Biarkan Dewi Bola Memilih

SEANDAINYA kita boleh memilih, Jerman tidak harus kalah telak dari Kroasia. Kroasia memang layak menang untuk menghadapi tuan rumah Perancis karena permainan memikatnya, tetapi tidak perlu sampai 3-0 yang menistakan seluruh kebesaran Jerman selama 40 tahun. Seandainya wasit asal Norwegia, Rune Pederson lebih bijak, mestinya bukan kartu merah untuk Christian Woerns pada menit ke-40 karena mengganjal Davor Suker dari samping - bukan dari belakang.

    Kehilangan Woerns, stopper terbaik Bundesliga adalah awal kehancuran tahta Jerman di France 98. Bersamaan dengan perginya Woerns, Jerman yang menekan lawan selama 39 menit dengan hasil tiga peluang manis untuk Bierhoff dan Klinsmann - tiba-tiba tak berdaya digempur musuh, mengalami sesak napas, pingsan lalu terbunuh. Dan, keterlaluan bila Kroasia sampai gagal menghadapi sepuluh pemain. Apalagi Berti Vogts tampak letih memasuki tahun kedelapan mengasuh tim nasional. Masa emas Vogts sudah lewat dua tahun lalu saat Jerman merenggut Euro 1996 di Inggris.

    Jerman 1998 jauh dari kesan bagus apalagi istimewa. Sejak duel perdana melawan AS pada 16 Juni 1998, tanda-tanda keruntuhan sudah terlihat. Akhirnya saat paling menyakitkan itu tiba juga di Lyon, Minggu dini hari Wita (5/7/1998). Viva Kroasia! Kejutanmu telah menjadikan Piala Dunia 1998 makin gurih dan juara baru mungkin akan lahir di tanah Perancis. Dewi bola telah memilihmu menikmati kehormatan sebagai semifinalis 9 Juli 1998.

    Malam ini 7 Juli 1998 waktu Perancis atau Rabu dini hari (8/7/1998) mulai pukul 03.00 Wita (disiarkan semua stasiun TV), Belanda menghadapi tim Samba Brasil di Stade Velodrome, Marseille. Jika kita boleh memilih, mestinya kedua tim tidak perlu bertemu secepat ini. Sekali-kali, dunia ingin juga merealisasikan mimpinya tentang pertemuan Belanda-Brasil di puncak mahameru: Final World Cup. Alangkah nikmatnya menonton aksi memikat kedua pendekar sepakbola menyerang itu pada titik akhir yang menentukan siapa terbaik.

    Apa boleh buat, dewi bola toh sudah mengeluarkan fatwa yang tak dapat ditarik lagi. Dia telah bersikap, menonton real final World Cup 98 sebelum 13 Juli 1998 dan karena itu biarkan sang dewi memilih siapa yang terbaik. Dewi bola seolah-olah riang melihat anak bumi makan buah simalakama. Memilih Brasil atau Belanda adalah sulit karena keduanya memberi porsi cinta yang mirip, sama-sama dipuja dan dikasihi! Bumi akan terbelah dua dan banjir air mata akan mengalir ke seluruh pelosok negeri karena ada yang hilang sebelum France 98 berakhir.

    Tetapi sudahlah, lupakan pertemuan dini Belanda-Brasil. Kita toh mestinya bersyukur karena dua seniman rumput itu akhirnya bertemu untuk menghibur sejenak penghuni jagat yang lelah mencium mesiu perang, kelaparan, keterasingan, ketiadaan harapan hidup, kejamnya penguasa tiran serta luka-luka sosial lainnya. Belanda-Brasil bakal menyajikan partai terbaik. Keduanya tak mungkin mengkhianati jatidiri, komitmen serta idealismenya akan romantisme bola. Bahwa sepakbola bukan sekadar memasukkan gol sebanyak mungkin ke gawang lawan dan menang. Belanda-Brasil sama menjunjung tinggi filosofi ini: Sepakbola harus ikut melahirkan keindahan, tempat satu-satunya manusia dapat menemukan kedamaian.

    Bermain dalam formasi standar 4-4-2, pertemuan ketiga Brasil-Belanda di ajang Piala Dunia setelah 1974 dan 1994 (skor menang 1-1) akan manis dinikmati karena keduanya akan menyerang sejak kick off. Kualitas tim maupun keterampilan individu hampir sama. Tidak seperti Jerman yang anti peremajaan pemain, tim Brasil-Belanda 98 merupakan gabungan pemain senior dan bintang muda berbakat. Soliditas tim pun sama bagus di tiap lini. Jika Brasil punya Ronaldo (22), Belanda memiliki Dennis Bergkamp (29).

    Ronaldo dan Bergkamp otomatis menjadi target man Mario Zagallo dan Guus Hiddink di depan. Karena akan menjadi pusat perhatian palang pintu lawan, Ronaldo dan Bergkamp akan memilih peran sebagai pengatur, baik dengan cara bergerak tanpa bola atau memberi ruang bagi rekannya menyusup ke penalti lawan. Di tim Belanda, saat menyerang akan kelihatan seperti ada empat striker yakni dua bek sayap, Reiziger (kanan) dan mungkin Winston Bogarde atau Ooijer (kiri) serta striker murni Bergkamp-Kluivert/Overmars. 

    Hukuman kartu merah Athur Numan dan cederanya Bogarde jadi masalah bagi Hiddink menentukan siapa bek kiri. Inilah titik rawan yang menguntungkan Brasil. Ooijer belum teruji karena selama ini tidak merumput. Jika ada Bogarde, Hiddink takkan risau memainkan totaal voetball. Tabir pertahanan Belanda (tidak pakai pola libero) tetap dipercayakan kepada Stam dan kapten Frank de Boer.

    Kunci as kedua tim adalah lini tengah. Pilihan Zagallo tak lari jauh dari Sampaio, Dunga (kapten), Leonardo, Denilsona tau Emerson. Mereka akan bertarung melawan kuartet Belanda, Davids, Ronald de Boer, Cocu, Jonk/Seedorf. Hiddink mungkin menugaskan Davids khusus mematikan Dunga, dirigen serangan Samba. Duel ini imbang dan amat menentukan peluang bagi para bombernya. Di blok belakang Brasil, Aldair adalah pilar akhir dibantu stopper Junior Baiano, bek kiri Roberto Carlos dan bek kanan Cafu. Sama seperti Oranye, saat menyerang Cafu dan Carlos akan naik membantu Ronaldo dan Bebeto dengan umpan-umpan terukur dari sayap. Reiziger mungkin dapat mengimbangi Carlos, tetapi tanpa Numan di kiri, Stam dan Frank akan repot menahan laju Cafu, Edgar Davids kiranya bekerja lebih keras sebagai palang pertama Cafu. Akan lebih bagus bagi Hiddink bila Seedorf turun bersama Davids ketimbang Jonk.

    Kedua tim sama rawan di pertahanan jika sedang asyik menyerang. Tinggal siapa yang jeli memanfaatkan peluang counter attack atau menembak langsung dari lini kedua: Bergkamp atau Ronaldo, Jonk/Davids/de Boer atau Rivaldo/Baiano/Leonardo? Uji lari, memindahkan bola dengan cepat dan tepat dari kiri ke kanan, ke depan dan belakang serta penempatan posisi pemain kedua tim sama baik. Bila Guus dan Mario tidak melacurkan diri dengan main defensif, akan lahir  lebih dari satu gol dan pertandingan tidak mesti 120 menit. Apalagi adu penalti, jika tidak karena terpaksa, bukan pilihan utama Belanda dan Brasil. Goodluck! ***
 **

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Selasa, 7 Juli 1998. Artikel ini ditulis menjelang “big match” antara Belanda melawan Brasil di babak semifinal Piala Dunia 1998. Brasil menang 4-2 lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes