Turnamen

AUSTRIA-Swiss 2008 sepekan sudah menyajikan keindahan, air mata, sakit hati dan kegembiraan. Beragam rasa itu lahir dari bola telanjang yang disepak, ditendang, disundul, diraba, ditinju, diputar-putar atau dibuang. Disepak-disundul hampir selalu dan selalu ke depan gawang karena itulah tujuan akhir dengan titik terakhir, siapa yang menggapai mahkota. Mahkota turnamen sepakbola terakbar kedua sedunia bernama Piala Eropa.

Air mata membanjiri Swiss yang tersingkir amat lekas gara-gara dua kekalahan beruntun. Faktor tuan rumah tak sanggup menopang. Dukungan jutaan penggemar tak cukup menegakkan bendera Swiss berkibar lebih lama di tanah air sendiri.


Sakit hati Perancis untuk hasil yang memilukan bagi tim pemenang Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000 dan runner-up Piala Dunia dua tahun lalu. Juara bertahan Yunani tak lagi bernyanyi-nyanyi. Tesaloniki kini meringis. Nyanyian juara begitu datar. Nyaris tak terdengar setelah dua kekalahan beruntun. Tak ada lagi sentuhan bola ala Dewa-Dewi yang menghipnotis seperti empat tahun silam di Portugal. Juara bertahan gulung tikar dengan kegagalan mencetak gol. Sepakbola sejatinya bercerita tentang manusia yang harus sadar akan keterbatasan. Ada saat di atas, ada waktu merayap tanah. Yunani kini menyadari keterbatasan itu.

Kegembiraan merebak di Lisabon, Wageningen, Madrid dan Zagreb. Begitu riuh di keheningan Himalaya. Fans Belanda, Portugal dan Spanyol di sana bersukaria. Menyatu dalam ceria rakyat menyambut akhir dongeng Monarki Nepal yang berusia 239 tahun. Raja terakhir, Gyanendra, meninggalkan istana tanpa mengenal jalan pulang. Raja yang disembah kini jadi rakyat biasa karena serakah dan haus kuasa. Tawa dan senyum juga menyembul di Palue, Kurubege, Maulafa dan Witihama. Tawa setiap pemuja Belanda, Portugal, Spanyol yang tampil elok- menjanjikan. Juga menghibur!

Dan, tuan telah menyaksikan betapa tim sarat pengalaman seperti Jerman dan Italia tunggang-langgang. Tertatih-tatih sekadar mengimbangi atau menekuk tim underdog. Kroasia sungguh kuda hitam. Dari dulu memang begitu. Suka beri pelajaran tim-tim besar karena menganggapnya remeh. Jerman dipermalukan Kroasia.
 

Belanda sikat juara Piala Dunia 2006, Italia 3-0, kekalahan terburuk Gli Azzuri sepanjang sejarah Piala Eropa. Perancis digilas 4-1 membuyarkan anggapan grup maut. Tim muda usia Belanda memang mooi.

Pasukan dinamis Portugal layak menuju puncak. Spanyol, semoga kali ini Dewi Fortuna menghampiri. Yang muda yang menjual. Yang energik membuat orang jatuh cinta. Sepakbola tidak mengenal ini: Yang muda belum boleh naik panggung. Belanda, Portugal, Spanyol juara Eropa? Ah kawan, jangan buru-buru mengklaim. Turnamen Euro 2008 baru setapak jalan. Tunggulah sampai puncak pesta. Segala sesuatu akan indah pada waktunya!


***
HARI Sabtu, 14 Juni 2008. Pukul 06.30 waktu Indonesia Bagian Tengah. Sebuah pesan singkat alias SMS masuk ke ponsel. Pesan dari seorang sahabat. "Turnamen manapun akan hancur lebur kalau semuanya memaksa untuk menang. Bagi saya, nasib turnamen sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh yang kalah. Bagi yang menang tidak dibutuhkan kedewasaan yang tinggi. Namun bagi yang kalah hanya kedewasaan membuat mereka tersenyum dan datang kepada yang menang, menyalami dan memeluk pihak yang menang."

Kata-kata bung Francis, sahabatku itu tiba-tiba terasa kental relevansi dan aromanya dengan suasana di beranda rumah besar Flobamora hari ini. Sontak sadar ada turnamen di sini dalam konteks beda tapi atmosfirnya mirip. Kisah Euro 2008 terpisah jauh tapi terpaut. Terpisah puluhan ribu mil di benua lain, namun terpaut dengan keresahan di Kolhua, gumaman anak-anak Oesapa serta mimpi pemuda-pemudi San Juan dan Raijua. Impian untuk hidup lebih baik di esok hari. Impian memiliki pemimpin yang tidak ingat diri setelah bertahta di singgasana kekuasaan.

Turnamen lima tahunan di kampung besar NTT telah bergulir tapi belum usai. Masih dibutuhkan kedewasaan sikap, kerendahan hati. Biarlah turnamen dengan 2,6 juta penggemar lebih ini berakhir damai. Yang juara tak perlu bertepuk dada sambil mengolok yang kalah. Kekalahan tidak harus mengakhiri persahabatan sebagaimana pelajaran berulang dari sepakbola. Di setiap akhir pertandingan bola, selalu ada pelukan hangat, tepuk pipi hingga tukaran kaus berbau keringat. Ada pengakuan, sapaan dan salam hormat. (email: dionbata@poskupang.co.id)

Pos Kupang edisi Senin, 16 Juni 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes