Lembut dan Tak Mudah Tembus

Jose Luis Chilavert
CESARE Maldini tidur amat lelap di Montpellier semalam setelah anak kandungnya Paolo Maldini sukses memimpin tim Azzuri menang 3-0 atas Kamerun dalam lanjutan penyisihan grup B Piala Dunia 1998. Meski bintang Christian Vieri yang makin menjulang tinggi, tapi Roberto Baggio terbukti sakti dan sungguh seorang santo bagi bangsa Italiano. Baggio tidak sekadar  tahu menendang bola, tetapi ia adalah pemikir bagi tim.

    Kecuali itu, keputusan Cesare menurunkan Luigi Di Biagio, Moriero dan Del Piero tidaklah keliru. Setelah cuma imbang 2-2 melawan Chili, Cesare meracik formasi 3-5-2 dan 4-4-2 yang amat menyerang dan ampuh meredam singa lapar Afrika. Syukur pada dewi bola, peluang Italia menjuarai  grup B makin terbuka sehingga mereka tidak harus segera bertemu Brasil di putaran kedua. Dunia akan berduka jika Italia-Brasil sudah berduel di enambelas besar.

Kita ikut sedih bersama Acosta. Nelson Acosta, arsitek Chili itu harus menitikkan air mata karena nilai 3 yang sudah di saku  celananya, terbang sekejap gara-gara sodokan emas Ivica Vastic ke gawang Tapia. Ivica, anak Kroasia yang baru dua tahun memegang paspor Austria, mengubur kerja keras duet Za-Sa (Ivan Zamorano-Marcelo Salas) yang sudah lelah menari 89 menit. Terlalu awal berpesta memang tidak baik. Kelengahan Za-Sa dkk saat injury time mirip kisah klasik “ejakulasi dini” yang mencemaskan para istri.

Rasa perih pun menyayat hati Faustino Asprilla, yang keluar dari tim Kolombia menyusul selisih paham dengan pelatih Dario Gomez. Tino kecewa karena diganti pada pertandingan perdana grup G, Senin (15/6/1998), melawan Rumania yang berakhir dengan kekalahan itu. Kita tidak lagi melihat aksi Tino yang lincah, atraktif dan menggemaskan dalam penampilan Kolombia berikut melawan Inggris dan Tunisia. Untung nasib Tino tak sekejam Escobar pada USA 1994 yang ditembak mati karena membuat gol bunuh diri.

Syukurlah, France ‘98 masih punya Jose Luis Chilavert. Jose, kiper paling nyentrik itu akan memimpin Paraguay menghadapi Spanyol malam ini atau Sabtu dinihari (20/6/1998) pukul 03.00 Wita. Di tangan Jose Luis tim Clemente menggantungkan nasib, apakah masih berpeluang lolos atau masuk kotak menyusul kekalahan 2-3 dari Nigeria Sabtu lalu. Jika kalah lagi, Spanyol menjadi penonton dan paling awal pulang ke bumi matador.

Jose Luis (33) adalah kiper sekaligus kapten tim yang gigih. Di bawah komandonya, Paraguay sukses menahan Bulgaria 0-0 dalam pertandingan perdana grup D. Gawang Jose tak mudah ditembus. Aksinya di bawah mistar – baik untuk klubnya Velez Sarsfield Argentina maupun tim nasional – selalu lembut menyergap tembakan musuh, cepat sergap, tepat posisi dan waktu. Jose Luis juga piawai mengambil tendangan bebas dari bola mati sehingga ia cukup sering mencetak gol, hal langka dan sulit bagi kiper-kiper lain.

Ironisnya, gemulai lembut aksi Jose di bawah mistar bertolak belakang dengan sikapnya yang temperamental, doyan bakupukul dan suka sensasi. Sensasi terkini Jose Luis adalah memberi saran di TV Jepang tentang bagaimana caranya mengalahkan Argentina. Argentina memang unggul 1-0 atas Jepang, tetapi ulah Jose membuat dua senator dari partai berkuasa Argentina, Selasa (16/6/1998), menyampaikan mosi agar Jose di-persona non grata.

Malam nanti, Jose Luis pasti beraksi lagi dengan target tunggal Paraguay mesti meraih nilai terbaik agar aman ke 16 besar. Tekad yang sama menyala di dada Javier Clemente, pelatih Spanyol yang telah babak-belur dimaki pers Spanyol dan penggemar matador karena timnya mati dipatuk “Elang” Nigeria. Bisa dibayangkan betapa ketatnya perang ini. Hidup atau mati!

Untuk menang, Spanyol harus mampu mengoyak “keperawanan” jaring Jose Luis. Sanggupkah Raul Gonzalez, Alfonso Peres, Morientes dan Kiko Narvarez? Tidak mudah menjawab ya, jika Clemente tidak melakukan sejumlah reformasi dalam timnya.

Dengan segudang bintang berpengalaman, Clemente sebenarnya tidak sulit meramu tim solid karena cuma sedikit memperbaiki blok tengah dan belakang. Kapten Zubizarreta jangan buat kesalahan sama seperti menghadapi Nigeria. Fernando Hierro harus lebih disiplin galang pertahanan dan Luis Enrique kiranya tidak egois mengutak-atik bola di lapangan tengah. Dan, Raul atau Morientes tidak perlu mudah gugup menghadapi aksi sang “badut” Jose Luis. *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Jumat, 19 Juni 1998.  Artikel ini dibuat menjelang pertandingan antara Paraguay melawan Spanyol di babak penyisihan Piala Dunia 1998. Secara khusus menulis tentang Jose Luis Chilavert, kiper Paraguay yang penampilannya nyentrik.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes