Lebih Enteng Pilih Gubernur NTT

KETIKA pembicaraan mengenai sepakbola semakin hangat seiring bergulirnya France ‘98 yang memasuki hari ketujuh, pertanyaan yang kian kencang terdengar adalah: Tim manakah yang bakal keluar sebagai juara? Brasilkah yang akan meraih gelar kelima kalinya. Italia dan Jerman keempat kali, Argentina ketiga kali atau kesempatan kedua buat Inggris? Dan apakah tahun 1998 menjadi milik Belanda sekaligus memecahkan mitos juara tanpa mahkota?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebetulnya belum relevan dikedepankan karena Piala Dunia 1998 baru saja bergulir. Sebanyak 32 tim finalis rata-rata baru baru menyelesaikan satu pertandingan, sehingga peta kekuatan masih samar. Adalah sikap yang tergesa-gesa jika sudah berani meramal juara. Untuk memastikan tim yang lolos ke babak kedua sekalipun, rasanya masih terlalu dini.

Dari sisi peta kekuatan para penggemar di sini  mungkin merasa lebih enteng menebak siapa Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) terpilih untuk periode 1998-2003 ketimbang memastikan juara Piala Dunia 1998. Peta kekuatan tiga calon gubernur (Piet A Tallo, Gaspar P Ehok dan Daniel Woda Palle) yang akan dipilih para wakil rakyat NTT hari ini, 16 Juni 1998 mungkin jauh lebih jelas daripada membidik peta kekuatan tim-tim finalis France ‘98.

Oleh karena itu lupakanlah sesaat kerinduan memposisikan tim Samba sebagai sebagai calon kuat juara sebagai koor serempak masyarakat bola sejagat. Abaikan dulu pikiran bahwa hanya Jerman, Italia, Inggris, Belanda, Perancis atau Argentina yang lebih berpeluang sebagai pemenang. Hasil pertandingan sejak hari pertama Piala Dunia 1998 setidaknya ikut meneguhkan catatan itu.

Kita menyaksikan betapa goyang Samba belum menunjukkan tanda-tanda mampu mempertahankan gelar. Impian Mario Zagallo rupanya harus diuji lagi setelah menang susah payah 2-1 atas Skotlandia. Kehadiran megabintang sekelas Ronaldo pun belum menjamin Brasil melangkah mudah ke babak berikutnya. Ujian paling dekat yang harus dilakoni Brasil adalah melawan Maroko, Kamis dinihari (17/6/1998) Wita. Penggemar Samba dapat menyaksikan aksi Ronaldo dkk lewat layar TPI  pukul 03.00 malam ini.

Memang, Brasil 1998 tetap menyajikan aroma sepakbola indah ala Samba yang selalu menciptakan romantisme. Tetapi romantisme bola itu dalam sejarah Piala Dunia cukup sering mengantar Brasil ke lembah duka. Setiap penampilan Brasil pasti menghibur, namun tidak selalu berakhir dengan kemenangan. France 98 masih tiga pekan lagi dan segala kemungkinan bisa melanda Brasil.

Dengan 32 finalis (jumlah terbesar dalam sejarah Piala Dunia), polarisasi kekuatan World Cup ’98 sangat ramai. Hasil seri Norwegia vs Chili, Austria vs Kamerun, Paraguay vs Bulgaria dan Belanda vs Belgia menunjukkan kualitas tim hampir sama. Seperti diprediksi banyak pengamat, tim-tim Afrika maju pesat. Dunia sontak terkejut ketika Elang Super Nigeria membantai Spanyol 3-2. Negeri matador dengan tradisi bola yang amat kental, dibuat puyeng oleh goyang pinggul anak-anak hitam semisal Sandy Oliseh, Ipkeba, Finidi George, Kanu dan Taribo West yang ironisnya menjadi pemain besar karena mencuri ilmu di Eropa – salah satu sumbu kekuatan sepakbola dunia.

Argentina terpana karena hanya bisa menang 1-0 atas Jepang. Yugoslavia frustrasi meski unggul 1-0 atas Iran dan Denmark mesti bersusah payah menekuk Saudi lewat gol tunggal Mark Rieper. Yang tampil yakin cuma tuan rumah Perancis dengan menggilas Afsel 3-0, Meksiko unggul 3-1 atas Korsel dan Kroasia mematuk Jamaika 3-1.

Tumbangnya empat wakil Asia, kendati masih menyisakan dua pertandingan di masing-masing grup, mulai jelas memperlihatkan bahwa dalam manajemen kulit bundar, benua dengan jumlah penduduk terbesar ini masih harus belajar untuk mendekatkan jarak dengan Afrika, Eropa apalagi para seniman bola dari bumi latin Amerika.

Piala Dunia adalah kelas turnamen paling tinggi dalam cabang sepakbola. Kejutan demi kejutan masih akan terjadi. Toh France 98 masih bergulir, sejarah Piala Dunia pada akhir abad ke-21 ini sedang berproses. Langkah terbaik tetap setialah mengikuti pertandingan demi pertandingan hingga grandfinal 13 Juli 1998. Asalkan Anda tidak larut dan kurang siap untuk tertawa, kecewa, menangis bahkan ikut berduka cita. **


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Selasa, 16 Juni 1998. Artikel ini dibuat  melihat hasil pertandingan pertama babak penyisihan grup Piala Dunia 1998 di Perancis. Peta kekuatan belum tergambar dengan jelas
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes