Api Doy menuju Gowa


Valens "Kompas" Doy

"Tiarap!"
begitu satu kali lelaki bermata api itu bertegas
Akupun lari bergeras, melihat semua lebih keras
tengah 80-an, langit kelabu, dunia palsu
ribuan manusia dengan kerah tegak
tak cuma tiarap tapi merangkak dan kabur!
Lelaki bermata api, kini lenyap kembali
20 tahun tak kami bertemu
Setelah bibir tebalnya merangkum nasibku
sejak mula, sejak awal masakku, jurnalisme
bibir padat gairah itu tak peduli
remaja kurus, entah siapa, menguntit reputasinya
"tulis!"



Lelaki dengan ... hitam di kepala itu menyerbu
lalu ia bergerak, bergerak, bergerak senantiasa
Tubuh pendek kerasnya tak terpegang
melesat dikala kepala, atau lenyap berdiam hati
tidur melulu sekejap, segera kerja hebat, menyergap
"aku redaktur malam sekarang! ia tertawa
mulutnya lebar terbuka, semua kemungkinan didalamnya
dan dalam sehari, 4 gelas kopi, 3 bungkus kretek,
berganti air bening dan gula-gula, disiplin, disiplin!
Aku menulis dipojok mejanya. "PSSI berkelahi lagi"
"ha...ha... ha.."
 

Tawa itu tak pernah luput disemua cuaca
seperti nasib yang membuka perutnya
dan kita berziarah didalamnya
Lalu hanya sedikit jumpa selepas desk olahraga
kulihat kau disana, kudengar kau disini
bagai elang kehilangan angkasa
Lelaki dengan langkah lebar itu kini misteri
membuatku selalu tunduk merabuk
mengapa ia belum juga bangkit berdiri?
Ribuan nama tak nanti mengganti Doy satu ini
wajah keras Flores, gairah yang membasuh muka
kilat api matanya: kasih, juga damai yang terbawa
sejak gajah mada, mundur hingga gowa
"bangkit! bangkit"
Namun pualam itu tetap terpendam...
jasad dan jiwa yang membangkitkan itu
tetapi tiarap, untuk seterusnya.....

Tengah malam buta, kudengar kabarnya
dan langit negeri masih kelabu
foto-fotomu berkelebat selalu di memori kecilku
pori-poriku bergetar: tiarapkah kita selalu?
aku berdiri, membersihkan muka dan berhajut
melenyap hati dan menulis kata-kata ini
"Bang Valens, segontai apa pun tungkaiku.
biarlah aku tegak vertikal untukmu!"
dengan tekun kuasah pualammu
kutebar panas apimu
sampai pun gowa
sampai pun niatku tak kuasa
terbentanglah kau abang
biar tidur pun kau, langit tertantang
di jauh sini, jutaan maafku terbang
di tubuh yang sirna, gairah itu tetap jalang
hingga di waktu tak lagi panjang
hingga kelabu itu hilang
dan senyum mengembang...

Jakarta, 03/05/05
Radhar Panca Dahana. Kompas, 9 Mei 2005.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes