Orang Jerman Pun Doyan Cakalang Fufu

Cakalang Fufu
BITUNG, TRIBUN - Ingat Bitung ingat Cakalang Fufu! Cita rasa ikan asap yang menjadi ikon kota industri Bitung itu sejak lama menarik minat masyarakat dunia sehingga produksi per hari tak pernah menurun.

Bitung saban hari  menghasilkan berton-ton cakalang fufu guna memenuhi permintaan baik dari dalam negeri maupun manca negara.  Dan, orang Jerman ternyata doyan cakalang fufu. Cita rasa yang khas karena diasapi bara sabut kepala merupakan keunggulan ikan cakang fufu buatan para pengusaha Bitung.

"Beberapa waktu lalu ada perwakilan dari pemerintah Jerman datang ke sini, katanya mereka suka dengan rasa khas ikan cakalang fufu produksi Girian," kata Ibu Kasih, pengusaha cakalang fufu di Kelurahan Girian Atas Bitung, Jumat (23/8/2013).

Menurut Kasih, selain membeli cakalang fufu dalam jumlah besar, perwakilan pemerintah Jerman itu meminta kesediaan pengusaha di Girian mengajarkan mereka beberapa teknik pembuatannya. Beberapa waktu kemudian, lanjut Kasih, sejumlah perwakilan dari kelompok pengusaha cakalang fufu di Girian Stas berangkat ke Jerman memenuhi undangan mereka.

"Ke sana teman-teman juga membawa cakalang segar dan sabut kelapa untuk mengajarkan mereka cara membuat cakalang fufu. Kami juga membawa cakalang fufu yang sudah jadi untuk mereka coba," kata Ibu Kasih. Selain Jerman, negara lain yang selalu mengimpor cakalang fufu adalah  Singapura."Singapura pernah memesan dalam jumlah besar tetapi kami di sini belum sanggup penuhi karena masih terbatas peralatan pendukung misalnya untuk packing," ujarnya.

Usaha cakalang fufu milik Kasih khusus jenis cakalang fufu jepit atau dalam istilah setempat cakalang fufu gepe. Sudah sepuluh tahun Kasih bergerak di bidang usaha ini.  Dalam sehari dia membutuhkan sebanyak 300 kilogram ikan cakalang segar dengan berat  rata-rata seekor 1,5 kilogram (kg) untuk dijadikan bahan baku pembuatan cakalang fufu jepit. "Dari 300 kg ikan segar  ini bisa menghasilkan 300 jepit cakalang fufu fepe," ujarnya.

Besarnya modal yang dibutuhkan Kasih membeli cakalang segar sehari berkisar Rp 4,5 juta hingga Rp 6 juta dengan perhitungan biaya 1 kg cakalang segar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. "Harga cakalang segar memang lagi mahal sekarang karena makin banyak perusahaan ikan di Bitung yang butuh. Saat ini cakalang saya beli Rp 18 ribu per kilogram," tuturnya.Sedangkan bahan bakar pengasapan masih menggunakan cara tradisional, yaitu sabut kelapa. "Pengasapan  untuk 300 jepit cakalang butuh sabut kelapa sebanyak satu mobil pick-up L 300, dibeli dengan harga Rp 150 ribu," ungkapnya.

Aroma Sabut Kelapa

Kasih menjelaskan,  proses pembuatan cakalang fufu jepit agak berbeda dengan cakalang fufu biasa atau utuh. Ukuran cakalang pun lebih besar. Cakalang segar dibelah dua lalu dibersihkan tulang-tulangnya. Setelah itu masing-masing bagian cakalang masih dibelah dua lagi kemudian dijepit dengan bambu. "Satu ekor cakalang segar menghasilkan dua jepit ikan cakalang fufu," ujar Kasih.

Setelah dijepit dengan bambu, cakalang segar diolesi larutan pewarna makanan berwarna merah agar ikan tidak berubah hitam saat diasap dan tetap segar."Kami pastikan tidak memakai pewarna tekstil atau bahan pengawet lain," tandasnya.
Setelah diolesi pewarna makanan dan didiamkan sebentar, cakalang siap diasap di atas bara sabut kelapa. Sekali pengasapan dapat menampung hingga 300 jepit ikan. "Lama pengasapan kira-kira selama dua jam," jelas Kasih.

Kasih mengakui harga cakalang fufu jepit lebih tinggi dibanding cakalang fufu utuh karena ukuran ikan yang lebih besar, kualitas pengasapan yang jauh lebih kering sehingga menjamin daya tahan penyimpanan hingga 3-4 hari. Rasa yang dihasilkan pun jauh lebih lezat. "Asap dari sabut kelapa itu yang menambah enak rasa ikan," ujar Kasih. Untuk penjualan, harga satu jepit cakalang fufu dipatok antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu tergantung ukuran. Fokus pemasaran Kasih di Bitung dan Manado. "Kami juga melayani untuk tamu-tamu dari luar yang ingin membeli oleh-oleh. Biasanya sekali beli hingga 30 jepit," ujarnya. Dalam satu hari Kasih mendapat keuntungan bersih rata-rata Rp 500 ribu bahkan lebih.

Usaha pengasapan ikan cakalang fufu terbilang cukup menjanjikan. Hal ini diakui pengusaha lainnya di Girian Atas, Sairah Harun. Sama seperti Kasih, dalam sehari Harun membutuhkan antara 300 hingga 600 kg ikan cakalang segar untuk diasap atau sekitar 900 sampai 1.800 ekor ikan cakalang ukuran sedang. Biaya modal yang dikeluarkan Harun dalam sehari berkisar antara Rp 2,2 juta hingga Rp 4,5 juta.
"Setelah dikurangi biaya operasional dan modal beli ikan mentah, keuntungan sehari bisa dapat  Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu," jelasnya.

Harun mengakui hampir setiap hari dia melayani pesanan ikan cakalang fufu. "Banyak juga tamu-tamu dari luar daerah yang beli ikan cakalang fufu di sini sebagai buah tangan," demikian Sairah Harun. (ika)

Habiskan 2,8 Ton Sabut Kelapa Sehari


DINAS Kelautan dan Perikanan Kota Bitung memastikan terdapat 70 lokasi usaha pengasapan ikan cakalang fufu di Bitung. "Sentra pembuatan ikan cakalang asap atau dikenal dengan nama cakalang fufu di Bitung itu hanya ada di Kelurahan Girian Atas dan Girian Bawah," kata Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Bitung  Hengky Wowor kepada Tribun Manado, Jumat (23/8/2013).

Menurut Wowor, Kelurahan Girian Bawah mengoleksi dua kelompok usaha cakalang fufu dimana satu kelompok terdiri dari 30 dan 40 pengusaha rumah pengasapan.  "Sedangkan di Kelurahan Girian Atas ada satu kelompok usaha dengan jumlah pengusaha rumah pengasapan 20 pengusaha, sehingga total lokasi usaha pembuatan cakalang fufu di Girian sebanyak 70 lokasi," tuturnya.

Wowor membanrkan bahwa untuk satu rumah usaha pengasapan  membutuhkan sekitar 300 hingga 600 kilogram ikan cakalang segar per hari.  Dengan demikian total keseluruhan untuk 70 lokasi itu membutuhkan antara 21 ribu hingga 42 ribu kilogram ikan segar atau setara 21 ton hingga 42 ton ikan cakalang segar per hari
Usaha pengasapan ikan cakalang memberi nilai tambah yang luar biasa pada sabut kelapa. Dalam sehari, lanjut Wowor,  setiap rumah pengasapan ikan cakalang fufu memerlukan minimal satu truk ukuran pick-up L 300 penuh sabut kelapa kering atau setara 30 sampai 40 kilogram sabut kelapa.

Maka bila  ditotal untuk 70 lokasi pembuatan cakalang fufu di Girian dalam sehari memerlukan 2.100 hingga 2.800 kilogram sabut kepala kering atau setara 2,1 ton hingga 2,8 ton sabut kelapa sebagai bahan bakar pengasapan cakalang.
Wowor menambahkan, usaha cakalang fufu di Bitung tetap dipertahankan dengan teknik pengasapan tradisional lantaran memberi rasa yang khas. "Teknik pengasapan secara tradisional dengan menggunakan sabut kelapa itu menghasilkan rasa ikan yang khas, dan teknik ini sudah turun temurun," demikian  Wowor. (ika)

Sumber: Tribun Manado 26 Agustus 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes