Strategi Makan Puji

ilustrasi saja
ORANG NTT, teristimewa publik Kota Kupang amat akrab dengan kata kata ini: Makan puji. Karena itu ketika ada pertanyaan seorang teman yang gila bola mengapa  Spanyol dan Inggris keok pada penampilan pertama Euro 2000, jawaban beta ya karena mereka memakai strategi makan puji.

         Spanyol terbang ke Belgia Belanda dengan mengusung segunung pujian di tanah airnya maupun dari seantero dunia karena memiliki pemain berkualitas dan tim terbaik. Mereka lolos ke putaran final sebagai juara Grup 6 dengan nilai 21. Dari delapan kali bertanding, Spanyol hanya sekali dikalahkan Cyprus 3 2 pada 5 September 1988. Selebihnya mereka menang dengan jumlah gol sangat mencolok; memukul Austria dan San Marino masing masing 9 0, membalas kekalahannya atas Cyprus 8 0 dan melindas Israel 3  0. Praktis selama babak kualifikasi, tim matador mengoleksi 42 gol (tim paling subur di Eropa) dan cuma kebobolan 5 gol.

         Kecuali itu, Spanyol pada kompetisi antarklub Eropa (Liga Champions) musim 1999/2000 membuat bangsa Eropa mengangkat topi kepadanya. Tiga klub terkemuka negeri itu, Valencia, Real Madrid dan Barcelona masuk semifinal. Kemudian terjadi final sesama Spanyol, Valencia vs Real Madrid. Peristiwa ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions Eropa sejak tahun 1960.

         Dengan kekuatan sebagian besar  pemain dari tiga tim terbaik inilah Spanyol pergi ke Euro 2000. Pelatih Jose Antonio Camacho Alvaro yang meneruskan tongkat kepelatihan Javier Clemente praktis tidak banyak mengeluarkan energi untuk meramu timnya. Camacho cuma memberi sentuhan dan aksentuasi baru yakni mengorganisir tim untuk bermain lebih ofensif. Mengingat rapor serba  bagus itu pula, Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) menempatkan Spanyol sebagai unggulan kedua setelah tuan rumah Belanda. Bandar taruhan terkemuka, William Hill pun menunjuk matador (juara 1964 dan runner up 1984) sebagai salah satu favorit bersama Belanda, Perancis, Jerman dan  Inggris. Maka melambunglah tim Spanyol, mereka seperti terbang tinggi melewati mega mega di atas langit Belanda Belgia ketika menghadapi lawan pertama, Norwegia di Stadion Feyenoord, Rotterdam 13 Juni lalu.

         Norwegia asuhan Nils Johan Semb bukan tim yang harus ditakuti matador. Di Eropa, Norwegia adalah tim sepakbola pinggiran sejak abad yang lalu karena prestasinya yang jarang menjulang. Datang ke Euro 2000 pun kesempatan pertama bagi negeri Skandinavia ini, sama seperti Slovenia. Jadi wajar kalau Spanyol kurang serius menghadapinya. Kenyataan di lapangan bola justru membuat dunia tercengang dan Eropa terbelalak matanya: Spanyol bertekuk lutut!

         Kelemahan utama pemain Spanyol lebih psikologis sifatnya ketimbang teknis. Pujian yang bertubi tubi kepada mereka melahirkan sindrom lupa diri alias makan puji. Skema 4 4 2 sesungguhnya sudah pas guna meladeni format Norwegia 3 5 2. Tapi Raul Gonzalez, Fernando Hiero, Graizka Mendieta, Sergio Borjuan, Pep Guardiola bermain tanpa spirit yang kuat, karena dalam otaknya tertanam anggapan bahwa lawan tidak luar biasa. Akibatnya, perguliran bola dari kaki ke kaki, dengan mudah dibaca Henning Berg, Erik Mykland, Tore Andre Flo, Vegar Heddem, dkk.

         Ironisnya, menurut data statistik dalam duel itu Spanyol menguasai bola 60 persen, 6 kali sepak pojok, 5 kali tembakan ke gawang, offside cuma 1 kali (tetapi 20 kali buat pelanggaran). Norwegia dapat sepak pojok 2, offside 2, tendangan ke gawang 2 dan melanggar 16 kali. Meski cuma dua kali menembak gawang lawan, satu di antaranya menghasilkan gol lewat Steffen Iversen menit ke 65.

         Data data ini mencerminkan betapa taktisnya Norwegia memperkuat barikade pertahanan dan betapa ompongnya tombak Spanyol, Raul Gonzalez Alfonso Perez. Diam diam striker Real, Fernando Morientes yang tak dipanggil Camacho tersenyum sinis. Mungkin ia bergumam, "Itulah kalau terlalu makan puji".

    Sudah ada bukti di ajang Euro 2000, Italia yang dihujat malah dengan elegan mencukur lawan lawannya. Spanyol Inggris yang dipuji tumbang,  Belanda yang dipuja cuma menang 1 0 berkat hadiah penalti 'kontrovesial' Collina. Bila Belanda, Jerman atau Perancis pun ikut ikutan makan puji, jangan heran kalau mereka cium kanvas sebelum 3 Juli mendatang! *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Sabtu, 17 Juni 2000. Artikel ini dibuat setelah Spanyol yang diunggulkan menjuarai Euro 2000 tampil buruk pada babak penyisihan Grup C Euro 2000.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes