Wake Laki Lise Tana Telu (4)

Lise Tana Telu di tengah derap pembangunan

Keseluruhan kebudayaan adalah sebuah ruang lingkup dan tidak terbatas pada aspek-aspek ideational saja. Konsep sentral dari kebudayaan adalah adat-istiadat, yaitu pola prilaku tradisional yang reguler. Gluckman mengakui betapa pentingnya peranan adat-istiadat dalam mengatur perilaku manusia.

Pikiran ilmiah yang diformulasikan Gluckman ke dalam teori-teorinya ini sesungguhnya diangkat dari apa dijalankan masyarakat adat yang berpikir sederhana soal yang lebih luas dari ide-ide dan peranan adat yang mengatur kehidupan mereka.

Masyarakat adat Lise Tana Telu mewujudkan keyakinan mereka tentang pentingnya tradisi adat, dalam pelantikan pucuk pimpinan tradisional, mosalaki pu'u. Kesadaran ini muncul secara komunal melalui mosalaki dengan satu keyakinan bahwa paran dan fungsi mosalaki pu'u terutama menjadi roh penggerak bagi segenap aktivitas sosial budaya.

Bukan saja soal murni tradisi adat semata-mata, tetapi juga memberi pengaruh pada aspek sosial lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Mosalaki pu'u sebagai pimpinan tertinggi Lise Tana Telu, mosalaki riabewa, dan mosalaki sebagai pemimpin dalam wilayah masing-masing ikut berperan aktif dalam kegiatan pembangunan bersama pemerintah sebagai mitra.

Peran dan fungsi mosalaki pu'u.

Daniel Bheto Dedo sebagai mosalaki pu'u, para ria bewa, mosalaki, bogehage yang berkumpul pada hari puncak Nggubhu luka menjelaskan beberapa hal penting, mengapa pelantikan mosalaki pu'u perlu dilakukan.
Pertama untuk menjalankan adat atau supaya semua upacara adat berjalan kembali, demi kesatuan dan kekeluargaan segenap warga Lise Tana Telu.

Sejak mosalaki pu'u kesepuluh, Dedo Baba, ayah dari Daniel meninggal (tahun 2000), menjalankan upacara adat sedikit terbengkelai. Hal ini disadari mempengaruhi semangat bersatu padu yang sudah ada sejak dulu. Melihat letak geografis, topografi daerah, dan kesulitan transportasi, peristiwa budaya yang terjadi di Ratenggoji mesti digarisbawahi secara serius oleh pemerintah.

Masyarakat adat tahu siapa yang berperan dan memiliki kekuasaan di wilayahnya. Orang-orang yang mereka hormati sebagai pemimpin sekaligus mereka dengar. Sebagai sebuah kelompok masyarakat, basis mereka sangat kuat. Karena itu jika pembangunan masuk melalui basis itu, dijamin partisipasi masyarakat akan sangat kuat.

Dalam kultur dan semangat yang direstui tradisi, kualitas hidup mereka lebih mudah ditingkatkan. Menjalankan upacara adat bagi masyarakat agraris Lise Tana Telu, artinya sama dengan menjalankan berbagai ritual yang berkaitan langsung dengan pekerjaan sehari-hari sebagai petani. Dukungan upacara adat berpengaruh langsung pada aktivitas pertanian, peningkatan ekonomi pertanian, dan lainnya.

Kedua, untuk melestarikan kebudayaan asli Lise Tana Telu terutama yang berkaitan dengan budaya agraris tradisional, budaya asli Lise Tana Telu, maupun kebudayaan Lio, Ende, dan wilayah agraris lainnya di Flores. Upacara adat seperti ritual pertanian po'o bhoro (awal/memasuki musim tanam), panen, mopo (membuka kebun baru yang belum pernah digarap), diharapkan hidup kembali, meskipun tanaman perdagangan merambah begitu kuat dalam usaha percepatan pembangunan ekonomi pertanian.

Daniel Bheto Dedo, mosalaki pu'u Lise Tana Telu yang berpendidikan SD ini memahami benar situasi sosial budaya masyarakatnya. Salah satu contoh yang digarisbawahi adalah po'o bhoro, ritual memasuki musim tanam; khususnya padi ladang.

Dalam acara ini para mosalaki datang ke Ratenggoji untuk mengambil beras (yang telah disiapkan mosalaki pu'u) di sa'o ria tenda bewa. Beras itu disiram di kuburan leluhur di depan sa'o ria tenda bewa sebagai bentuk rera mea atau menyampaikan kepada leluhur bahwa po'o bhoro akan dilakukan. Inti po'o bhoro adalah mempersembahkan beras merah (khusus) di musu mase lodo nda (batu persembahan) untuk para leluhur.

Maknanya adalah agar seluruh proses tanam sampai panen berjalan lancar dengan hasil berlimpah. Digantikannya padi dengan tanaman perdagangan (fanili, cengkeh, kemiri, dll) menyebabkan po'o bhoro tidak dilaksanakan lagi. Menurut Daniel alangkah baiknya jika pemerintah memperhatikan hal ini. Po'o bhoro menyangkut roh atau semangat kerja dalam restu leluhur. Beliau mengharapkan agar proses pembukaan lahan, tanam, sampai panen tanaman perdagangan, hendaknya po'o bhoro tetap dilakukan dengan padi/beras sebagai sentral.

Ketiga, selain ritual pertanian, keberadaan mosalaki pu'u dan segenap mosalaki lainnya penting untuk menjalankan kembali hukum-hukum adat yang berlaku dalam masyarakat secara turun temurun. Misalnya wale dan wale pela (berkaitan dengan sanksi perkawinan), juga hukum adat yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mosalaki, serta hak dan kewajiban masyarakat umum.

Keempat, kehadiran mosalaki pu'u, ria bewa, mosalaki, dan segenap perangkat di bawahnya diharapkan dapat menjalin kebersamaan dalam menghadapi berbagai masalah sosial, yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun masalah sosial lainnya. Contoh nyata yang terjadi di Ratenggoji adalah masalah SDN Ratenggoji.

Daniel Bheto Dedo adalah Ketua Komite Sekolah yang tentu saja tidak terpisahkan dari perannya sebagai mosalaki pu'u. Beliau mengeluh soal kekurangan guru. "Dalam tahun ajaran ini, SDN Ratenggoji hanya ada satu guru merangkap kepala sekolah, Bapak Damianus Seda (47) untuk lima kelas dengan jumlah murid 107 orang." Sebagai mosalaki pu;u dan ketua komite sekolah, beliau sangat mengharapkan perhatian pemerintah agar masalah guru ini segera diatasi.

Kerja sama dengan pemerintah
Selain bidang pendidikan, masalah kesehatan termasuk di dalamnya pemenuhan kebutuhan air bersih juga dibahas. Hal penting yang digarisbawahi dalam rapat bersama segenap mosalaki adalah pengertian mereka tentang pentingnya kerja sama dengan pemerintah setempat. Ada keterbukaan antara kedua belah pihak untuk mengatasi masalah bersama-sama.

Masalah pokok untuk Ratenggoji dan segenap Desa Tani Woda adalah air. Selain itu masalah tanah juga mendapat perhatian. Terutama menyangkut tanah garapan, wilayah hak milik, pemanfaatan tanah ulayat untuk kepentingan umum. Hal ini diakui juga oleh Camat Kota Baru. Cornelis Wara, S.Sos bahwa selama ini dirasakan konsentrasi lahan ada di tangan mosalaki pu'u. Ana halo dan fai walu (masyarakat umum) hanya menggarap dengan tanam padi dan palawija.

"Mudah-mudahan dengan momen ini kerja sama dengan segenap mosalaki, antar mosalaki, dan mosalaki dengan masyarakat bisa berjalan lebih baik," demikian harapan Camat Kota Baru yang ditemui di sa'o ria tenda bewa, rumah mosalaki pu'u pada hari puncak upacara nggubhu luka.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Aloysius Woda (43) Kepala Desa Tani Woda. Ditemui dirumahnya yang sangat sederhana (lantai tanah, dinding bambu dengan satu kamar tidur). Beliau menyatakan sangat bangga dengan upacara yang baru dilangsungkan. Partisipasi masyarakat sudah terlihat jauh hari sebelum memasuki tujuh hari rangkaian menuju hari puncak. Masyaralat desa setempat telah melakukan berbagai persiapan.

Sebagaimana dijelaskan Geradus Baba (adik kandung mosalaki pu'u) swadaya masyarakat mengumpulkan uang sebanyak tiga juta rupiah untuk menyewa alat berat Dinas Kimpraswil. Dengan dukungan pemerintah ini dilakukan perbaikan dan pelebaran jalan dan pemasangan bambu (berfunghsi sebagai pipa) dari sumber air di ketinggian bukit sampai masuk Ratenggoji. Diharapkan mosalaki pu;u, pipa dapat dibuat permanen dengan kerja sama pemerintah dan masyarakat melalui pemimpin adat mereka.

Menurut para mosalaki, penting sekali pemerintah mengetahui struktur kelembagaan adat masyarakat setempat. Apalagi peran dan fungsi mosalaki terutama berkaitan dengan tanah, hukum adat, dan ritual adat yang yang menyatu dengan sistem sosial masyarakat dengan latar belakang budaya agraris tradisional. Berbagai aturan hukum dan kearifan lokal mesti menjadi bagian dari pertimbangan kebijakan pembangunan. Apalagi jika pembangunan mengutamakan masyarakat sebagai subyek.

Eksistensi mosalaki pu'u, ria bewa, mosalaki, dan segenap perangkatnya, serta masyarakat umum dari Lise Tana Telu diharapkan dapat menjadi satu kekuatan kerja sama pembangunan. Baik kerja sama sesama warga masyarakat adat Lise Tana Telu, maupun kerja sama dengan pemerintah.

Demikianlah, kebudayaan memampukan orang mampu untuk menyesuaikan diri dengan topografi alam serta lingkungan sosial tempatnya menjalani hidup. Kebudayaan - seperti dijelaskan Prof. Dr. Soerjono Soekanto-, bervariasi, terwujud dalam lembaga-lembaga, pola berpikir, dan benda-benda. Kebudayaan mencakup semua unsur yang didapatkan oleh manusia dari kelompoknya, dengan jalan mempelajarinya secara sadar atau dengan suatu proses penciptaan keadaan-keadaan tertentu.

Lise Tana Telu adalah bagian dari kebudayaan yang masih hidup dan terjaga dengan baik di tengah geliat modernisasi. Mudah-mudahan akan tetap hidup dan terpelihara untuk membangun masyarakat Lise Tana Telu sendiri (habis/maria matildis banda)
Reaksi:

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Saya sudah ke Ratenggoji. Motornya harus distel supaya bisa melewati medan yang sulit. Motornya juga sempat "digendong". Semoga ada perhatian pemerintah untuk mereka. Alamnya indah. Hamparan awan cumulus yang menggantung diatas bukit-bukit kecil di tepi jalan..... so exotic.

Btw, apa fungsi musolaki seberpihak itu pada rakyatnya?

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes