Pengukuhan Ria Bewa di Mula Watu

Pengukuhan Ria Bewa di Kampung Mula Watu Ende  26 Juli 2014. (foto PK)
Dari kiri: Ignatius Dosi Woda. Daniel Bheto Dedo dan Mikael Wangge (foto PK)
HARI  Jumat (25/7/2014) malam, suasana di Kampung Mulawatu, Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende berbeda dari hari-hari biasanya. Jika pada hari biasa suasana kampung terasa lengang dan hanya terdengar  suara-suara alam, seperti kicauan  burung,  gemercik air di Kali Mbilu maupun aroma kopi arabika serta tanaman buah kakao yang menghijau di hamparan tanah warisan leluhur, maka kali ini suasananya sontak berbeda.

Suara-suara manusia dari berbagai penjuru Kabupaten Ende bahkan dari luar daerah saat itu ramai menghiasi atmosfir kampung itu.  Dentingan musik serta hentakan kaki yang ritmik maupun lengkingan suara  seorang lelaki dewasa mengiringi tarian gawi--tarian khas Ende-Lio.

Tarian heroik itu dibawakan para para lelaki di Kampung Mulawatu. Hari itu,  terasa istimewa karena merupakan momentum menuju pengukuhan Mosalaki Ria Bewa (tokoh adat-red) Mulawatu.

Mulawatu merupakan salah satu kampung tua di wilayah Lio Selatan sebagai  Ibukota Desa Fatamari. Secara administratif pemerintahan desa itu sebagai bagian dari wilayah Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende.

Dalam hirarki Persekutuan Adat Lise Tana Telu, Mulawatu menempati posisi Ria Bewa yang diemban sejak zaman leluhur Dosi Woda. Bersama Ria Bewa Wolololele A, Mosalaki Pu'u di Ratenggoji beserta para mosalaki dan Boge Hage, merupakan satu kesatuan yang utuh dalam bingkai keluarga besar persekutuan adat Lise Tana Telu. Posisi Ria Bewa  sejak leluhur Dosi Woda ini terus berlanjut ke turunannya, yakni Nusa Dosi, ke Dawa Dosi, Nggala Dosi berlanjut ke Tani Nggala, Paulus Nggay Tani hingga terakhir  almarhum Stefanus Nggubhu Nggay.

Dengan meninggalnya Stefanus Nggubhu Nggay pada tahun 2000, jabatan Ria Bewa Lise Tana Telu di Mulawatu fakum  dalam rentang waktu sekitar 14 tahun dan dijalankan oleh Yoseph Ngati Mbete sebagai Pelaksana Tugas Ria Bewa.

Dengan kekosongan tersebut, maka melalui serangkaian musyawarah keluarga besar Dosiwoda menyepakati   dan  menetapkan Ignatius Tani Dosi Woda sebagai Ria Bewa. Dalam bahasa lio disebut "Pusi Eo Muri Peja Eo Meta, Pedo Pase Mula Gelu Walo"

Sesungguhnya prosesi adat ini semata untuk melestarikan nilai budaya dan hirarki kelembagaan dalam bingkai Lembaga Adat Lise Tana Telu. Juga untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan, menjalin kebersamaan di antara sesama keluarga, yakni Aji Ana, Tuka Bela, Eja Weta, Eda Embu, Nge Wa'u.
Podi Lesu Pepa Semba Ria Bewa Lise Tana Telu Mulawatu sebagai kekhasan budaya setempat. Selain meningkatkan rasa cinta  akan warisan leluhur juga untuk mengembangkan peluang di bidang kepariwisataan  Ende Lio khususnya Lise Nggonde Ria.

Waktu pengukuhan Ria Bewa Mula Watu terus berputar yang ditandai pada Jumat (25/7/2014)  malam, warga  di kampung tersebut "berpesta" semalam suntuk hingga pukul 06.00 Wita.

Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 Wita, Sabtu (26/7/2014). Momen pengukuhan Ria Bewa tiba. Adalah Ignatius Dosi Woda, salah seorang yang "terurapi" dari sejumlah warga di Kampung Mulawatu tampak turun dari rumah adat didampingi sang istri, Sisi berjalan menuju pelataran di tengah kampung.

Selain didampingi sang istri, Ignastius  Dosi Woda juga didampingi Mosalaki Puu, Daniel Bheto dan Ria Bewa Wololele A, Mikael Tani Wangge. Di sepanjang perjalanan keagungan itu, rombongan diiringi dengan musik tradisional, tarian adat serta nyanyian, Poto Wolo yang bermakna mengangkat kembali seorang ria bewa guna mengganti Ria Bewa yang sebelumnya telah mangkat.

Untuk menghormati kesakralan acara, semua warga yang hadir wajib berdiri serta membuka jalan bagi rombongan menuju pelataran di tengah kampung. Hari itu, ketika fajar menyingsing  Ignatius Dosi Woda dan sang istri, Sisi bak pangeran dan ratu. Keduanya anggun dan menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju pada dua sosok ini.

Tak butuh waktu lama rombongan tiba di pelataran. Di tempat tersebut Ignatius Dosi Woda mengukuhkan diri sebagai Ria Bewa. Tidak ada orang lain yang mengukuhkannya. Dia sendiri yang mengukuhkan diri ditandai dengan mengenakan tanda-tanda kebesaran seperti lesu (ikat kepala) baju adat berupa Semba (lembaran kain yang dibentangkan di tubuh, Red)  serta Londa (kalung emas- Red) yang digantungkan di leher. Pun sang istri tampak mengenakan perlengkapan wanita di atas kepala maupun telinga yang terbuat dari emas.

Setelah semua perlengkapan itu dikenakan maka resmilah, Ignatius  Dosi Woda menjadi Ria Bewa yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari warga yang memadati pelataran.


Pesan Sarat Makna


Sebagai ucapan syukur serta kegembiraan menyambut Ria Bewa yang baru, sejumlah mosalaki bersama Ria Bewa dari Kampung Wololele A, Mikael Tani Wangge membawakan tarian gawi.

Berbeda dengan gawi  era moderen yang diiringi dengan instrumen musik elektronik. Gawi yang dipentaskan di tempat itu adalah gawi tradisional. Seorang pria melantunkan lagu  yang  dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sodha.
Penyanyi top Ende-Lio, Eman Bata Dede termasuk yang melantunkan Sodha.

Dalam nyanyian tersebut terselip pesan-pesan yang sarat makna, seperti persatuan dan kesatuan adat, semangat gotong royong, jangan mudah diadu domba serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan menjaga kelestarian alam lingkungan. Juga agar selalu  mengagungkan kebesaran serta kemuliaan sang pencipta langit dan bumi maupun selalu ingat akan nenek moyang maupun para leluhur.

Seusai gawi yang dibawakan secara khusus oleh para mosalaki maupun Ria Bewa, warga disuguhkan dengan acara serimonial berupa pembantaian kerbau oleh tiga orang tokoh adat. Namun  pembantaian dilakukan secara simbolis di atas tubuh kerbau. Tiga tokoh adat tampak maju mendekati kerbau lalu secara simbolis seakan-akan hendak membunuh kerbau. Saat itu tali kerbau diulurkan hingga masuk ke rumah adat.

Seusai acara serimonial pembantaian,  kerbau lantas digiring ke luar kampung untuk dibantai benaran. Sambil menunggu tukang masak menyelesaikan tugasnya memasak daging kerbau, para undangan maupun warga yang ada di Kampung Mulawatu kembali memanaskan suasana kampung itu  yang dingin dengan  tarian gawi. Seusai santap siang, satu per satu tamu undangan maupun warga dari luar Kampung Mulawatu meninggalkan kampung itu. Tuntaslah acara pengukuhan Ria Bewa.

Tak Mudah Lapuk

Pengukuhan seorang Ria Bewa bagi warga di Kampung Mulawatu, adalah suatu keharusan. Tidaklah heran  meskipun proses pengukuhan ini berlangsung setelah 50 tahun silam.  Pada 27 Juli 2014,  proses pengukuhan kembali dilakukan.

Suatu warisan leluhur yang tidak mudah lapuk oleh zaman.
Menurut Ketua Panitia, Kornelis Wara, proses pengukuhan Ria Bewa di Kampung Mulawatu terjadi 50 tahun silam atas nama, Stefanus Nggubhu Nggay. Namun, setelah Stefanus meninggal di tahun 2000 lalu terjadi kekosongan Ria Bewa maka untuk menjalankan tugas-tugas selaku Ria Bewa ditunjuk seorang Plt Ria Bewa atas nama Yoseph Ngati Mbete. Yoseph menjalankan tugas selaku Ria Bewa selama 14 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut warga kampung melalui serangkaian musyawarah keluarga besar Dosiwoda bersepakat menggelar proses pengukuhan Ria Bewa. Pada bulan Oktober 2013, warga bersepakat membentuk panitia pengukuhan Ria Bewa Mulawatu.

Menurut Kornelis, prosesnya tidak mudah karena banyak di antara narasumber sudah meninggal dunia meskipun ada yang masih hidup. Ada beberapa narasumber yang usianya sudah senja sehingga  untuk berkomunikasi dengan  baik.

Meski pun mengalami kesulitan ujar Kornelis,  pihaknya tetap berusaha agar proses pengukuhan Ria Bewa Mulawatu bisa tetap berjalan. "Puji Tuhan berkat dukungan dari semua pihak akhirnya proses pengukuhan Ria Bewa Mulawatu bisa berjalan sukses," kata Kornelis.

Sedangkan menurut Ria Bewa Mulawatu saat ini, Ignastius  Dosi Woda sebelum dirinya sudah ada beberapa Ria Bewa yang dimulai dari Dosi Woda, Nusa Dasi, Nggala Dosi, Dawa Dosi, Tani Nggala, Nggai Tani, Stefanus Nggubhu Nggay.

Pengukuhan Ria Bewa terakhir berlangsung  pada tahun 1964. Tentang dirinya terpilih  selaku Ria Bewa Mulawatu saat ini, Ignatius  mengatakan  itu dilakukan melalui permenungan juga bisikan leluhur. Seorang yang menjadi Ria Bewa bukan karena warisan orangtua sebagaimana kerajaan di Jawa. "Tidak seperti tempat lain yang ada pergantian  ketika orang tua meninggal lalu diwariskan ke anak. "Kalau Ria Bewa diperoleh  melalui mimpi," kata Ignatius Dosi Woda.  (romualdus pius)

Sumber: Pos Kupang edisi 8 dan 9 Agustus 2014 halaman 13
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes