Cari Selamat ala Maldini

Cesare Maldini
SAMPAI pertandingan Selasa dini hari (16/6/1998) Wita, Jerman dan Inggris menambah deretan tim favorit yang meraih hasil 100 persen setelah Brasil dan Perancis. Tim Panser, unggulan utama grup F memberi pelajaran berharga kepada para bocah Paman Sam dan menang 2-0 hasil sundulan Andy Moeller dan sontekan Juergen Klinsmann.

    Inggris, negara yang melahirkan sepakbola mengalahkan Tunisia juga dengan skor 2-0. Hasil tersebut menambah kepercayaan diri pasukan Berti Vogts dan Glen Hoddle untuk menghadapi duel berikutnya. Yang masih tergolong sial sampai saat ini cuma Italia, negeri dengan kompetisi liga profesional nomor wahid sejagat.

    Nasib buruk Italia, unggulan grup B yang hanya bermain seri 2-2 dengan Chili pada penampilan perdana Kamis lalu harus segera berakhir jika tim Azzuri ingin meraih salah satu tempat di babak kedua. Ujian berat itu akan mereka hadapi malam ini menghadapi Singa Afrika, Kamerun di Montpellier.

    Pelatih Cesare Maldini mau tidak mau harus menanamkan semangat 'mencari selamat' dari lubang jarum. Memang, mencari selamat ala Maldini yang saya maksudkan tidak mirip dengan aksi mereka yang dulu berlindung dan meraih untung di balik kekuasaan Soeharto -- kemudian kini, di saat api reformasi menyala terang -- berbalik menghujat Pak Harto sambil mencari selamat masing-masing.

    Hanya dengan semangat “mencari selamat” itu, Italia tidak harus pulang lebih awal. Hasil draw apalagi kalah otomatis menutup jalan bagi tim Maldini. Persoalannya, Italia 1998 belum cukup padu meski Maldini punya stok pemain bagus di semua lini. Menyimak penampilan menghadapi Chili, blok tengah yang dihuni Di Matteo, Dino Baggio, Francesco Moriero dan Albertini masih kerap salah dan kurang aktif mensuplai bola untuk Roberto Baggio dan Vieri. Blok pertahanan yang ditempati kapten Paolo Maldini, Costacurta, Nesta, Bergomi maupun Cannavaro harus lebih kompak lagi. Dua gol Chili membuktikan palang pintu Azzuri kurang solid.

Formasi konvensional  kesukaan Maldini 3-5-2 yang sangat kuat di pertahanan dengan lima pemain (khas cattenacio), tiga gelandang dan dua tombak, ternyata tidak mulus menembus blokade Chili. Ketika Maldini mencoba variasi 4-4-2, pertahanannya justru rawan dan dua gol Marcelo Salas menembus jaring Pagliuca, kiper tampan  yang konon telah meniduri lebih dari 1.000 gadis Italia.

Kalau demikian, strategi apa yang bakal dipakai Cesaare menghadapi Kamerun yang sukses membendung Austria 1-1? Cesare memang tak perlu cemas karena dia memiliki seorang “juru selamat” bernama Roberto Baggio yang membawa Italia runner-up USA 1994. Untuk selamat dari kekalahan yang perlu dilakukan hanya sedikit keberanian menduetkan Baggio-Del Piero atau eksperimen pola ofensif 4-3-3 dengan tiga tombak: Baggio-Piero-Vieri. Filippo Inzaghi tetap dicadangkan untuk babak kedua.

Jika demikian, Italia bakal lebih mudah mendobrak pertahanan Kamerun (dengan formasi 4-4-2) yang mungkin akan diisi Joseph Elanga, Pierre Wome, Raymond Kalla, Robert Song atau Njanka. Jika trio Italia turun bersama, Baggio bisa bermain lebih ke belakang di daerah second line untuk membuka ruang serta sesewaktu menyusup cepat ke kotak penalti lawan.

Di depan, Del Piero yang bergaya stylish akan pas dengan aksi dobrak Christian Vieri. Tanpa kehadiran Zola, Ravanelli dan Casiraghi di tim Azzuri 98, penggila tim Italia berharap banyak pada Baggio, Piero dan Vieri. Keraguan yang muncul, Del Piero baru pulih dari cedera sehingga dikhawatirkan masih jauh dari top form-nya.  Namun seperti diberitakan Reuters, Cesare telah menjamin Del Piero cukup fit dan bakal turun malam ini.

Para pengagum Italia tentunya sangat merindukan penampilan Piero bersama sang senior Baggio yang amat matang itu untuk menghadapi Kamerun, meski banyak juga yang memuji kerja sama bagus Vieri-Baggio saat melawan Chili dan salah satu filosofi bola mengatakan the winner team jangan diutak-atik. Keputusan ini akhirnya berpulang pada Cesare Maldini sendiri.

Satu titik kecil yang jangan diabaikan, bukan mustahil Kamerun akan mengikuti keperkasaan Nigeria yang menggilas Spanyol 3-2. Bila tidak hati-hati Paolo Maldini Cs akan diganjal Oman Biyik, Patrick Mboma, Semuel Etto dkk. Dalam keikutsertaannya pada Piala Dunia sebelumnya, Kamerun tidak pernah gentar menghadapi tim-tim  raksasa. *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra
, juga Pos Kupang edisi Rabu, 17 Juni 1998. Artikel ini dibuat melihat hasil mengecewakan yang diraih tim nasional Italia pada babak penyisihan Grup B Piala Dunia 1998 di Perancis.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes