Sebaiknya "Kuda Melawan Setan"

JUVENTUS "membunuh" Ajax di rumahnya sendiri dalam putaran pertama babak semifinal Liga Champions Eropa 1997, Kamis dini hari Wita (10/4/1997). Kisah sukses tim "kuda zebra" itu seakan tak berkesudahan. Sukses di Amsterdam melengkapi keperkasaan Juve mencukur AC Milan 6-1 di Liga Italia Serie A, hari Minggu (6/4/1997).

    Julukan The Dream Team saat ini rasanya hanya pantas untuk Juventus. Merekalah klub terbaik planet ini. Juventuslah tim superstar dunia. Turun di Amsterdam tanpa Alesandro Del Piero, Alen Boksic dan Padovano - penampilan Juve tetap elegan, taktis dan mematikan. Itu berarti, Juve memang tak tergantung pada para pemain bintang. Semua pemain memiliki kemampuan yang sama karena roh permainan tim adalah kerja sama.

    Marcello Lippi sekali lagi membuktikan keampuhan strateginya meredam irama total football pasukan Louis van Gaal. Skor Lippi atas Van Gaal kini menjadi 2-0. Skor pertama diraih Lippi saat mengubur Ajax pada final Liga Champions 1996 di Roma.

    Anda yang menyaksikan langsung pertandingan kemarin melalui RCTI  kiranya tak mengingkari bahwa Juventus bermain sangat baik. Juve sukses mengatur irama pertandingan 2x45 menit dengan menerapkan disiplin ketat dan penetrasi tepat waktu ke jantung pertahanan Ajax. Keunggulan 2-0 pada babak pertama adalah bukti solidnya Ciro Ferrara dkk. Duet Cristian Vieri dan Nicola Amoruso di lini depan - makin menampakkan ketajamannya.

    Ajax kalah, keindahannya justru terletak pada rasa kesal dan kecewa yang mengoyak-ngoyak hati 45.000 pendukungnya. Para Amsterdamers (julukan pendukung Ajax) yang merindukan timnya kembali merajai Eropa - kali ini kembali mengurut dada.

    Kebesaran Ajax tidak tampak sama sekali dalam pertandingan itu. Rapuhnya lini pertahanan dan bermain di bawah tekanan target "harus menang" adalah sisi kelemahan Ajax. Pemain-pemain Ajax yang biasanya seperti menari saat mengolah kulit bundar di lapangan - malah sering salah memberikan bola dan begitu mudah digagalkan tim juara bertahan.

    Kehadiran Perdana Menteri Belanda, Wim Kok di Stadion Arena tak banyak membantu. Yang pasti kehadiran PM Wim Kok adalah bukti betapa berartinya Ajax bagi orang  Belanda. Belanda memuja Ajax sering melebihi dewa, karena Ajax identik dengan jiwa sepakbola Belanda. Jadi, bila Ajax kalah, seluruh Belanda ikut berduka cita sedalam-dalamnya. Anda yang mengagumi Ajax, rasa sedih pun sulit ditanggalkan.

    Namun, jangan marah pada tim "kuda zebra" yang memang bertenaga kuda itu - sebab mereka pantas menang. Jauhkan rasa bencimu pada Italia, bila dalam pertandingan semifinal kedua di Turin 23 April 1997, sukses Ajax merupakan suatu keajaiban.

***

    MELIHAT hasil pertandingan kemarin, secara pribadi saya lebih memilih babak final Liga Champions 1997 mempertemukan Juventus melawan Manchester United (MU) - meski tim "Setan Merah" dari Inggris ini takluk 0-1 di kandang Borussia Dortmund, Jerman. Mengapa final impian sebaiknya tim "kuda zebra melawan setan?" Saya memiliki pertimbangan sederhana. Juventus agak mustahil untuk kalah dalam pertemuan kedua di kandang sendiri. Dengan kekuatan seperti sekarang - sulit bagi Ajax membalikkan keadaan.

    Kekalahan MU dari Dortmund boleh dilukiskan sebagai nasib sial karena penampilan Eric Cantona dkk sesungguhnya amat menawan. Ada tiga peluang emas yang seharusnya membuahkan gol. Sebaliknya, gempuran bergelombang Dortmund yang dikoordinir bintang tim nasional Jerman, Andy Moller dan Mathias Sammer seakan menghantam tembok pertahanan "Setan Merah".

    Dalam pertandingan di Old Traford dua pekan mendatang, tim berintikan pemain muda ini bakal menghentak dan tak mungkin mengampuni juara Jerman. Target MU adalah melaju ke babak final. Bila Juventus bertemu MU duel puncak sungguh memikat. Gaya main ala Italia vs Britania akan beradu teknik di lapangan. Coba bayangkan sendiri, bagaimana serunya pertandingan antara kuda melawan setan? Saya tak berani memastikan siapa yang lebih kuat. **


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Jumat, 11 April 1997. Artikel ini setelah pertandingan babak semifinal pertama Piala Champions 1997 antara  Juventus vs Ajax dan MU vs Borussia Dortmund.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes