Loba

Kita hidup di Tanah Air
Tanah yang Kelebihan Air
Mati hari demi hari..


APA sebaiknya menyapa Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir? Negeri korupsi, kolusi, nepotisme sudah begitu sering terdengar sampai telinga kita tak lagi tipis mendengarnya. 

Negara demokratis? Itupun telah banyak diulas dan ditulis. Demokrasi negeri ini sungguh mekar mewangi. Luas dan lebar dalam sederetan partai yang kita lupa nama-namanya karena kelewat banyak. Carilah di belahan bumi manapun, jumlah calon anggota legislatif (caleg) tak bakal memecahkan rekor Indonesia 2009. Dunia memuji kita untuk prestasi luar biasa itu. Pujian terakhir meluncur dari bibir perempuan anggun, cerdas dan berkuasa dari negeri Paman Sam, Hillary Rodham Clinton.


Otonomi daerah? Aih, lagi-lagi ini lagu lama. Otonomi daerah sudah berbiak, beranak-pinak. Otonomi di antara gunung- gemunung Nusantara hanya mengenal mekar. Mekar hingga melar di mana-mana sampai jatuh korban tewas di Medan, Sumatra Utara. Sejak lama terdengar gemuruh suara di padang, masih adakah Indonesia bila otonomi terus mekar dan melar? 

Laju pemekaran tak terkendali. Nyaris di luar kontrol akal sehat.  Beta ingin mengajak tuan dan puan sejenak melupakan politik. Menomorsekiankan dulu urusan pesta demokrasi. Dalam satu dasawarsa terakhir, Indonesia mesti dibaptis dengan nama baru sebagai negeri loba. Singkatan kata longsor dan banjir. 


Berita utama Kompas 3 Februari 2009 sungguh membuat buluk kuduk berdiri. Dalam kurun waktu enam tahun (2002-2008) korban tewas di Indonesia akibat tanah longsor dan banjir mencapai 3.555 orang. Dalam periode yang sama terjadi peristiwa tanah longsor dan banjir sebanyak 2.221 kali dengan perincian, tanah longsor 437 kali, banjir dan tanah longsor 181 dan banjir sebanyak 1.603 kali. Jika dirata-ratakan maka hampir saban hari terjadi banjir dan tanah longsor dengan korban nyawa manusia. Kita sungguh hidup di Tanah Air yang kelebihan air. Selalu ada yang mati hari demi hari. Sungguh mengerikan!

Patut diduga data tersebut di atas semata berdasarkan laporan Kompas dari berbagai daerah di Tanah Air. Sangat mungkin ada peristiwa tanah longsor dan banjir yang luput dari publikasi sehingga jumlahnya bisa lebih besar lagi.

Intensitas banjir dan longsor di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula di rumah Flobamora tercinta. Bencana alam tersebut sesungguhnya bersumber dari perilaku manusia sendiri. Berakar pada kelobaan atau keserakahan kita merusak lingkungan, salah satunya lewat penggundulan hutan.

Data Conservation International (CI), sebuah lembaga internasional yang bergerak di bidang keanekaragaman hayati di dunia mencatat, setiap tahun Indonesia kehilangan hutan dengan tingkat kerusakan sekitar 2,5 persen. Di Kalimantan, tingkat kerusakan lebih parah lagi karena bahkan hampir mendekati angka 70-80 persen. Menurut data Save Our Borneo (SOB), 80 persen hutan Kalimantan disebabkan ekspansi besar-besaran industri sawit. 

Kondisi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak lebih baik. Data terbaru menunjukkan, sekitar 2.109.496,76 hektar atau 44,55 persen kawasan hutan dan lahan yang tersebar di seluruh wilayah propinsi kepulauan ini dalam kondisi kritis. Hutan dan lahan di NTT yang terindikasi kritis itu berada dalam kawasan seluas 661.680,74 hektar dan luar kawasan hutan seluas sekitar 1.447.816,02 ha dengan laju lahan kritis selama 20 tahun terakhir sekitar 15.163,65 ha per tahun.

Menurut pakar lingkungan, diperlukan waktu 200 tahun lebih untuk memulihkan kerusakan hutan ideal. Bayangkan tuan dan puan! Betapa susahnya memulihkan lingkungan yang rusak. Umur manusia tidak cukup panjang untuk melakukannya. Anak cucu kita pun belum tentu sempat. 

Hari-hari ini kita sedang hidup dalam kondisi cuaca yang ekstrem. Badai tropis semakin sering. Perubahan iklim tidak bisa dipungkiri lagi. Hujan dan panas tak lagi lazim. Seharusnya musim hujan, malah panas berkepanjangan. Demikian pula sebaliknya. Perhitungan musim tanam dan musim melaut tidak lagi presisi. Bencana selalu datang baik pada musim kemarau maupun musim hujan. 

Sudah sepantasnya kita menertawakan diri sendiri sebagai makhluk paradoks. Makhluk ciptaan Tuhan dengan derajat tertinggi. Berakal budi. Tetapi budi dan akal itu kalah oleh kelobaan. Bahkan burung pun tidak merusak sarangnya sendiri. Burung-burung menjaga dan merawat sarang mereka.

Sejak lama beta selalu ingat satu hal bahwa bumi tidak mengambil apapun dari kita. Sebaliknya kita mengambil banyak hal bahkan hampir seluruh isi perut bumi. Mengambil tanpa berpikir. Lupa bahwa kita cuma numpang makan dan minum. Numpang makan dan minum dalam waktu yang tak lama. 

Jalan terbaik adalah terus-menerus mengembangkan kesadaran bersama mengenai pemeliharan lingkungan secara serius. 

Membangun kesadaran dan mewujudkan aksi konkret di lapangan. Langkah sederhana, mulailah menanam satu pohon di halaman rumah. Seperti itulah cara kita merawat rumah bersama ini. Menyelamatkan bumi! (dionbata@poskupang.co.id)

Pos Kupang edisi Senin, 23 Februari 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes