Menangisi Kematian Attacking Football

JUARA Jerman, Borussia Dortmund dan juara bertahan dari Italia, Juventus, akhirnya maju ke final Piala Champions 1997 di Muenchen 28 Mei mendatang. Dua semifinalis lainnya, Manchester United (MU) Inggris dan Ajax Amsterdam Belanda harus gigit jari, karena impiannya pudar sudah.

    Dari banyak sisi menarik yang dipantulkan Liga Champions Eropa tahun ini, satu hal yang pantas dicatat: Matinya attacking football! (sepakbola menyerang) oleh hangatnya pelukan harmonisasi. Tapi jangan lupa, catatan ini perlu ditambah keterangan lain: hanya ada dua maestro yang dengan jeli mampu meruntuhkan kebesaran sepakbola menyerang - suatu kecenderungan paling dominan dalam era sepakbola modern dewasa ini.

    Kedua maestro itu bernama Ottmar Hitzfeld dan Marcello Lippi. Begitu indahnya cara membunuh ala Ottmar-Lippi, sampai-sampai bangsawan Ajax, Louis Van Gaal maupun pangeran berdarah biru dari Skotlandia, Alex Ferguson masih bisa menerima kekalahan timnya dalam perjalanan menuju puncak tertinggi Eropa. Dengan besar hati dan penuh senyum, Van Gaal-Alex meraup hasil memilukan sembari mengangkat topi atas kehebatan lawannya.

    Ottmar-Lippi membunuh dengan harmonisasi, suatu manajemen bola yang wajib menjaga keseimbangan dalam mengorganisir zona pertahanan dan menyerang. Hal itu mereka lakukan karena kemenangan 2x45 menit, tidak semata dengan menyerang total seperti keyakinan tim Setan Merah dan Ajax.

    Ottmar-Lippi menularkan filosofi kepada pasukannya bahwa main bola adalah seni mengatur irama. Meski tujuan akhir melesatkan gol sebanyak mungkin ke gawang lawan, tapi dalam perburuan menuju titik sasar itu, harus ada waktu bagi pemain untuk menggempur, ada saat ia mesti mengambil napas sejenak. Harmonisasi seperti inilah yang akan menyembulkan keindahan bermain bola. Untuk apa menyerang dan terus menyerang dengan pola yang sama, seakan-akan sepakbola hanya sekadar mencetak gol ke jaring lawan! Pada titik ini, Van Gaal-Alex mungkin melakukan kesalahan strategi di lapangan.

    Ottmar-Lippi menyimpulkan, kemenangan adalah perpaduan antara menahan gempuran, mencari titik lemah lawan, kemudian menemukan saat tepat untuk mematikannya. Hasilnya, sama-sama sudah kita saksikan lewat layar kaca Rajawali Citra Televisi Indonesia.

    Dortmund yang bertandang ke Old Trafford Manchester menang 1-0, persis sama dengan hasil putaran semifinal pertama 9 April silam di Stadion Westfalen. Padahal, siapapun yang sempat mengintip duel itu melihat serangan maut MU tanpa ampun. Dengan perbandingan 15-3 untuk tim Setan Merah dalam hal sepak pojok saja - kita bisa meraba-raba betapa dasyatnya amukan pangeran-pangeran Inggris ke gawang juara Bundesliga.

    Pada saat yang sama di Turin Italia, Juventus mengunci mulut Ajax 4-1 dan secara keseluruhan unggul 6-2 atas tim kebanggaan negeri Ratu Juliana yang tak putus dirundung nestapa itu. Ajax memperlihatkan keahlian total football-nya dengan sempurna, tapi terkesima menyantap gol Attilio Lombardo (menit 34), Christian Vieri (37), Nicola Amoruso (78) dan Zinedine Zidane (80). Beruntung ada Mario Melchiot yang buat gol hiburan menit ke-75. Kekalahan itu bagaikan perintah  buat Van Gaal, "Pergilah secepatnya dari Amsterdam Arena". Van Gaal yang pernah dipuja, tak mampu lagi menaikkan martabat Ajax sebagai roh sepakbola Belanda.

    Ottmar dan Lippi memang luar biasa. Mereka menghancurleburkan pemujaan terhadap attacking football dengan kiat menyerang duluan di saat lawan lengah! Dua maestro itu memberlakukan prinsip dalam perang: "Jika tak ingin dibunuh, maka bunuhlah terlebih dahulu lawan Anda". Sontekan Lars Ricken menit ke-8 ke gawang Peter Schmeichel adalah bukti kelihaian Ottmar menyikat kick and rush.

    Di kala tim Setan Merah "kesetanan" menyerang, Dortmund memanfaatkan lubang kecil di lini pertahanan. Dennis Irwin, Gary Neville, Pallister pun cuma bisa menggeleng kepala.  Pergerakan Andy Moeller dan Paulo Sousa di blok tengah, membuat Eric Cantona tak lagi "Raja" di depan publiknya. Umpan bola-bola atas buat Andy Cole dan Ole Gunnar Solskjaer gagal terus menembus barikade Jurgen Kohler dkk.

    MU kalah, boleh jadi karena pengalaman bertandingnya di kancah Eropa satu kelas di bawah Borussia dan Dewi Fortuna belum memihak. Namun, Ajax kalah ketiga kalinya selama 1996-1997 di kaki anak-anak Italia - menebalkan keyakinan, sepakbola menyerang tak identik kemenangan. Kemenangan adalah harmonisasi, menang adalah keseimbangan mengatur irama guliran bola. *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Sabtu, 26 April 1997. Artikel ini dibuat merepons hasil babak semifinal kedua Piala Champions Eropa 1997 antara Juventus vs Ajax vs dan MU vs Borussia Dortmund. Juventus dan Borussia Dortmund maju ke final di Kota Munich. Borussia Dortmund menjadi juara setelah menekuk   Juventus 3-1.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes