Unggul karena Sama-Sama Takut

GRANDFINAL kejuaraan sepakbola Piala Dunia ke-16 memang belum tiba waktunya, tetapi Brasil dan Belanda telah memperlihatkan real final yang sesungguhnya di Stade Velodrome Marseille, 7 Juli 1998 atau Rabu dinihari Wita (8/7/1998).

Selama dua jam penonton sangat terhibur oleh aksi menawan kedua tim memperagakan kemampuan terbaik.
Hiburan itu terasa lebih bobotnya karena diselingi ketegangan yang luar biasa sejak Wasit Ali Mohamed Bujsaim (Uni Emirat Arab) meniup kick off hingga tembakan Ronald de Boer ditepis Claudio Taffarel untuk kemenangan Samba 4-2 (1-1) dalam adu penalti.
   
Rasanya belum pernah ada pertandingan sedramatis itu selama France 98 bergulir 10 Juni lalu. Sukses Argentina mengalahkan Inggris 6-5 dan kemenangan Perancis 4-3 atas Italia lewat adu penalti, juga sempat menimbulkan rasa tegang. Tetapi kadarnya tidak sebanding pertemuan Belanda vs Brasil yang hampir pasti menyedot penonton dan pemirsa terbesar selama event ini.   

    Drama itu perlu digarisbawahi karena untuk pertama kalinya tim super sekelas Brasil dan Belanda memasuki lapangan dengan perasaan takut. Keduanya sama-sama takut kecolongan. Brasil takut terhadap nama besar Belanda, demikian pula sebaliknya. Tetapi justru dalam suasana sama-sama takut itulah secara moral Brasil lebih unggul. Perasaan takut terekspresi jelas selama 120 menit. Tidak seperti menghadapi lawan-lawan mereka sebelumnya, Brasil dan Belanda malam itu tidak asal menyerang.

    Total football Belanda yang lazimnya menggempur dengan kekuatan penuh lewat aksi pemain tiga lini (belakang, tengah, depan) saat menghadapi Samba selalu menyisakan dua pemain di jantung pertahanan sendiri, Jaap Stam dan Frank de Boer. Di kubu Brasil, Aldair dan Junior Baiano tidak sekalipun berani naik sampai area penalti Oranye sewaktu Ronaldo cs berusaha mengepung lawan.

    Masuk akal bila strategi itu diambil Mario Zagallo dan Guus Hiddink. Kedua pelatih sama-sama memahami bahwa peluang yang harus dimanfaatkan hanyalah serangan balik, ketika pertahanan musuh agak longgar. Jika serangan bersifat konvesional, melalui lini tengah atau menusuk dari sayap, tidak mudah menembus lawan. Sebab kharakter Samba dan Oranye mirip sekali. Para pemainnya memiliki insting yang sama kuat untuk menyerang maupun bertahan. Sistem zona marking (pertahanan wilayah) dan man to man marking (penjagaan satu lawan satu) pun sama baiknya. Selama babak pertama dengan skor 0-0 itu, tampak nyata Brasil dan Belanda bermain agak lamban. Kesan lamban itu sebetulnya merupakan taktik pelatih yang tidak mau terpancing duluan untuk menyerang total lalu kecolongan.

    Terjadinya gol Ronaldo, pemain terbaik dunia 1996 dan 1997 pada detik ke-30 babak kedua, merupakan hasil serangan cepat dan memanfaatkan kelengahan pemain belakang Belanda, Stam, Frank de Boer dan Philip Cocu yang belum siap. Sesaat setelah wasit meniup peluit dimulai babak kedua, Rivaldo yang bergerak dari sayap kiri melihat adanya celah ini. Dia langsung memberikan umpan lambung jarak jauh kepada Ronaldo yang berdiri bebas hanya beberapa meter di luar kotak 16. Di sinilah Ronaldo memperlihatkan daya dobrak serta kekuatan larinya sambil mengocek bola dengan prima. Cocu yang berusaha menghadang kalah cepat karena Ronaldo lebih gesit memasukkan bola ke gawang lewat selangkangan Edwin van Der Sar.

    Setelah unggul 1-0 itu, Brasil tidak mau memforsir serangan karena cemas akan serangan balik Belanda. Meskipun tidak murni defensif, setelah gol Ronaldo itu para pemain Brasil memfokuskan perhatian dengan membendung laju Dennis Bergkamp dkk di lapangan tengah. Pertarungan blok tengah sangat seru dan menegangkan karena Belanda ingin menyamakan kedudukan. Didukung empat gelandang - terutama Edgar Davids yang bermain sangat baik - Belanda berkali-kali menggedor gawang Brasil. Namun kurang tenangnya Kluivert membuat banyak peluang gagal menghasilkan gol.

    Umpan akurat Ronald de Boer menit ke-52, gagal disambar Kluivert, 13 menit kemudian Kluivert juga gagal memanfaatkan umpan Bergkamp, meski dia tinggal berhadapan dengan Taffarel. Saat Belanda keasyikan menyerang, melalui counter attack Ronaldo dua kali mengancam gawang Belanda. Pada menit ke-63 tendangannya berhasil diblok Van der Sar dan kedua pada menit ke-75 ketika sontekannya cuma meluncur tipis di sisi kanan gawang Edwin.

    Menit ke-65 dan 71, Kluivert gagal lagi menanduk bola dengan tepat ke gawang Taffarel. Masuknya Pierre van Hooijdonk menit ke-75 menggantikan Boudewijn Zenden membuat konsentrasi Aldair, Baiano, Roberto Carlos dan Ze Carlos (Ze menempati posisi Cafu yang tidak main karena akumulasi dua kartu kuning) terpecah. Aldair dkk bingung mau menjaga Hooijdonk atau Kluivert di area terlarang. Terbukti saat pertandingan tinggal empat menit, Kluivert yang berdiri agak bebas sukses menanduk bola ke gawang Taffarel memanfaatkan umpan akurat Ronald de Boer dari sayap kiri Brasil. Skor 1-1 itu mengharuskan pertandingan diperpanjang 30 menit dengan sistem gol emas, tetapi kehati-hatian kedua tim yang sama-sama takut kecolongan menyebabkan tidak satupun gol yang lahir dan Brasil secara moral sudah menang pada titik ini.

    Sejarah Piala Dunia sejak 1930 telah membuktikan Brasil jarang gagal dalam adu penalti. Negara yang menempatkan sepakbola sebagai "agama" kedua itu selalu memiliki eksekutor terbaik di kotak penalti. Latihan rutin membuat anak Brasilia biasa saja sekalipun beban psikologis sangat berat pada pertandingan penting. Apa yang dilakukan Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga ke gawang Van Der Sar amat sempurna. Sebaliknya Philip Cocu dan Ronald de Boer terkesan gugup sehingga tembakannya dengan enteng diblok Taffarel.

    Mohon maaf Belanda. Untuk kesekian kalinya. Anda harus pulang dengan tangan hampa meski di France 98 penampilanmu sangat berkesan. Dan, Samba selangkah lagi akan meraih juara kelima kalinya, mempertebal mitos hanya Brasil yang bisa juara di bumi Eropa sekaligus mempertahankan gelar. Luar biasa! **

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi  Kamis, 9 Juli 1998. Artikel ini dibuat setelah pertandingan semifinal Piala Dunia 1998 antara Belanda melawan Brasil.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes