Maafkan Kami, Mayat Mayat Benanain

KETIKA hari Sabtu tengah malam besok (10 Juni 2000), kejuaraan sepakbola antarnegara negara Eropa (Euro) 2000 mulai bergulir di Belanda  Belgia, akan ada yang berubah dalam ritme hidup keseharian kita. Anda akan menyambut 23 malam dengan penuh kerinduan. Malam terasa begitu panjang, tetapi tidak akan membosankan. Anda merindukannya, menantinya dengan cemas, sabar dan gelisah, bak perawan menunggu sang jejaka, laksana istri setia menanti suami pulang kerja.

         Tatkala 16 kesebelasan mulai mempertontonkan kecakapan, kecerdikan, ilmu, pengetahuan dan selera seninya di lapangan hijau, kita akan merasakan betapa dekatnya Belanda Belgia, dua negara yang menurut jarak geografis beribu ribu mil jauhnya di benua tua Eropa. Jarak Belanda Belgia akan terlihat lebih dekat ketimbang Besikama di Belu Selatan atau Bena, Amanuban Selatan yang sampai hari ini masih terdengar jerit tangis korban banjir bandang. Belanda Belgia itu ada di kamar tidurmu, di ruang tengah keluargamu, di kamar tamumu, tidak peduli yang maha luas maupun ukurannya cuma sepetak berdinding bebak.

         Ya, antara Anda, saya, kita semua dengan Belgia Belanda hampir tak ada jarak lagi selama tiga pekan ke depan. Saban hari  kita membicarakan Belgia Belanda, ikut mencumbui aroma oranye bunga tulip. Merasakan semilir kincir angin, juga menghirup hawa bangunan tua di kota kota Belgia melalui pesta Euro 2000.

          Salahkah Anda, salahkah kita menjadi lebih akrab dengan Belgia Belanda daripada Besikama atau Bena? Tidak, kita tidak salah. Kita semua yang hidup di masa ini adalah generasi televisi. Kita anak zaman keemasan canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, sehingga pertandingan bola nun jauh di seberang sana dapat kita saksikan secara langsung pada waktu yang sama dengan siapa pun mereka yang menghuni pojok lain bumi ini. Sepakbola sungguh telah mendunia, artinya menjadi milik bersama.

         Dan dunia memang tanpa sekat sekat lagi, termasuk buat kita putra putri NTT yang hari ini (mungkin tanpa sadar) telah memposisikan televisi seolah olah sebuah "tabernakel" di rumah sendiri. Sejak 11 Juni hingga 3 Juli 2000, kita akan mengakrabi 16 tim finalis dan para pemain bintangnya. Sekali Anda mengenal Beckham, Fabien Barthez, Raul Gonzalez, Alessandro del Piero, Paolo Maldini,  Sinisa Mihajlovic atau Luis Figo, maka Anda tak merasa puas hanya mengikuti gaya main dan prestasinya. Ihwal kehidupan pribadinya bakal diikuti dengan cermat semisal pacarnya, istrinya maupun aksi "main sampingnya" meniduri banyak perempuan.

         Anda bakal ingin tahu lebih jauh mengapa kiper Perancis Fabien Barthez menyukai wanita pirang dengan buah dada besar. Mengapa Paolo Maldini sangat setia pada Adriana, istrinya. Atau mengapa Beckham rela pose telanjang meski bukan untuk cari uang?

***
         SEPAKBOLA, cabang olahraga terpopuler sejagat yang bakal kita nikmati lagi melalui Euro 2000 adalah tontonan dan rekreasi. Sepakbola juga mengandung ilmu, strategi, teknik dan taktik. Lewat penampilan satu kesebelasan, misalnya, kita bisa menangkap adanya solidaritas, kekompakan, kerja sama tim dan aksi individu individu yang memiliki kecakapan, pengetahuan serta apresiasi seni. Seniman bola! Juga di sana ada penghormatan terhadap hukum, nilai nilai etis dan moral. Mereka tidak asal sepak laksana 'ABG' kita yang doyan tawuran, tidak asal sikut seperti kebanyakan elit elit politik kita menguber kursi, tidak berpikir kerdil dan kekanak  kanakan seperti segelintir orang yang mengklaim dirinya pemimpin.

         Di lapangan bola, bola disepak  dengan tertib, kulit bundar ditendang dengan mentaati rule of the game. Kecurangan, keserakahan, ketidakjujuran atau kepongahan akan dengan gampang terlihat dan mendapat sanksi yang jelas. Ruang improvisasi tim maupun individu terbuka luas, di sana ada kebebasan berpikir maupun bertindak, namun tidak dengan menginjak norma norma. Yang culas akan menerima  hadiah kartu kuning dari sang pengadil, korps baju hitam. Yang serakah dan curang, dengan sendirinya terusir dari lapangan  sambil mengusung kado kartu merah. Sang hakim yang mempratekkan "KKN" pun tak mungkin luput dari penilaian orang banyak dan ia pasti dilindas oleh hukum fair play.

         Melalui pesta Euro 2000 kita bisa belajar banyak hal, termasuk belajar untuk jujur dan solider. Kalau demikian, kita agaknya perlu memohon maaf kepada 129 saudara terkasih yang terbaring massal di pinggir Sungai Benanain, Belu Selatan. "Maafkan kami, jika selama 23 malam lebih suka menatap Belanda Belgia, ketimbang melongok korban Benaian dan Bena". Pesta sepakbola Piala Eropa di awal milenium ketiga ini, dapat saja menghipnotis Anda melupakan penyaluran bantuan bagi korban banjir bandang di Belu dan TTS yang belum sepenuhnya tuntas. Bisa membuat mata kita buta terhadap gelagat orang yang berusaha menari riang di atas penderitaan sesama. Jangan lengah, jangan sampai kita bangun kesiangan dipeluk bumi Flobamora yang masih berduka.  Selamat datang Piala Eropa!*


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Jumat, 9 Juni 2000. Artikel ini dibuat menjelang dimulainya kejuaraan sepakbola Piala Eropa (Euro 2000) di Belanda dan Belgia.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes