Sakitnya Hati Inggris

        SAMPAI dengan pertemuan antara Inggris melawan Portugal, Selasa dinihari Wita (13/6/2000), pertandingan Euro 2000  sudah menghabiskan waktu selama 540 menit atau 9 jam. Yang sulit dihitung adalah berapa liter keringat para 'pejantan' yang sudah tumpah di delapan stadion Belanda dan Belgia. Untuk urusan yang satu ini, lupakan saja.

         Karena pertanyaan yang lebih penting dijawab adalah apa yang telah terjadi selama 540 menit tersebut? Kasat mata Anda sudah tahu bahwa pasukan Belanda dan Belgia meraih angka maksimal. Bulan purnama memang sedang bersinar di atas langit dua negeri kecil yang kali ini bertindak selaku tuan rumah. Italia menebarkan harapan. Perancis meluluhlantakan juara Euro 2000 dari negeri dongeng, Denmark. Kemudian juara bertahan Jerman tak berdaya menggempur tembok Rumania. Jerman bisa dimaafkan sementara karena sudah wataknya sejak dulu yang lambat panas, sehingga  masih ada harapan untuk melihat kebringasan pada duel berikutnya.

Dan yang paling segar sekaligus bikin dunia tercengang adalah Inggris bertekuk lutut pada Portugal. Kejatuhan Inggris agaknya pantas diulas walaupun ala kadarnya karena beta bukan pakar sepakbola. Inggris kalah 2 3 walaupun unggul 2 0 terlebih dahulu atas Portugal itu membuktikan lagi untuk kesekian kalinya bahwa bola memang bulat. Artinya sebelum sang pengadil memutuskan waktu 2x45 menit itu berakhir, tiga kemungkinan masih bisa terjadi, kalah atau menang atau seri.

         Anda tentu masih ingat bagaimana klub Inggris, "Setan Merah" Manchester United menikam luka paling dalam di relung hati orang Jerman pada final Piala Champions bulan Mei 1999. Kala itu, Bayern Muenchen sudah unggul 1 0 sampai menit ke 87, artinya tinggal 3 menit tim Jerman dengan presidennya 'Kaisar' Franz Beckenbauer ini akan meraih juara.

         Namun, gol pemain pengganti Teddy Sheringham dan si "muka bayi"  Ole Gunnar Solskjaer melenyapkan impian Stefan Effenberg dkk dalam sekejap. "Sepakbola bukan cuma melahirkan sukacita. Sepabola bahkan lebih  sering menyakitkan," demikian komentar maestro bola  asal negeri bunga tulip Belanda, Johan Cruyff.

         Perasaan sakit hati itu hari ini sedang mendera kalbu anak  anak manis Ratu Elizabeth II, negeri yang melahirkan sepakbola. Publik Inggris menangis dan menghujat David Beckham dan sobat  sobatnya karena kekalahan tersebut membuat perjuangan mereka semakin berat menghadapi Jerman dan Rumania.

         Kekalahan Inggris kemarin bila  ditatap memakai kaca mata teknis main bola, bersumber dari kelemahan tim asuhan Kevin Keegan dalam mengkoordinir barisan belakang. Tony Adams dan Martin Keown  yang kini sama sama berusia 34 tahun kurang gesit lagi sebagai palang pintu terakhir sebelum David Seaman. Masa keemasan Tony dan Martin sudah lewat. Memang ada tenaga muda Sol Campbell serta dua bersaudara Gary dan Philip Neville. Tetapi mereka belum cukup matang menggalang kerja sama dan mana tahan mereka menahan laju Luis  Figo, Joao Pinto, Rui Costa dan Sergio Conceicao yang kini masuk papan atas gelandang serang Eropa?

          Menggunakan formasi 3 4 3, aroma kick and rush Inggris sungguh tajam menikam jantung pertahanan Portugal. Dua gol dalam waktu 18 menit merupakan bukti efektifnya sepakbola menyerang yang kini sudah dipatenkan sebagai ciri utama sepakbola modern. Tetapi sepakbola menyerang juga memendam risiko tinggi yaitu bila tim lengah mengawal zona pertahanan, karena dua bek sayap maupun stopper terlampau asyik naik ke daerah pertahanan musuh. Saat serangan balik lawan, mereka terengah engah lari ke belakang dan biasanya kalah cepat dari para penyerang musuh.

         Dari aspek estetika, jelas sepakbola menyerang itu indah. Seperti yang masih  dipertahankan para penari tim Oranye maupun goyang pinggul Samba sampai detik ini. Tetapi keindahan tidak selalu identik dengan kemenangan. Itulah sebabnya dunia jatuh cinta pada Belanda 1974 dan 1978, meskipun Johan Cruyff dan kawan  kawan hanya juara dua dunia.

         Kekalahan Inggris di Eindhoven Belanda serba tanggung. Permainan mereka tidak terlihat sangat indah karena attacking football. Toh David Beckham tak dapat membalut 'kasarnya' mental warisan nenek moyang yang mengutakan kecepatan dan kekuatan. Eh, sialnya mereka juga yang kalah! *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Rabu, 14 Juni 2000. Artikel ini dibuat menanggapi kekalahan Inggris dengan skor 2-3 melawan Portugal di babak penyisihan Grup Euro 2000.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes