Kebanggaan Asia

Li Na
Petenis China Li Na (31) mencetak prestasi luar biasa di awal tahun 2014. Dia menjuarai nomor tunggal putri turnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka 2014 setelah di final, Sabtu (25/1/2014),  mengalahkan petenis berusia 24 tahun asal Slovakia, Dominika Cibulkova 7-6 (7/3), 6-0.

Setelah tiga kali menjadi finalis, baru tahun ini petenis China yang menjadi unggulan keempat itu meraih trofi. Juara Australia Terbuka 2014 adalah gelar kedua Grand Slam yang diraih petenis kelahiran Wuhan 26 Februari 1982 itu setelah Prancis Terbuka 2011. Sebelum turnamen tahun ini Li Na sudah dua kali mencapai final Australia Terbuka pada 2011 dan 2013.

Beberapa rekor penting dicatat Li Na di Melbourne. Dia menjadi petenis putri tertua yang menjuarai Australia Terbuka yang sebelumnya dipegang Margaret Court yang pada usia 30 menjadi juara turnamen ini pada 1973. Dia pun bergabung dalam daftar tujuh petenis pemenang Grand Slam dalam usia 30 plus, setelah Martina Navratilova, Billie Jean King, Chris Evert dan Serena Williams.

Li Na menjadi kebanggaan Asia. Kemenangannya di Australia Opem 2014 memberikan dorongan semangat untuk dunia tenis Asia Pasifik. Begitulah kurang lebih komentar media massa Asia menyambut kemenangan Li Na atas Cibulkova di grandfinal tersebut. Pers Australia pun antusias merayakan kemenangan Li Na. Sebagai turnamen Grand Slam di wilayah Asia Pasifik,  publik Australia ikut berbangga karena trofi bergengsi itu diraih petenis Asia.

Di jagat tenis profesional,  Asia memang tergolong medioker. Petenis-petenis Asia sangat sulit menembus dominasi petenis asal Eropa dan Amerika. Dalam peringkat 50 top dunia, baik di nomor tunggal putri maupun tunggal putra, dominasi petenis  Eropa dan Amerika sangat kuat. Di kawasan Asia pun, prestasi atlet tenis cenderung melemah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Negara dengan tradisi tenis yang kuat seperti India, Thailand, Jepang, Indonesia dan Korea melempen. Satu- satunya negara yang masih konsisten menciptakan regenerasi petenis adalah China. 

Selain Li Na yang masuk papan atas, negeri Tirai Bambu tersebut  kini masih punya petenis putri lain di jajaran 50  besar dunia yakni Peng Shuai dan Zhang Shuai.

Prestasi petenis Indonesia bahkan lebih menyedihkan. Sepuluh tahun terakhir tidak ada lagi nama yang menjulang di level internasional. Setelah masa kejayaan Yayuk Basuki memudar akhir tahun 1990-an, Indonesia sempat berharap pada sosok mojang Priangan, Angelique Widjaja. Angelique pada tahun  2001 merebut gelar Juara Wimbledon Junior. Tahun 2002 ia merebut dua gelar lagi, yakni Juara Australia Terbuka di nomor ganda junior bersama Gisela Dulko dan Prancis Terbuka.

Angelique, kelahiran  12 Desember 1984 adalah petenis  yang terjun ke jalur profesional hampir bersamaan dengan Li Na. Namun, prestasinya tidak seperti Li Na yang masih gemerlap hingga sekarang.

Setelah  Angelique pensiun dari tenis, praktis belum ada lagi petenis putri Indonesia yang bermain di level dunia.Kemunduran prestasi cabang tenis merupakan kisah Indonesia hari ini. Semoga spirit  Li Na dari Melbourne memberi inspirasi untuk kebangkitan tenis Asia dan Indonesia pada khususnya. Ayo, Indonesia Bisa! *

Sumber: Tribun Manado 29 Januari 2014 hal 10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes