GST

MULUTMU harimaumu. Begitu kata pepatah. Mulut salah seorang pemimpin formal negeri ini seolah memuntahkan "lahar panas" bagi Indonesia yang sedang bermuram durja akibat banjir Wasior, tsunami Mentawai dan erupsi Merapi.

Hari Rabu 27 Oktober 2010 atau dua hari pasca tsunami di Kepulauan Mentawai, Ketua DPR RI, Marzuki Alie mengatakan, bencana alam seperti tsunami merupakan risiko warga yang tinggal di pulau seperti Mentawai. Jika tidak ingin menghadapi risiko itu, sebaiknya pindah. "Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah," kata Marzuki enteng.

Kalau menuruti cara berpikir Marzuki, maka puluhan juta jiwa penduduk Indonesia yang kini mendiami ribuan pulau kecil di seantero Nusantara harus pindah demi terhindar dari tsunami. Pindah ke mana? Ke Pulau Jawa yang sesak berdesak, ke Kalimantan yang menggundul, Sulawesi dan Sumatera yang langganan banjir atau Papua yang kekayaan alamnya terus dikuras dan diperas? Apakah perpindahan itu otomatis menyelesaikan masalah? Cara berpikir pemimpin lembaga terhormat di ini negeri sungguh menggampangkan persoalan.



Maka wajar jika statement Marzuki yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu dilukiskan sejumlah tokoh sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan berwawasan sosial (baca Kompas, 29 Oktober 2010 halaman 4). 

Simak beberapa tanggapan berikut. "Tanggung jawab kita sebagai pemimpin adalah merumuskan pengelolaan pulau-pulau terutama di perbatasan dengan lebih baik, bukan menyuruh penduduknya pindah. Kalau tidak ada penduduk di pulau-pulau itu lalu diambil pihak lain, kita bagaimana?" kata Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham.

"Urusan publik itu amat kompleks dan jangan disederhanakan. Untuk masalah sosial, ada banyak faktor seperti relasi budaya, relasi sosial hingga ekonomi dan politik," tutur pengajar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago. Chaniago menilai, Marzuki Alie kurang mampu berpikir kompleks dan berwawasan sosial.

"Dia itu mengerti tidak sih? Indonesia ini negeri kepulauan," kata mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga yang juga penggagas Partai Demokrat, Adhyaksa Dault. Adhyaksa benar! Ada 17.504 pulau di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, baru sekitar 6.900 pulau yang punya nama. Sisanya belum punya nama yang diakui secara internasional. Memberi nama pulau milik sendiri saja kita gagap, 
eh malah suruh warga pulau pindah. Edan! 

Ketika lebih dari 700 warga Mentawai, Sumatera Barat meregang nyawa dalam sekejap disapu tsunami pada kegelapan malam, Senin (25/10/2010) disusul letusan Gunung Merapi, Selasa (26/10/2010) yang menewaskan 35 orang, pimpinan DPR RI mestinya mengucapkan sesuatu yang bersifat empati serta menawarkan solusi. Bukan menambah luka dengan kata-kata. Kata lebih tajam daripada pedang. 

Kontroversi pernyataan Marzuki Alie memang lekas "tenggelam" dalam lautan tangis dan air mata korban Mentawai dan Merapi. Energi bangsa ini pun tidak serta- merta terserap untuk menanggapi pernyataan tersebut. Toh ada yang lebih penting dikerjakan yakni membantu para korban bencana.

Namun, pernyataan itu setidaknya mewakili empati sosial yang bergulir di negeri ini. Dalam hal membantu sesama yang menderita, pemimpin kita selalu kalah cepat dibandingkan rakyat kecil. Kalah gesit dibanding orang-orang tanpa pangkat dan jabatan. Bahkan kalah cerdas dibandingkan kaum kebanyakan. Itulah bencana yang lebih mengerikan dibanding bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi atau tsunami. Bencana terbesar di Indonesia, termasuk di kampung kita -- dari waktu ke waktu justru bencana kemanusiaan. Bencana yang disebabkan ketidakpedulian atau keangkuhan.

Bencana akibat pemimpin menganggap remeh gejala alam, mengelola bencana ala pemadam kebakaran. Jatuh korban dulu baru sibuk. Mati dulu baru buru-buru tunjuk hidung. Ada juga yang sama sekali tak peduli. Masa bodoh. Dalam musibah tenggelamnya KM Karya Pinang di Flores, 22 Oktober 2010 yang menewaskan 23 orang, tuan dan puan kiranya tahu siapa pemimpin yang peduli. Siapa pemimpin yang tetap sibuk dengan urusannya sendiri. Menyedihkan sekali!

Kembali ke soal bencana gempa bumi, tsunami atau gunung meletus, beranda Nusa Tenggara Timur tinggal menunggu waktu. Mungkin hari ini, besok atau lusa. Tragedi itu bisa terjadi kapan saja. Betapa pun ilmu pengetahuan dan teknologi makin canggih, namun sampai detik ini belum mampu menjawab kapan persisnya gempa bumi dan tsunami terjadi. 

Khusus tentang tsunami, beta memandang perlu mengutip Subandono Diposaptono, penulis buku Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami. Menurut catatannya, sejak tahun 1600-2010 telah terjadi 110 kali tsunami di kawasan pesisir Indonesia. Artinya, dalam rentang waktu tersebut terjadi tsunami empat tahun sekali. 
Namun, sejak tahun 1960 hingga 2010, kejadian tsunami makin meningkat. Dalam 50 tahun terakhir ini terjadi 23 kali tsunami di pesisir Indonesia, termasuk tsunami Flores 1992, Aceh 2004 dan Mentawati 2010. Gempa diikuti tsunami makin sering terjadi. Adakah semangat "sadar tsunami" tumbuh di beranda Flobamora? Adakah agenda aksi konkrit untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dari tsunami bagi warga pesisir? 

Kebetulan NTT sedang demam dengan gerakan, misalnya Gerakan Masuk Laut, Gerakan Pulang Kampung, Gerakan Tanam Pohon dan gerakan-gerakan lainnya, izinkan beta usul satu lagi. Mari kita galakkan Gerakan Sadar Tsunami (GST). Agenda aksi: Setiap akhir pekan, pemimpin sampai rakyat jelata, politisi hingga akademisi, aktivis LSM, tokoh masyarakat, pemuda, pastor, pendeta, ustad dan lain- lain rela turun ke kawasan pesisir. Ramai-ramai tularkan cara menyelamatkan diri dari gempa dan tsunami yang datang tak pasti itu. 

Buat kawan-kawanku yang sadar SPPD, banjiri saja dia dengan SPPD ke pulau- pulau kecil rawan tsunami demi menyadarkan sesama tentang bencana ini. Makin banyak orang sadar, niscaya korban akan semakin sedikit. Saudara Tua kita, Jepang sudah membuktikan itu. Tidak percaya? Silakan bapak ibu yang doyan studi banding belajar ke sana ketimbang sarankan anak pulau ramai-ramai pindah. Studi banding tsunami, so pasti banyak yang mau? He-he-he... (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang, Senin 1 November 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes