Hitam Manis dan Om Gundul

ilustrasi
MENURUT ilmu bumi, tekstur tanah punya watak beragam. Tanah liat menghasilkan lumpur, tanah hitam menawarkan kesuburan, si putih membentuk tembok dan tanah berpasir membuat sesak napas. Nah, untuk 12 tim turnamen El Tari Memorial Cup 1999 di Ende, saya ingin memberi tahu bahwa Anda jangan lupa sedang beradu kaki di atas pasir hitam. Pasir hitam ini khas dan mungkin cuma ada di Ende. Yang memproduknya saban hari adalah 'si gadis' manis yang tak putus dirundung malang bernama Iya (gunung  Iya) sejak ia menangis  Februari 1969. Tahun yang sama lahir El Tari Memorial Cup di bumi Flobamora. Ia redup memandang laut selatan, mengepulkan asap tipis dan diam seribu bahasa.

    Pasir hitam memang ada di Pantai Brasilia, negeri Roberto Carlos. Juga di Pulau Pantar, di tanah air Persap. Tapi di Ende, pasir hitam menjadi khas karena ia senang gundul, kurang suka yang kumisan. Padahal rumput yang merupakan kumis-kumis hijau adalah syarat ideal lapangan bola, kerinduan setiap seniman kulit bundar. Apa mau dikata, Stadion Marilonga maupun Lapangan Perse dari sononya sudah bermental pasir hitam manis.

    Artinya bagi anak-anak gunung dari Manggarai, Ngada, Sumba Barat dan SoE, cukup sukar beradaptasi di sini karena terbiasa main di atas permadani rumput hijau dan tanah hitam. Putra Nagi, Lewotana Lembata, Kupang, Alor, Waingapu maupun anak-anak Persami memang sudah biasa bermain pasir.

***

    SETIAP pemain maupun pelatih tim sepakbola mutlak mempelajari tekstur tanah arena pertandingan. Setelah bermain satu atau dua kali dalam turnamen ini, pemain tamu dari 11 daerah di NTT tentunya sudah merasakan kharakter dua lapangan di Ende. Di atas lapangan berpasir hitam, tidak mudah mengalirkan bola dari kaki ke kaki. Paling ideal bola digulirkan dalam jarak 3 sampai 6 meter. Jika jaraknya lebih dari itu akan tersendat lajunya. Gerak kaki saat berlari pun terasa berat, karena sepatu seperti digigit pasir hitam. Akan beda jika Anda berlari di atas tanah liar Oepoi Kupang yang pada musim panas begitu keras dan pada musim hujan berlepotan tanah merah darah. Juga lain bila Anda merumput di Stadion Lebijaga Bajawa atau Motang Rua Ruteng  yang lembut dan mulus itu.

    Yang paling ideal diperagakan bila main di lapangan berpasir adalah bola-bola atas atau operan setengah dada. Tetapi kekuatan tembakan tidak boleh terlalu panjang, karena rekan yang menerima akan sulit mengontrol. Malah bisa kehilangan bola. Kalau doyan bola-bola pendek seperti ciri Persap, PSK Kodya Kupang dan anak asuh Om Kus Parera dan Cor Monteiro, maka harus diupayakan sependek mungkin agar arah bola yang hendak dituju tepat. Kalau operan panjang menyusur tanah, maka sulit diterka apakah operan tersebut sampai ke sasaran yang dituju, karena bola biasanya kurang mulus bergulir di atas lapangan berpasir. Pasir juga membuat bola tidak melenting sesuai keinginan pemain.

    Penonton yang cermat pasti merasakan betapa gocekan pemain saat bertanding di Marilonga maupun di Perse cukup mudah dibaca lawan. Pemain yang suka mengutak-atik bola, justru kelabakan sendiri karena pasir menghalangi gerakan kakinya. Pengalaman PSN Ngada melawan Persesba Sumba Barat maupun duel Perse Ende vs Perseftim di Stadion Marilonga, sudah membuktikan hal itu. Saya kira Persim cerdik membaca kondisi ini, sehingga mereka sanggup menelan Persebata 4-2 di Lapangan Perse Jumat lalu. Juga pasukan Jack Lay saat membungkam Persap 2-1 di Marilonga, kemarin. Untuk lapangan berpasir, seorang pemain tak perlu asyik mengutak-atik. Cukuplah dengan satu dua sentuhan kemudian mengalirkan bola kepada rekan-rekannya yang berdiri bebas. Itulah sedikit kiat menurut versi saya yang awam bermain bola.

    Bagaimana kiat-kiat jitu lainnya saat bertarung di atas kepala om gundul, saya tidak mau beritahu karena memang tidak tahu. Saya yakin para pelatih dan pemain 12 tim perserikatan paham kiat paling mujarab guna meraih impian berada di Puncak El Tari Memorial Cup '99. Cuma saya menyarankan, jangan salahkan pasir hitam yang lahir dari kandungan si manis Iya dan lapangan tanpa rumput bila Anda kalah. Karena pasir hitam di Marilonga-Perse adalah alat penguji mutu menuju tangga kehormatan.

    Artinya, si pasir hitam manis bisa membawa prahara. Om gundul membuka peluang tragedi, bisa menyajikan menu untung dan buntung bagi Anda. Ia dapat memberi berkah sekaligus petaka, menghadirkan sukacita dan dukalara bila tidak piawai menggunakannya. Saya percaya, Anda semua adalah seniman bola yang muskil kalah sebelum berperang di tanah Tri Warna. Jangan cemas eja! ***


 Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Minggu, 28 November 1999. Artikel ini dibuat berkaitan dengan kondisi lapangan di Stadion Marilonga Ende serta Lapangan Perse yang menjadi arena kejuaraan sepakbola El Tari Memorial Cup 1999.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes