Mampus bila Zidane Dikunci!

NYAWA tim Ayam Jantan Perancis ada di kaki dan kepala Zinedine Zidane. Ini kenyataan yang sudah menjadi rahasia umum penggemar sepakbola. Semua orang sudah tahu kepiawaian Zidane sejak tim Les Bleus memenangkan Piala Dunia 1998 di negerinya sendiri.

         Rasanya masih segar dalam ingatan ingat final Piala Dunia 1998 di Stade de France Paris. Kala itu semua orang hampir percaya Brasil akan mempertahankan gelar. Tapi di final, Zidane memporak porandakan pertahanan Samba yang terkenal solid dan rapi. Zidane menistakan Jogo Bonito goyang Samba.  Zidane benar benar berperan sebagai pemain bebas  yang menguasai lini vital lapangan tengah sekaligus penjebol ulung lewat kepalanya yang botak. Dua gol dipersembahkan Zidane ketika itu. Semua orang terpukau. Zidane pun tanpa rival terpilih sebagai pemain terbaik dunia.

      Zidane adalah tipe pemain bebas, sebagaimana dengan elok diperankan jenderal Belanda, Ruud Gullit pada masa emasnya. Playmaker kelahiran 23 Juni 1972 ini memiliki skill yang komplit. Bertahan bagus, menyerang pun bagus. Dribel bolanya aduhai. Memberi umpan terukur, serta pengganggu ulung yang merepotkan pertahanan belakang musuh. Tembakan bola matinya pun cukup kerap menghasilkan gol. Pada masa masa sulit dan terjepit, Zidane biasanya tampil sebagai juru selamat tim. Kepiawaian itulah yang membuat orang Perancis senang dan memuji muji selalu dengan mengatakan, sang maestro Michel Platini lahir kembali.

         Pertanyaan penting ketika Perancis menghadapi Italia di grandfinal Euro 2000  malam ini adalah siapa yang bisa mematikan pergerakan Zidane? Kalau Zidane bergerak bebas, maka ancaman besar bakal menerpa Squadra Azzurra. Apalagi Zidane toh tidak asing dengan gaya permainan Italia, bumi tambun tempat ia mencari makan lebih dari empat tahun terakhir ini.

         Pemain inti Azzurri 2000 juga rekan rekannya seklub di Juventus serta anggota klub Serie A Italia lainnya yang sudah biasa ia hadapi. Malam nanti Zidane menghadapi sobatnya Del Piero, Inzaghi, Iuliano, Pesotto dan Ferrara. Ia juga akan bentrok dengan Luigi Di Biagio, Nesta, Paolo Maldini, Demetrio Albertini, Fabio Cannavaro, Stefano Fiore dan lain lain. Singkat kata, duel Perancis vs Italia seperti menonton semi Serie A jika melihat materi pemain inti kedua kesebelasan.

        Anggota dan mantan anggota Serie A di tim Perancis banyak. Yang masih aktif, Lilian Thuram (Parma), Laurent Blanc (Inter), Zidane (Juventus), Vincent Candela (Roma). Para mantan: Didier Deschamps (Juventus), Marcel Desailly (AC Milan), Youri Djorkaeff (Inter), Christian Karembeu (Sampdoria). Komposisi pemain serupa ini sangat menguntungkan Perancis, karena tipe permainan Azzurri tentunya bukan barang asing.

         Namun, tidak fair juga kalau tidak menyimak sisi lemahnya. Kehebatan Zinedine Zidane bukan hal baru untuk Paolo Maldini dkk. Malah pasukan Italiano sudah tahu kelemahan serta bagaimana cara mengunci atau mematikannya. Dino Zoff hampir pasti menugaskan satu atau dua pemain untuk mengawal Zidane agar pergerakannya bisa direm. Kehilangan Gianluca Zambrotta dan Antonio Conte (rekan Zidane di klub "Nyonya Besar" Juventus) membuat Zoff jadi sulit, tetapi masih ada Demetrio Albertini, Luigi 'gundul' Di Biagio serta Stefano 'anak ganteng' Fiore.

         Albertini, pemain langganan tim nasional sejak tahun 1990 itu agaknya cukup pas bila menjadi pengawal Zidane. Pemain Milan ini terkenal sebagai 'tukang jagal' yang tidak pandang bulu. Cara mentekelnya bersih meskipun dia agak temperamental. Kalau bukan dia, mungkin pemain intel bagi Zidane dipercayakan kepada anak muda yang cemerlang, Stefano Fiore atau Luigi Di Biagio.

    Fiore amat mobil dan tidak takut berduel. Umpan umpannya juga bagus. Kekurangannya mungkin jam terbang serta mental bertanding yang belum teruji dalam partai genting seperti final Piala Eropa. Kalau Zidane bisa dikunci Azzurri, maka Ayam Jantan tak mungkin berkokok nyaring. Les Bleus akan mampus dan frustrasi menghadapi tembok Italia yang begitu solid dibangun Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Fabio Cannavaro dan Mark Iuliano atau Pesotto. Selain Zidane, lapangan tengah pasukan Roger Lemerre masih memiliki Emanuel Petit, Robert Pires, Patrick Vieira dan Youri Djorkaeff.  Tetapi kualitasnya masih satu kelas di bawah Zidane.   

         Kualitas pemain lini depan dan belakang kedua finalis ini tidak jauh berbeda. Tapi harus diakui soliditas palang pintu Azzurri lebih baik. Empat pilar Italia di belakang adalah pemain bertahan murni, kecuali sang kapten Paolo Maldini yang sesekali naik untuk mengatur strategi. Kemungkinan besar, Zoff menurunkan komposisi semifinal sebagai starter, dimana Del Piero berduet dengan Inzaghi sejak awal.

         Mengapa memilih Del Piero, bukan Francesco Totti atau Montela? Del Piero adalah pemain lini kedua, bukan striker murni seperti Inzaghi, Totti atau Montela. Zoff memerlukan Del Piero untuk menyusup ke area blind side (ruangan kosong) dengan cepat, jika Inzaghi dihadang Desailly, Blanc, Lizarazu atau Thuram. Del Piero pun dibutuhkan untuk membuat set piece sesering mungkin bagi Inzaghi serta perannya mengambil bola bola mati atau tembakan jarak jauh dari second line. Tembakan dari lini kedua diperkirakan akan sering terjadi dalam duel ini, karena pemain depan Italia pun tidak gampang menembus pertahanan Les Bleus.

         Ujian berat juga bakal dialami pertahanan Italia menghadapi bomber Thierry Henry Nicolas Anelka atau Henry Christophe Dugarry. Tipe ujung tombak Perancis itu mirip yakni berani menerobos pertahanan musuh, tidak takut berduel udara maupun body charge  dengan lawan. Kurang awas dan bijak menjegal di kotak terlarang, bisa menjadi bencana bagi Italia. Tetapi, bila Azzurri lebih dulu mencuri gol, mereka akan mempraktekkan catenaccio dengan baik karena mereka memang ahli di bidang pertahanan ini. Perancis tentunya tak mau kecolongan lebih dulu. *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Minggu, 2 Juli 2000. Artikel ini ditulis menjelang pertandingan final Euro 2000 antara Perancis melawan Italia. Perancis akhirnya keluar sebagai juara Eropa setelah menang 2-1.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes