Si Hitam memang Manis

Lilian Thuram (ap)
HIDUP tak selamanya berjalan lurus, benar dan adil. Cukup sering kehidupan justru menampilkan ketidakadilan. Ketidakadilan itu terasa makin mengerikan karena dalam banyak sisi, manusialah pelaku utamanya. Warna kulit bisa dikedepankan sebagai misal dalam soal ini. Yang berkulit putih merasa diri seolah-olah paling tinggi harkat dan martabatnya ketimbang kulit kuning, sawo matang apalagi si hitam legam. Abad ke-20 dunia akan mengenang Nelson Mandela, putra Afrika Selatan yang rela mengorbankan dirinya demi melawan struktur sosial yang tidak adil itu!

Sejak berabad-abad yang lalu, perbudakan di Eropa dan Amerika menjadi masa paling kelam dalam sejarah dunia karena warna kulit telah menistakan manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi martabatnya. Harga manusia  terutama yang berkulit gelap di masa itu tidak lebih baik daripada seekor binatang.

Masa kelam itu memang sudah lewat lama sekali, tetapi benih-benih rasialis harus diakui masih ada sampai detik ini dalam konteks dan formula yang berbeda. Dunia sepakbola  yang amat mengagungkan fairness ternyata tidak luput dari persoalan itu. "Hei, hitam kau!" Demikian teriakan sinis kapten tim Bulgaria, Hristo Stoichkov kepada pemain Perancis, Marcel Desailly pada Piala Eropa 1996 di Inggris.

Hati lembut Desailly, si anak Perancis keturunan Ghana Afrika ini sangat sakit meskipun setelah menyadari kesalahannya, Stoichkov langsung minta maaf. Desailly sulit mengerti karena di saat dunia begitu mengagungkan hak asasi manusia, di saat bangsa-bangsa Eropa yang mengklaim diri sebagai pelopor persamaan derajat, masih ada yang membedakan manusia atas dasar hitam dan putih, sawo matang atau kuning.

Desailly ternyata tidak sendirian menerima dampratan seperti ini. Gelandang kawakan Inggris, Paul Ince pernah merasakan perlakuan tidak adil saat ia bermain di klub Inter Milan, Italia. Orang Italia  yang konon sangat religius itu memandangnya dengan sebelah mata. Padahal nenek moyang Ince sudah lebih dari empat generasi menjadi warga negara Inggris. Dan, kepiawaian Ince sebagai pemain bola mestinya diakui secara obyektif.

Di tim Belanda, masalah rasial juga sempat mengemuka dua tahun silam. Para pemain kulit hitam seperti Patrick Kluivert, Clarence Seedorf, Edgar Davids, Winston Bogarde dan Michael Reiziger merasa perlakuan kurang adil dari Pelatih Guus Hiddink. Anak-anak hitam ini merasa Hiddink mempertimbangkan warna kulit ketika mengambil keputusan menurunkan seorang pemain dalam suatu pertandingan. Hal ini jelas bertentangan dengan semangat sepakbola sejati yang menempatkan talenta dan kemampuan anak manusia di atas segala-galanya, bukan soal warna kulitnya apa.

    Melihat persoalan ini, Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) terpaksa turun tangan. Sejak usai Euro 96  (Piala Eropa 1996) program kerja utama UEFA salah satunya ialah perang terhadap rasialisme dalam sepakbola. Kampanye anti rasialisme tak henti-hentinya dikumandangkan dalam setiap kejuaraan resmi antarnegara maupun kompetisi liga dalam negeri. Hasilnya sudah mulai tampak selama France 98.

Betapa banyak anak kulit berwarna yang justru menjadi pemain kunci kesebelasan negaranya masing-masing. Kecuali Belanda yang punya pemain bintang seperti Kluivert, Davids, Reiziger dan Seedorf dan Inggris yang memiliki Paul Ince, Ian Wright dan Sol Campbell, tuan rumah Perancis justru lebih fanatik mendukung kampanye luhur tersebut.

***

DUA gol Lilian Thuram ke gawang Kroasia, Kamis dini hari wita (9/7/1998), lebih tepat dilukiskan sebagai buah paling manis dari taman dunia persaudaraan dan kasih tanpa perbedaan warna kulit. Si hitam Thuram adalah anak imigran Afrika kelahiran 1 Januari 1972. Di masa silam, status sosial nenek moyangnya tidak lebih dari hamba sahaja, budak belian kaum bangsawan Perancis. Tetapi kehormatan Perancis yang untuk pertama kalinya lolos ke final Piala Dunia setelah menunggu 60 tahun - justru lahir dari kaki cucu kaum marjinal hina dina.

Sang penguasa langit dan bumi sedang memperlihatkan kebijaksanaanNya bahwa warna kulit bukan syarat tinggi rendahnya martabat manusia. Itulah yang dengan gigih diperjuangkan Nelson Mandela, yang rela mendekam di penjara selama dua dasawarsa lebih untuk membuktikan kepada dunia bahwa perbedaan wanrna kulit itu sebuah keniscayaan.  Putih, kuning, sawo matang, hitam legam, rambut keriting, pirang atau mata biru adalah  warna-warni agar dunia tampak lebih manis. Bukankah akan sangat membosankan jika warna bumi semata-mata putih?

Lolosnya Perancis ke final untuk bertemu Brasil pada 13 Juli 1998 memang hasil kerja sama tim racikan Aime Jacquet yang apik. Tapi kalau bukan karena tembakan Thuram dua kali ke gawanag Drazen Ladic,  "Ayam Jago" harus puas menikmati duka sebagai semifinalis keempat kali. Kepahlawanan Thuran bertambah bobotnya karena dalam tim tugas utamanya bukan algojo kotak penalti. Tugas itu milik Guivarc'h, Djorkaeff, Trezeguet dan Henry. Fungsi Thuram cuma mengawal pertahanan bersama Blanc, Desailly dan Lizararu. Namun, dari posisi terbelakang itulah Thuram menyaksikan ketakberdayaan rekan-rekannya menembus solidnya pertahanan pasukan Kroasia.

Dengan keberanian yang luar biasa, Thuram naik pada saat yang tepat, berkelit dengan cerdik di antara tembok lawan lalu menembak bola dengan cermat. Jaring Ladic pun terkoyak! Gol Suker yang sempat membahagiakan Kroasia dalam sekejap berubah jadi neraka. Jangan heran bila nama Thuram  akan tercetak dengan tinta emas dalam lembaran sejarah bangsa Perancis. Tak peduli apapun  hasil final melawan Brasil.

Thuram telah menjadi simbol kemenangan kaum hitam. Simbol keagungan martabat manusia yang satu dan sama. Dan karena itu patut dihormati. Jika sang maestro bola, Edson Arantes do Nascimento alias Pele telah mendapat gelar "mutiara hitam" Brasilia, bukankah baik adanya bila Thuram pantas mendapat sapaan kecil ini: "Si hitam itu memang manis". Pele, Mandela, Thuram. Yang hitam, yang menginspirasi umat manusia.*

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Jumat, 10 Juli 1998. Artikel ini dibuat setelah Perancis menyingkirkan Kroasia 2-1 di babak semifinal Piala Dunia 1998 berkat gol pemain kulit hitam, Lilian Thuram
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes