Bermain Bola sebagai Ekspresi Kebebasan

Cesare Maldini (afp)
CESARE MALDINI menampilkan orkes simfoni paling indah di Wembley, Rabu malam waktu London atau Kamis dini hari Wita (13/2/1997). Cesare, kakek berusia 65 tahun itu memimpin malam orkestra terakbar awal tahun ini yang membuat 70.000 penonton Inggris harus terisak pada akhir konser yang memabukkan itu.

    Yah, di bawah pimpinan Cesare Maldini serta komando putra sulungnya Paolo Maldini, Italia mengalahkan Inggris 1-0 di Stadion Wembley dalam penyisihan Piala Dunia 1998 grup II zona Eropa. Bagi penggemar St. George Cross, kekalahan itu sangat menyakitkan. Inilah kekalahan pertama Inggris di kandang sendiri dalam penyisihan Piala Dunia selama 30 tahun terakhir.

    Sebelumnya hanya kesebelasan Samba Brasil yang pernah menaklukkan Inggris di Wembley, stadion paling angker bagi tim tamu kesebelasan Britania. Jerman, juara dunia tiga kali harus menunggu hingga adu penalti sebelum sukses menggulingkan Inggris di semifinal Euro 1996 lalu.

    Italia luar biasa. Datang ke London sebagai underdog - bahkan diterima dengan sikap sinis khas orang Inggris yang terkenal angkuh - Cesare Maldini justru mematahkan mitos, mempersembahkan hasil gemilang bagi negeri Pizza yang selama ini prestasi sepakbolanya kusam dan tak lagi bernyali.

    "Pertandingan ini penting tetapi tidak menentukan". Demikian rumor yang muncul sebelum "perang" dua raksasa Eropa itu berlangsung. Penting karena kedua negara adalah pemegang mazhab sepakbola di benua paling tua itu. Penting karena Inggris adalah negeri leluhur bola dan Italia adalah juara dunia tiga kali. Tidak menentukan lantaran hasil pertandingan ini bukan satu-satunya langkah menuju Perancis tahun depan. Masih ada lima pertandingan sisa di babak kualifikasi guna memastikan tim mana dari Grup II yang berhak terbang ke Paris medio 1998.

***

    KETIKA Cesare mengggantikan Arrigo Sacchi sebagai pelatih tim nasional senior 15 Desember 1996, pers dan masyarakat Italia agak meragukan kemampauannya.  Cesaare dinilai tidak berbeda jauh dengan Sacchi yang "nyentrik" itu. Namun, hasil di Wembley Kamis lalu memberikan poin penting bagi Cesare dalam kariernya sebagai pelatih pasukan biru (Azzuri). Hasil itu sedikit membungkam kecerewetan orang Italia yang  gila bola dan berharap tim Azzuri selalu menang.

    Apa kiat sukses Cesare Maldini di Wembley? Cesare ada model pelatih dengan pola pikir sangat sederhana. Dalam banyak hal, ia justru lebih berperan sebagai 'ayah' bagi para pemain ketimbang pakar strategi di lapangan. Soal strategi, Maldini bahkan kalah hebat dibanding Sacchi, Capello atau pelatih top Italia lainnya.

    "Pelatih bukanlah juru selamat. Memang atau kalah dalam suatu pertandingan, pemainlah yang menentukan," ujar Cesare suatu saat di pertengahan 1996 ketika membawa tim yunior Italia menjuarai Piala Eropa ketiga kalinya berturut-turut. Pernyataan itu merupakan filosofi Casare dalam melatih dan bermain bola. Ia sangat menyayangi pemainnya, seburuk apapun kualitas pemain itu.

    Cesare mewujudkan kecintaannya terhadap pemain dengan memberikan kebebasan yang utuh. Ini berbeda dengan Sacchi yang cenderung otoriter. Casere biasanya tidak asal perintah, tidak gegabah memberikan instruksi. Pendekatannya selalu berlangsung dari hati ke hati. Dalam pola pandang Cesare, hanya dalam suasana kemerdekaan batin, kreativitas pemain bisa muncul di lapangan.

    "Saya pindah dari Parma ke Chelsea justru karena kebebasan saya di Parma terkekang," kata Gianfranco Zola, si cebol berotak jenius yang menjebol gawang Inggris pada menit ke-19. Dalam polesan tangan Cesare, Zola yang lebih suka sebagai striker dengan ruang gerak tanpa batas memang menemukan jati dirinya. Ia bermain begitu lugas, taktis dan mematikan.

    Selama 2x45 menit di Wembley, Cesare membangun kekompakan tim yang menawan. Gempuran Inggris yang 75 persen mendominasi pertandingan seperti membentur tembok. Kebebasan yang diberikan Cesare membuat Paolo Maldini dkk merasa satu hati dalam bertahan dan menyerang. Kerja sama antarlini begitu apik. Nyaris tak satupun pemain  Inggris bebas dari kawalan.

    Penggemar bola pun pasti sepakat, sukses Italia mengalahkan Inggris bukan karena mereka memiliki pemain bintang. Sukses itu dominan karena filosofi Cesare Maldini yang rendah hati dan menggangap semua pemain sama hebatnya. Dengan sikap dasar itulah, kita bisa memahai mengapa Cesare tidak terlalu memuji Zola sang penentu kemenangan. "Zola mencetak gol adalah tugasnya," kata Cesare.

    Kakek ini berkata benar, sebab sepakbola adalah permainan tim, berkekuatan 11 orang. Kebebasan tidak lalu berarti setiap pemain berbuat sesuka hatinya. Sebelas aktor harus kompak memainkan simfoni agar terdengar indah memabukkan lawan. **

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Minggu, 16 Februari 1997.  Artikel ini dibuat setelah Italia mengalahkan Inggris 1-0 di Stadion Wembley London dalam penyisihan Grup II Zona Eropa untuk  Piala Dunia 1998.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes