228 Pria Butuh Obat Kuat

SETELAH melalui diskusi alot yang memakan waktu lebih dari tiga jam, 12 tim peserta kompetisi sepakbola Divisi II Perserikatan NTT memperebutkan El Tari Memorial Cup '99 sepakat melakukan pertandingan pada siang dan sore hari. Hasil technical meeting di Gedung Ine Pare, Jl. El Tari Ende, Rabu (24/11/1999) malam menetapkan delapan tim merumput setiap hari selama babak penyisihan grup. Empat tim atau dua partai bertemu di Lapangan Perse dan empat tim lainnya berlaga di Stadion Marilonga.

    Partai pertama dimulai pukul 14.00 Wita dengan toleransi keterlambatan 15 menit. Sedangkan partai kedua mulai pukul 16.00 Wita dengan batas toleransi keterlambatan yang sama. Semula, Inspektur Pertandingan dari Pengda PSSI NTT, Drs. Markus A Wora menawarkan pertandingan pagi dan sore. Pagi mulai pukul 06.00 dan sore pukul 15.30 Wita. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai usul saran dari pelatih dan ofisial tim peserta termasuk kendala-kendala teknis yang bakal terjadi, tawaran Wora ditolak.

    Umumnya peserta menolak karena bila bertanding pagi hari pukul 06.00 Wita, dikhawatirkan tim peserta maupun panitia sulit memenuhinya, karena harus menyiapkan diri selambat-lambatnya satu jam sebelum itu. Pertandingan pun bakal sepi penonton karena pagi hari adalah jam kerja atau waktu sekolah. Boleh jadi akan banyak penonton, namun banyak orang akan absen kerja dan para pelajar/mahasiswa (Ende adalah Kota Pelajar, Red) akan bolos. Oleh sebab itu, pilihan terbaik adalah siang dan sore hari, sekalipun risiko dan konsekwensinya tidaklah kecil.

    Menurut Markus Wora, jadwal menurunkan delapan tim setiap hari itu mengacu pada kesiapan Pemda Ende sebagai tuan rumah yang memberi batas waktu 14 hari turnamen tahun ini. Karenanya, inspektur pertandingan dan peserta mesti menyesuaikan agar kompetisi ini tidak melebihi waktu 14 hari. Keputusan ini dapat diterima akal sehat mengingat ketersediaan biaya dan faktor lainnya.

***

    DENGAN menyertakan 12 tim (dua tim absen yaitu PSKN TTU dan Persab Belu), maka jumlah total pertandingan selama kejuaraan ini - babak penyisihan hingga final - sebanyak 28 partai. Penyisihan grup memainkan 18 partai, 6 partai perempatfinal, 2 partai semifinal, 1 partai perebutan juara ketiga dan 1 partai grandfinal yang dijadwalkan berlangsung, Senin (6/12/1999).

    Sekilas menyimak jadwal tersebut, kesan yang langsung kita peroleh bahwa kompetisi perserikatan musim ini cukup padat dan melelahkan. Pada babak penyisihan grup, setiap tim hanya mendapat jatah istirahat satu hari. Bagi tim yang berprestasi, jadwal merumputnya akan semakin padat, karena antara penyisihan grup, babak perempatfinal, semifinal, dan final tak ada waktu fakultatif. Kompetisi terus bergulir sehingga hampir pasti sebuah tim turun ke lapangan hijau dua hari berturut-turut.

    Bagi seorang atlet, bermain pukul 14.00 Wita di ruang terbuka memang kurang lazim, terutama di negeri kita yang beriklim tropis sebab bakal menguras tenaga yang sangat besar. Mengolah bola di bawah terik matahari bukan pekerjaan mudah. Yang enteng adalah penonton karena bebas menilai tanpa beban dengan cukup duduk manis di tribun atau bibir lapangan. Syukur jika hujan turun sore-sore di bumi Ende, sehingga pemain hanya berbasah ria tapi tidak kelelahan. Tapi akan buruk bagi penggila bola karena aksi seniman kulit bundar jadi tidak enak ditonton.

    Jadwal pukul 14.00 Wita pun menuntut disiplin tinggi dari pemain, ofisial, panitia, wasit, inspektur pertandingan, para medis, petugas keamanan, dll. Jika watak 'jam karet' orang NTT tidak berubah maka partai kedua tak mungkin tepat mulai pukul 16.00. Bahkan terus molor sehingga sampai matahari masuk ke pelukan bumi, pertandingan kedua belum juga berakhir. Ini bisa membawa musibah bagi semua.

    Itulah sebabnya saya melukiskan 228 pemain dari 12 perserikatan (setiap tim beranggota 19 pemain) membutuhkan 'obat kuat' agar tampil prima di lapangan dan sanggup meraih hasil terbaik. Obat serupa pun perlu dikonsumsi wasit C1 dan C2 milik PSSI NTT yang jumlahnya pas-pasan maupun panitia pelaksana. Adanya cedera ringan dan berat yang meneteskan darah segar, kejang-kejang bahkan mati sekejap alias pingsan, tidak mustahil terjadi saat pemain bertanding di bawah terik matahari atau guyuran air dari langit.    

Soal jenis 'obat kuat' apa yang mau dipakai demi kebugaran tubuh dan daya tahan kepala dan kaki, terserah Anda masing-masing karena benda yang satu ini masuk kategori rahasia kampung halaman, rahasia kamar tidur dan rahasia hati. Mau minum moke pun boleh, toh kompetisi kita rasanya belum menggunakan jeratan doping.  Mau pakai kekuatan leu-leu atau daya pikat atapolo alias suanggi dari puncak Gunung Kelimutu juga tak apa-apa, asal tidak merugikan banyak orang dan tetap dalam koridor fair play. Selamat bertanding! *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Jumat, 26 November 1999. Artikel ini dibuat menjelang kejuaraan sepakbola El Tari Memorial Cup di Ende tanggal 25 November hingga  7 Desember 1999.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes