Kacang Tarai dan Ubi Ou

LENDOLA. Nama sebuah desa di Kota Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor. Meski masuk dalam wilayah Kota Kalabahi, Lendola tetap berstatus desa. Warga tidak mau mengubahnya menjadi kelurahan untuk menjaga keasliannya.

Keaslian itu tergambar dalam kondisi wilayah, keberadaan masyarakat dan sejumlah kearifannya. Dari segi kondisi wilayah, desa ini begitu sejuk. Hutannya masih lestari. Ada beringin, dadap, kemiri dan tanaman lainnya. Hutan ini menjadi "paru-paru" Kota Kalabahi. Hutan ini juga menyediakan sejumlah sumber air dengan debit besar untuk memenuhi kebutuhan harian warga Kota Kalabahi.

Namun, akibat berbagai kemajuan, pola hidup masyarakat Desa Lendola sudah banyak berubah. Perubahan pola hidup itu terlihat dalam pola konsumsi sehari-hari. Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap beras semakin tinggi, meski desa itu tidak memiliki lahan sawah. Hanya sedikit ladang untuk menanam padi.

Masyarakat desa itu sudah tidak menjadikan bate (jagung) sebagai makanan pokok. Padahal, salah seorang anak tanah di desa itu, John Lendola Maro (43), sudah merasakan bagaimana makanan-makanan lokal sanggup mempertahankan hidupnya sejak kecil bersama orangtuanya.

John menceritakan, ketika dia masih kecil biasanya stok makanan menipis pada musim tanam hingga masa panen -- November hingga Februari. Untuk menyiasatinya, bate (jagung) yang biasanya sekali masak sampai empat bulir dicampur dengan sayuran lainnya sehingga isinya menjadi banyak, tapi selama musim transisi itu, orangtuanya dan warga setempat menyiasati dengan memasak jagung cukup satu bulir saja untuk menjaga stok bate. Supaya menjadi banyak sehingga semua orang di rumah bisa makan (apalagi orangtua dulu memiliki anak banyak), maka bate dicampur dengan sejenis kacang lokal yang disebut karai (kacang hutan). Kacang ini beracun dan hidup di hutan-hutan. Bentuknya seperti kacang tali (kacang nasi). Rasanya pun sama dengan kacang nasi, enak. 

Untuk menghilangkan racun karai, biasanya orangtua John mencucinya di kali (sungai), kemudian diikat dalam kain atau karung lalu direndam dalam kolam kecil di sungai itu. Untuk menandai dan tidak hanyut dibawa air sungai, bungkusan karai itu ditindis dengan batu. 

Kalau sudah ada tanda demikian, kata John, maka tidak ada satu orang pun warga berani mengambilnya. Karai direndam semalam penuh sampai racunnya hilang. Pada pagi hari berikutnya -- sebelum ke kebun -- orangtua John mengambil kembali bungkusan karai itu, dimasak campur dengan bate dalam periuk tanah. 

Bate biasanya dimasak lebih dahulu hingga setengah matang, baru karai dimasukkan. Pada waktu itu bate dan karai juga dicampur dengan sayur-sayuran, seperti marunggai, daun pepaya, dan sayuran lainnya. Dengan campuran yang banyak ini, bate yang hanya satu bulir tadi menjadi banyak dan cukup untuk makan bagi seluruh keluarga.

Makanan ini disantap bersama-sama setiap hari, baik saat makan siang maupun malam. Makanan itu diisi dalam tempurung yang ketika itu berfungsi sebagai piring, termasuk sendok terbuat dari tempurung. Makanan ini biasanya dimakan dengan ikan teri kering dan sambal yang terbuat dari lombok, tomat, garam, dan daun kemangi. Mereka makan di balai-balai rumah. Nilai kebersamaannya sangat kental.

Setiap hari juga pada musim paceklik warga masuk hutan untuk menggali ubi hutan. Ada dua jenis ubi hutan. Satunya berduri dengan sebutan da. Satunya lagi tidak berduri dengan sebutan ou. Da biasanya mudah ditemukan karena hanya berada pada kedalaman 20-30 cm. Sedangkan ou harus digali sampai kedalaman satu meter. 

Untuk mengetahui kematangannya, da warnanya menjadi oranye, sedangkan ou menjadi kuning. Da rasanya lebih enak karena manis.

Makanan lokal yang disebutkan itu -- karai, da dan ou -- jarang ditemukan lagi desa itu saat ini. Warga sudah bergantung pada beras. Ditambah lagi, sekarang tanaman perdagangan masyarakat sudah banyak. Begitu stok makanan di rumah menipis, masyarakat tinggal menjual kemiri untuk membeli beras. 

"Kalau dulu tidak ada raskin dan tanaman perdagangan masih sedikit, orangtua menjaga stok jagung dengan makanan lokal lainnya. Tapi, sekarang makanan lokal itu sudah ditinggalkan masyarakat," kata John sambil mengatakan makanan lokal itu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. (Okto Manehat)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes