Ka Maki Muzi

MENSYUKURI dan menghormati hasil panenan adalah tradisi turun-temurun yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Ngada. Tradisi-tradisi yang ini merupakan sebuah kearifan lokal yang harus terus dipupuk dan dipelihara secara terus-menerus, agar anak cucu semakin hari semakin tahu bersyukur akan karunia dan limpahan rezeki yang diberikan Yang Kuasa melalui alam dan lingkungan.

Dengan demikian generasi muda tahu menjaga lingkungan dan sebaliknya lingkungan alam memberikan hasil yang berlimpah pada penghuninya. Salah satu tradisi yang sering dilakukan masyarakat Ngada setiap tahun setelah panen, terutama panen padi ladang, adalah ka maki muzi. Ka maki muzi adalah sebuah tradisi makan nasi yang berasal dari beras yang baru selesai diketam dari ladang atau sawah tadah hujan.


Tradisi ini merupakan bagian dari masyarakat Bajawa dan kampung-kampung sekitarnya, yakni Boua, Langa, Mangulewa, Mataloko, Jerebu'u dan Aimere. Ka maki muzi, ini sebagai salah satu tanda di mana masyarakat bisa mulai makan makanan lainya seperti ubi (uwi), ejo (ubi manis), ke'o (jali), wete (jewawut) dan hasil pertanian lainnya. 

Sebelumnya, padi baru ini ditumbuk menjadi beras. Maki muzi ini harus dimasak bersama kacang nasi (sobho). Sebelum dimasak menjadi nasi, sisihkan satu genggam beras tumbuk pada bagian yang agak hancur (mata dhea) disimpan di satu wadah apa saja, campurkan dengan air kelapa muda. Beras tumbuk yang dimasak menjadi nasi yang hampir kering diangkat airnya diirus yang terbuat dari kelapa dan rendam di beras dan air kelapa yang disisihkan tadi. Setelah itu, sisa air nasi dioleskan pada leher masing-masing anggota keluarga. Beras yang disisihkan tadi dibagi sedikit-sedikit kepada semua anggota keluarga dan sisanya disimpan di tungku batu. 

Kebiasaan orang Ngada tungku api (lika) terbuat dari batu yang ditanam di dalam tanam sebanyak tiga buah membentuk segi tiga. Beras yang disisihkan bersama air kelapa tadi harus disimpan pada tiga buah batu tersebut. 

Setelah itu, barulah nasi yang dimasak tadi dimakan oleh seisi keluarga. Selain itu, anggota keluarga pun bisa menikmati hasil pertanian lainnya yang ada, seperti ubi, jewawut, jali dan sebagainya. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati hasil panenan yang baru dipanen, sehingga pada tahun-tahun selanjutnya, hasil pertanian semakin membaik dan memberikan hasil yang memuaskan. Biasanya orang Bajawa melakukan tradisi ini setiap tahun setelah panen. 

Tradisi ini tidak semuanya dilakukan oleh masyarakat Bajawa tetapi hanya untuk masyarakat yang menanam dan memanen padi dari ladang atau sawah tada hujan. Sedangkan mereka yang memiliki sawah biasanya tidak melakukan tradisi ini. Jika ada yang melanggar, menurut kepercayaan orang Bajawa, akan terkena penyakit gondok atau gejala leher membesar. Percaya atau tidak tetapi biasanya terjadi. 


Saat ini, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang sangat pesat, tradisi ini sudah tidak banyak orang lagi yang membuatnya. Banyak generasi muda yang sudah melupakan tradisi ini, sehingga muatan-muatan lokal atau kearifan lokal yang sebenarnya menjadi kekhasan dan ciri khas daerah menjadi punah. 

Apalagi, makanan lokal seperti ubi, jali, jewawut dan sebagainya saat ini sangat susah ditemukan di masyarakat. (Apolonia Mathilde Dhiu)

Pos Kupang, Sabtu 27 November 2010 halam 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes