Menghormati Masa Kritis

MASA KRITIS atau injury time tiba-tiba menjadi sangat menonjol di ajang France 98 yang Rabu pagi dinihari Wita (1/7/1998) telah menyelesaikan babak perdelapanfinal. Brasil takluk 1-2 pada Norwegia 24 Juni 1998 justru terjadi ketika pertandingan tinggal satu menit. Keunggulan Chili atas Italia maupun Kamerun sontak hilang pada detik-detik akhir. Paraguay harus angkat kaki dari Perancis meski sempat bertahan selama 114 menit atau tinggal enam menit penentuan pemenang harus melalui adu penalti.

    Kemenangan dramatis Nigeria 3-2 atas Spanyol pada 13 Juni terukir di masa kritis. Demikian pula dengan Meksiko. Tanggal 25 Juni 1998, Belanda yang telah unggul 2-0 berhasil diredam 2-2 berkat gol Luis Hernandez menit ke-89. Jerman yang nyaris ambruk ditinggalkan 0-2 oleh Yugoslavia mampu bangkit dan bermain draw lewat gol sundulan kepala Oliver Bierhoff menjelang bubar.

    Kisah terbaru diperlihatkan Jerman dan Belanda dalam pertandingan babak perdelapanfinal. Oliver Bierhoff - pemain yang tak lama lagi bergelar doktor ekonomi dan penyayang anak-anak itu - untuk kesekian kalinya menjadi "juru selamat" Jerman. Golnya ke gawang Meksiko empat menit menjelang bubar, meloloskan Jerman ke perempatfinal. Juga Belanda sangat beruntung memiliki pekerja keras seperti Edgar Davids. Tembakan gledek Davids dari luar kotak penalti pada masa injury time memberikan tiket perempatfinal bagi tim Oranye. Yugoslavia yang sudah berharap hasil imbang 1-1 sehingga pertandingan diperpanjang 2x15 menit dan kemungkinan adu penalti terpaksa gigit jari.

***

    DALAM permainan sepakbola, masa kritis amat penting dan wajib dihormati. Orang bola umumnya mengenal masa kritis adalah tenggang waktu di atas menit ke-40. Dalam setiap pertandingan resmi, injury time diumumkan secara terbuka kepada wasit, kedua tim maupun penonton. Biasanya inspektur pertandingan mengangkat papan yang menunjuk angka 1,2,3 atau 4. Angka-angka  tersebut menunjuk satuan menit akan berakhirnya pertandingan. Jika angka-angka tampak bervariasi, hal itu disesuaikan dengan fakta lapangan dalam setiap pertandingan. Meski jarum waktu sudah menunjuk angka menit 45 -- pertandingan baru berakhir sampai menit ke-47, 48 atau 49. "Penambahan" itu karena ada saat dalam periode waktu 45 menit dihentikan wasit karena suatu insiden, misalnya seorang pemain harus dirawat karena cedera atau insiden lainnya.

    Secara psikologis, masa kritis umumnya kurang dihargai oleh tim yang telah unggul atau mengharapkan hasil akhir seri. Pada saat itu sebuah tim cenderung bermain santai karena tinggal menanti peluit akhir wasit. Caranya bisa  dengan mengutak-atik bola di jantung pertahanan sendiri, memperlambat tempo pertandingan atau bertahan total dari tempuran lawan. Justru pada titik inilah sering lahir tragedi. Tim yang cerdik akan menyerang habis-habisan dengan segala cara dan ketahanan fisik yang masih tersisa. Jika lawannya lengah, kesalahan sekecil apapun dapat menjebloskannya ke kamar derita yang tak tertanggungkan.

    Ada juga kekalahan pada masa kritis terjadi karena sebuah tim keasyikan menyerang lalu lupa menjaga pertahanan. Belanda dan Brasil yang sampai hari ini tetap menjaga komitmennya pada sepakbola menyerang itu cukup sering menelan prahara ini. Ketika melawan Jerman Barat di final Piala Dunia 1974, Johan Cruyff dkk menggempur tanpa henti dari seluruh penjuru lapangan hingga saat-saat akhir pertandingan.

    Namun, tatkala Cruyff dkk menari girang dan meliuk-liuk manja laksana balerina yang membuat penonton mabuk kepayang, Beckenbauer memimpin rekan-rekannya mencuri kesempatan emas. Beckenbauer membuktikan bahwa ia pantas menjadi "Kaisar" setelah Muller mecetak gol kedua untuk kemenangan Jerman 2-1 sekaligus merebut juara. Cruyff yang tadinya bergoyang ria tiba-tiba menjerit. Dunia pun seolah berhenti berputar di negeri kincir angin. Dan bunga tulip satu demi satu gugur dihempas angin musim!

    Belajar dari pengalaman pahit itulah, tim-tim elit dunia sangat menghormati masa kritis dengan cara menekan risiko kesalahan sekecil mungkin. Kendati tidak luput dari nuansa keberuntungan, tim-tim raksasa  semisal Belanda, Brasil, Jerman, Italia dan Argentina  tidak mau kecolongan pada masa injury time. Gaya "sapu bersih" bola ke luar lapangan, misalnya, merupakan salah satu kiat sebuah tim menghindari kekalahan.

    Di arena Piala Dunia Perancis 1998 ini yang pertama kali menerapkan golden goal, setiap tim yang masih bertahan akan berusaha menjauhi kesalahan saat kritis. Oleh karena itu, bisa dimengerti jika Yugoslavia sangat defensif terhadap Belanda pada akhir babak kedua. Masuk akal jika hampir seluruh pemain Meksiko dan Paraguay turun ke jantung pertahanan pada detik-detik akhir. Sayangnya, langkah itu tidak menolong mereka dari kekalahan.

    Sama seperti bangsa Indonesia yang kini sedang menghadapi krisis ekonomi, sikap waspada saat injury time memang tidak bijak dibangun dengan semangat spekulasi apalagi berjudi. Masa kritis harus diolah secara rasional dengan prinsip-prinsip obyektif. Irasionalitas atau sikap "untung-untungan" tidak akan membawa sebuah kesebelasan pada suatu kejayaan sejati. **


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Rabu, 1 Juli 1998. Artikel ini  menceritakan tentang kejatuhan tim-tim peserta Piala Dunia 1998 pada masa kritis (injury time).  Mereka lengah menjelang pertandingan berakhir.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes