Tragedi "Si Miskin" di Kupang (2)

FEBRUARI 2009 baru memasuki hari kedelapan. Masih ada 20 hari, tetapi di hari kedelapan itu, Minggu (8/2/2009), bekal keluarga Yakobus Anunut-Ny. Maria Seran, tinggal Rp 20 ribu. Maklum, Yakobus Anunut hanya seorang pegawai honor dengan upah Rp 500 ribu/bulan. Sehari sebelumnya, Sabtu, putri sulung mereka, Limsa Setiana Katarina Anunut (2,5 tahun), diserang diare.

Limsa harus dibawa berobat ke Puskesmas. Dan Maria mengeluarkan "bekal terakhir" itu --tiga lembar uang, satu lembar Rp 10 ribu dan dua lembar Rp 5 ribu-- diberikan kepada suaminya. Yakobus mengisi uang Rp 20 ribu itu di saku celana. Sebelum berangkat, dia memeriksa kembali saku tersebut. Takut jangan sampai jatuh karena salah isi atau saku sobek. Setelah yakin tidak ada masalah, ia ke jalan umum menjemput ojek.

Anunut membawa Limsa ke Puskesmas Pasir Panjang. Berbekal kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang ia peroleh dari Kantor Lurah Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, ia yakin akan mendapat pertolongan medis di tempat ini. Dengan menyewa ojek seharga Rp 5.000 Anunut menggendong putrinya ke puskesmas itu. Namun, apa lacur. Di tempat di mana pasien seharusnya mendapat pelayanan, Anunut harus mengurut dada.

"Dong (mereka, petugas medis, Red) bilang hari Minggu jadi sonde (tidak, Red) ada dokter. Jadi dong sonde terima beta pung (saya punya, Red) anak," tutur Anunut dengan wajah menerawang saat ditemui Pos Kupang di kediamannya, di belakang Kantor Penitipan Barang Sitaan Kelas I Kupang, kemarin siang. Lelaki paruh baya (42) asal Oenino, TTU itu tak sanggup menahan air matanya.

Dengan bekal Rp 20 ribu dikurangi Rp 5 ribu untuk sewa ojek, Anunut menerima kenyataan itu. Ditolak dari puskesmas dengan alasan dokter tidak ada karena hari Minggu. Panik, kesal bercampur dalam bathinnya. 

Sepuluh tahun menjadi warga Kupang, dimana bukan sekali dua kali dia mendengar keluhan tentang buruknya pelayanan medis, membuat Anunut masih bisa bertahan di kakinya sendiri; menggendong buah hatinya yang sudah lemah didera mencret.

Ke dokter praktek? Tidak mungkin. Selain karena hari Minggu dimana dokter praktek pada tutup, juga karena uang di saku tinggal belasan ribu. Bukankah sekali meraba pasien, sang dokter harus dibayar dengan jumlah uang lebih dari yang dipunyai Anunut saat itu? 

Belum biaya obatnya. Tidak mungkin Limsa dibawa ke sana! Lalu Anunut harus kemana? Limsa harus sembuh. Itu satu-satunya harapan Anunut. 

Dalam kebingungan itu, tukang ojek menawarkan jasanya mengantar Anunut dan anaknya ke Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. Dr W Z Johannes Kupang. Seperti mengetahui kesulitan yang sedang dialami Anunut, tukang ojek itu menolak diberi uang sewa ojek. "Puji Tuhan," kata Anunut dalam hati.

Dan Limsa pun rawat inap di RSU Kupang. Empat hari dirawat di sana, nyawa Limsa tidak tertolong. Putri sulung yang selalu menemani sang ayah saat menyiangi kebun di rumah itu pun pergi meninggalkan sang ayah yang setia menemaninya selama di rumah sakit.

Anunut tak mampu melukiskan perasaannya menghadapi kenyataan itu. Buah hatinya telah pulang kepadaNYA. Meninggalkan dia dalam kebingungan. Uang belasan ribu sisa dari membayar jasa tukang ojek empat hari lalu sudah habis dipakai untuk beragam keperluan selama empat hari menjaga Limsa di rumah sakit. Kini Limsa sudah membujur kaku. Anunut bagai disambar petir di siang bolong. Tak ada lagi yang bisa diraba di dalam saku celana. Kosong. 

Informasi biaya Rp 300 ribu yang dia dengar dari petugas medis saat mayat Limsa dibawa ke kamar jenazah RSU Kupang, semakin membuat Anunut kelimpungan. 

"Petugas bilang tunggu beta pung keluarga datang baru bawa pulang (jenasah) Limsa. Beta su bilang bahwa beta bapak kandungnya, tapi mereka bilang tunggu keluarga datang dulu. Dalam hati beta pikir, ini pasti mereka minta uang. Waktu mayat Limsa dibawa ke ruang jenazah, petugas jelaskan bahwa biayanya Rp 300 ribu. Tetapi karena beta sonde ada doi satu sen juga, beta gendong bawa pulang beta pung anak," kisah Anunut.

***
Anunut, seperti istrinya Maria Seran, begitu polos. Ketika Pos Kupang mendatangi rumah duka, kemarin siang, wanita asal Besikama, Belu, ini sedang menggendong anaknya yang kedua, Devi Imanuel Anunut (2 bulan). Di rumah duka ini, tenda masih terpasang. Puluhan kursi pun masih ada, tetapi nyaris kosong. Siang itu, di rumah bebak berlantai tanah yang dibangun di atas tanah milik pemerintah, hanya ada beberapa anggota keluarga, termasuk kakek Limsa (ayah Maria Seran) yang langsung ke Kupang setelah mendengar kematian cucunya, Kamis (12/2/2009) lalu.

Saat tenda sedang kosong, sekitar pukul 11.00 Wita, Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, mengunjungi keluarga ini. Kepada Hurek, Maria Seran mengatakan, suaminya tidak tamat SD. Sejak meninggalkan kampung halamannya, 1999 lalu, ia bekerja sebagai buruh bangunan hingga akhirnya menjadi tenaga honor di Kantor Penitipan Barang Sitaan Kelas I Kupang sejak 2001 dengan honor Rp 500 ribu/bulan.

Saat berkunjung itu, Devi yang sedang digendong ibunya, sempat muntah. Melihat itu Hurek langsung menelepon dokter dari Puskesmas Oesapa dan dokter langsung datang memeriksa kesehatan Devi. 

""Ada nomor HP saya di amplop itu. Kalau ada yang mau disampaikan, bisa SMS," ujar Hurek sambil menjabat tangan Maria Seran. Ibu ini pun menatap kepergian Wakil Walikota dengan linangan air mata.

Simpati untuk Anunut juga ditunjukkan pengacara Umbu Samapaty, S.H, M.H. "Saya berpikir, bagaimana kalau itu terjadi pada saya. Bagaimana kalau Anunut itu saya dan Limsa anaknya itu adalah anak saya? Saya kira kultur kita orang NTT itu adalah orang penuh peduli pada sesama yang sedang kesulitan. Tapi yang ini tidak. Pejabat-pejabat rumah sakit itu punya fasilitas mobil segala macam, dan itu dibeli dari uang rakyat. Kenapa itu harus terjadi pada orang seperti Anunut itu," kata Samapaty sambil menahan tangis.

"Selama ini kita yakin bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Tapi ternyata, surga (juga) ada di telapak tangan seorang ayah seperti Anunut. Ini seperti penggenapan. Dan Tuhan maha bijaksana. Saya kira semua kita yang menyebut diri orang NTT, terutama pemimpin, melakukan refleksi atas kasus ini, bahwa kita jangan sampai sudah kehilangan kepedulian pada orang lain," kata Samapaty. (dar/den/amy)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes