghebohkan Indonesia, Jumat 30 Juli 2010.

Hari Jumat itu sekitar pukul 11.00 WIB gedung Nusantara yang atapnya mirip kura- kura lengang. Pria berusia 68 tahun ini menuju atap tanpa hambatan. Luput dari perhatian petugas keamaan gedung DPR/MPR RI. Sesampai di atap dia membuat coretan dengan cat pilox warna merah tiga kata di atas. Para fotograferlah yang pertama kali melihat aksi Pong. Mereka pun mengabadikan aksinya. Jreet...jrett... jrett! Setelah tahu kecolongan, petugas keamanan buru-buru menurunkan Pong dari atap dan meminta keterangan. Pong bahkan sempat diamankan dan diperiksa di pos polisi Kompleks Parlemen Senayan.


Mengenai aksinya menulis di atap gedung DPR/MPR, Pong berujar santai, "Saya ini Spiderman." Dasar aktor! Bukan itu substansi kenekatan Pong. Dia kecewa dengan kinerja anggota parlemen yang belakangan ini kebakaran jenggot setelah dikritik masyarakat atas kebiasaan mereka bolos dari sidang-sidang parlemen yang membahas berbagai agenda penting bangsa.

"Kekecewaan saya ini sudah memuncak. Dari kasus Lapindo, Susno, polisi yang dijeblosin polisi. Memuncaklah!!" ujar Pong dalam jumpa pers. Kekecewaan itu dia tuangkan dalam tiga kata: Jujur, Adil, Tegas. Kalau dibedah satu per satu, dalam sekali makna pesan Pong lewat ketiga suku kata tersebut.

Wajar bila aksi Pong menjadi berita dengan liputan sangat luas dari media massa nasional. Aksi Pong juga menjadi topik diskusi hangat di jaringan komunitas dunia maya. Ada pro dan kontra. Ada yang menghujat dan mengolok. Tapi dominan mengapresisi secara positif. Pong dianggap mewakili suara hati rakyat Indonesia yang kesal melihat sandiwara politikus di Senayan.

"Asli tanpa ditunggangi, jauh dari kepentingan terselubung. Merdeka mas pong. Jangan tiru mereka yang hanya bisa teriak, menghujat dan mengerahkan massa demi kepentingan terselubung." Begitu komentar salah seorang di jaringan komunitas Twitter. "Pong sesungguhnya menulis tiga kata itu di kepala para anggota parlemen. Mereka sadar nggak itu?" kata rekan di jaringan Facebook.

"Saya mendukung aksi Pong meskipun percuma melakukan hal demikian karena prinsipnya anggota Dewan Yth maupun pemerintah tak mungkin terpengaruh dengan berbagai aksi. Mereka sudah biasa menutup mata dan telinga. Muka badak!" tulis rekan yang lain. Waw?

Pesan simbolik Pong Hardjatmo membuat kuping Yth panas. Mereka bereaksi. Jengkel! Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso menilai, aksi aktor kelahiran Solo tahun 1942 itu sekadar mencari perhatian anggota parlemen. Pong uber sensasi. "Gedung parlemen adalah rumah rakyat. Silakan saja kalau akan menyampaikan aspirasi asalkan dilakukan dengan norma aturan yang berlaku, tidak seenaknya sendiri," kata Priyo. Priyo menuntut Pong minta maaf dan membuat janji tertulis tidak mengulangi aksi serupa lagi.

Dia pun jengkel dengan petugas keamanan yang berhasil dikelabui aktor sepuh itu saat memanjat atap kura-kura. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), AM Fatwa juga marah. "Tindakan tersebut tidak etis," kata Fatwa.

Pong membantah aksinya hanya mencari popularitas. "Saya ini sudah lebih dulu populer. Saya siap dipenjara. Kalau jujur, adil dan tegas, masa ditindak sih. Yang merusak bangsa kok tidak ditindak," ujar Pong.

Kiranya aksi Pong Hardjatmo mewakili kekecewaan publik terhadap kinerja anggota DPR RI hasil Pemilu 2009. Kasus Bank Century, misalnya, sampai hari ini tidak jelas ujungnya. Padahal hampir lima bulan lamanya DPR RI begitu getol membahas kasus tersebut. Sangat mungkin kasus yang sangat menarik perhatian masyarakat ini akan gantung begitu saja. DPR pun diam membisu menghadapi kasus ledakan tabung gas elpiji yang telah menelan korban ratusan orang. Demikian pula dengan kasus lama seperti lumpur Lapindo. DPR yang diharapkan memperjuangkan aspirasi rakyat justru mengutamakan kepentingan sendiri.

Sorotan terakhir menyangkut rendahnya persentase kehadiran anggota parlemen dalam sidang-sidang di Senayan. Badan Kehormatan DPR bahkan mengaku kewalahan menghadapi perilaku anggota DPR yang bolos sidang tanpa beban. Tanpa alasan. Ketika muncul anjuran menggunakan sistem absensi sidik jari, banyak anggota parlemen protes. Anjuran tersebut kemungkinan besar sia-sia.

Data rendahnya kinerja anggota DPR diperlihatkan pegiat Indonesian Parliamantery Center (IPC). Produktivitas anggota DPR dalam tahun pertama masa tugas periode 2009-2014 sangat rendah. Mereka baru menyelesaikan lima Rancangan Undang Undang (RUU) dari 70 RUU yang diproritaskan dalam Program Legislasi Nasional. "Artinya, masih ada 65 RUU yang harus diselesaikan dalam waktu lima bulan ke depan," kata Koordinator Divisi Riset Indonesian Parliamantery Center, Ahmad Hanafi di Jakarta, Jumat (30/7/2010) lalu.

Merampungkan 65 RUU dalam waktu lima bulan adalah sesuatu yang agak mustahil. Kalaupun DPR berhasil mewujudkannya, bisa ditebak kualitas UU yang dihasilkan. Di negeri ini sudah biasa produk UU yang dihasilkan parlemen dan pemerintah saling bertentangan satu sama lain sehingga tidak bergigi.

Cerita di atas tentang perilaku Yth di Senayan. Bagaimana rekan sejawat mereka di beranda Flobamora? Beta tidak mau berprasangka buruk dengan melukiskan setali tiga uang. Silakan tuan dan puan memantau, menganalisa dan menilai sendiri wakil pilihanmu. Izinkan beta cuti kritik sementara waktu. Soalnya banyak saudara- saudariku yang telinganya tipis. Hehehe... Sorry! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang edisi Senin, 2 Agustus 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes