Kloang Popot: Menjaga Kelestarian Mata Air

TERIK matahari di Kota Maumere langsung hilang saat kita memasuki kawasan pegunungan di Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka. Kawasan yang terkenal dengan hasil tanaman perkebunan seperti vanili, cengkeh, cokelat, kemiri ini masih hijau. Udara di wilayah ini juga terasa sejuk. Demikian juga kawasan Desa Kloang Popot.

Masyarakat Desa Kloang Popot hingga kini masih terus menjaga keasrian alam, meski ada juga warga yang masih terus menebang hutan di lereng pegunungan Mapitara.

Desa Kolang Popot yang berjarak sekitar 35 km arah timur Kota Maumere kini dihuni sekitar 700 KK yang tersebar dalam tiga dusun masing-masing dusun Wualadu, Kloang Popot dan dusun Peli Baler. Sebagian besar masyarakat di tiga dusun ini menggantungkan hidup dari hasil tanaman perdagangan tersebut. Namun, mereka juga menanam aneka tanaman pangan lokal. Ada aneka jenis umbi-umbian, jagung dan kacang- kacangan. Sementara tanaman keras lainnya yang juga ditanam dan sering dijadikan pangan adalah kelapa. Bahkan mereka kini juga mengembangkan tanaman durian.

Meski hidup sedikit berkecukupan, masyarakat di desa ini masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Sungai Kaki Wair dan Jojet merupakan andalan utama mereka akan air bersih. Sejak tahun 2008 lalu, masyarakat di wilayah ini mulai berswadaya membangun jaringan pipa air dari sumber mata air langsung ke perkampungan penduduk.

Pemasangan pipa dan pembangunan bak penampung di mata air pada awalnya dilakukan oleh masyarakat Dusun Wualadu. Beberapa tokoh masyarakat, antara lain Wilem Wair, Florianus Salo, Lorensius Woga, Lorensius Hulir dan beberapa tokoh masyarakat lainnya mulai membangun jaringan pipa dari mata air Wair Toket yang berada di sekitar kaki Gunung Mapitara yang berjarak sekitar delapan km dari dusun tersebut. Dan, berkat swadaya masyarakat, air yang tadinya hanya bisa mengalir di sungai, kini langsung bisa sampai ke rumah masyarakat.

Langkah yang diambil warga Dusun Wualadu ini juga menginspirasi pemerintah dan masyarakat Desa Kloang Popot pada umumnya. Dan, tidak lama berselang melalui program PPK, masyarakat mulai membangun jaringan pipa dari sumber air Watu Wogat. Air yang dialiri ini untuk memenuhi kebutuhan semua masyarakat desa itu.

Langkah yang diambil masyarakat saat ini untuk menjaga kelestarian mata air tersebut adalah dengan melakukan aktivitas menanam di sekitar sumber mata mata air tersebut. Masyarakat juga dilarang menebang pohon di sekitar tempat itu. Sayang, di daerah lereng hingga puncak Gunung Mapitara yang merupakan wilayah serapan air untuk desa tersebut masih terus terjadi penebangan liar. Aktivitas penebangan ini berlangsung terus, bahkan ada beberapa titik yang sudah mulai habis. Bila ini terus berlangsung, maka sejumlah mata air yang berada di kaki gunung tersebut terancam kering.

Kloang Popot kini juga dikembangkan menjadi tujuan wisata. Sebab selain memiliki alam yang indah, di salah satu titik di desa ini juga terdapat sebuah batu meteor yang jatuh. Oleh masyarakat sekitar batu itu diberi nama dalah elat (bintang jatuh).

Konon kabarnya, batu ini pernah akan dipindahkan ke museum, namun belum bisa dibawa karena ada cerita magis. Hingga ini batu tersebut masih ada dan menjadi tontonan wisatawan yang berkunjung ke tempat itu. (Tanto Salo dan Alfred Dama)

Pos Kupang, 21 Agustus 2010 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes