Nuamuri: Desa Wortel, Kentang dan Halia

KEHIDUPAN manusia desa dalam spektrum pembangunan suatu bangsa, cukup sering menampilkan nada minor. Fakta di negara dunia ketiga seperti Indonesia tidak mengingkari kenyataan tersebut. Desa selalu dianggap tidak mampu, tak berdaya dan harus selalu ditolong. Pola pembangunan "menolong" seperti itu sebetulnya sudah mendapat kritikan dari para pakar pembangunan karena kita sesungguhnya tidak pernah menolong manusia desa untuk berkreasi dan mengekspresikan kemampuannya. Format top down justru sekadar menciptakan manusia desa yang selalu bergantung pada kekuatan "di atas".
Warga Desa Nuamuri, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, secara diam-diam sepertinya "melawan" pola pembangunan menolong desa tersebut. Memprotes klaim-klaim keliru bahwa sumber daya manusia (SDM) desa bodoh dan tak bisa berbuat apa-apa. Selama sepuluh tahun terakhir, dengan kemampuan yang dimiliki mereka dapat mengubah pola hidupnya dari sekadar petani ladang yang setiap tahun sudah merasa puas menanam padi, jagung dan ubikayu menjadi petani dengan orientasi ekonomis.
Pola pikir mereka sangat sederhana. Mereka menyadari padi ladang, jagung atau palawija dari waktu ke waktu tidak mampu mengongkrak tingkat kesejahteraan hidup menjadi lebih baik. Hasil bumi yang diperoleh sekali setahun itu, nyatanya hanya cukup untuk konsumsi sehari-hari. Padahal dari sisi transportasi, desa berpenduduk 1.876 jiwa (statistik 1996) itu berada di jalur jalan negara Ende-Maumere yang merupakan poros utama perhubungan darat di Pulau Flores.
"Sampai akhir tahun 1970-an, hidup kami begitu-begitu saja. Tanah yang cukup subur ini hanya ditanami padi, jagung atau ubikayu. Karena sudah berlangsung secara turun-temurun, saat itu tidak pernah terpikirkan untuk menanam komoditi yang lain," kata Yohanes Kaki (52), Ketua I LKMD Desa Nuamuri, Selasa 30 Desember 1997 lalu.
Kesadaran untuk mengubah pola pertanian itu muncul pada awal tahun 1980-an. Mengingat nilai ekonomis padi, jagung dan ubikayu seperti berjalan di tempat - masyarakat Nuamuri mengalihkan perhatiannya dengan menanam sayuran seperti kol, wortel dan kentang.
"Kalau kami tanam padi ladang, setahun hanya panen satu kali dan hasilnya hanya cukup untuk makan. Beda dengan kentang dan wortel, setiap tiga bulan sudah bisa kita panen. Harganya juga lebih baik dan selalu laku dijual baik ke Kota Ende maupun Maumere," kata Yosef (45), warga Nuamuri lainnya.
Kesadaran seperti itu dari waktu ke waktu makin mengental dalam lubuk hati setiap warga Nuamuri. Sejak tahun 1990, hampir seluruh penduduk desa ini tidak lagi menyandarkan hidupnya pada padi dan jagung. Sebanyak 315 kepala keluarga (KK) dominan mengusahakan komoditi sayuran berupa kentang, kol, wortel dan juga halia (jahe red). Komodi lain yang dikembangkan ialah jeruk siam dan kopi.
Menurut Kepala Desa Nuamuri, Stefanus Bhalu, padi, jagung dan ubikayu saat ini sekadar tanaman pendamping. "Paling-paling mereka tanam untuk makan sendiri. Selebihnya setiap lahan pertanian di sini pasti penuh dengan wortel, kentang dan halia," kata Yohanes Kaki.
***
MENGENAI pemasaran hasil, sejauh ini belum menjadi perkara rumit. Setiap hari, ada saja pedagang sayur dari Kota Ende maupun Maumere yang datang "memborong" kentang dan wortel dari Namuari dan desa Nduaria. Pada setiap hari pasar di Moni (setiap hari Selasa), Wolowaru (Rabu dan Sabtu), Detusoko (Kamis), Wolowona (Jumat), para pedagang sayur tidak segan-segan mendatangkan truk khusus untuk mengangkut aneka sayuran dari Nuamuri.
"Truk-truk yang biasa angkut hasil dari sini antara lain, Istana, Budi Luhur dan Intisari. Kalau hari pasar, sayur kami sangat laku," kata Yohanes. Harga wortel di tingkat petani Nuamuri Rp 500,00 per kg. Pada saat panen, biasanya turun sampai Rp 400,00 per kg. Harga kentang pada musim paceklik bisa mencapai Rp 2.500,00 per kg. Sedangkan pada saat panen - biasanya bulan Januari dan Februari - harganya bisa turun sampai Rp 1.000,00 per kg.
Halia dijual petani setempat rata-rata Rp 1.200,00 per kg. Harga halia merah relatif stabil.
Pendapatan setiap petani lumayan baik. Rata-rata setiap KK di Nuamuri mengolah lahan seluas 4,25 sampai 1 ha. Menurut sejumlah penduduk, bila tidak terserang hama dan iklim yang buruk - setiap panen mereka bisa menghasilkan 5-6 ton kentang dan wortel. "Dari hasil pantauan kami, setiap hari pasar petani Nuamuri bisa memperoleh uang cash sekitar Rp 15 sampai 30 ribu rupiah. Bisa dihitung sendiri kalau dalam sebulan ada pasar lima kali," kata sang Kades, Stefanus Balu.
Data yang diperoleh Pos Kupang menunjukkan, setiap KK di Desa Nuamuri saat ini menanam kopi jenis Robusta dan Arabika rata-rata 1 sampai 2 ha. Sebagian warga, misalnya Robertus Fowo malah memiliki lahan kopi 4 ha yang sudah beberapa kali dipanen. Setiap ha terdiri dari 400 pohon kopi.
Masyarakat setempat juga mengusahakan jeruk siam yang sebagian besar sudah menghasilkan buah yang manis dan gurih.
Persoalannya, seperti diakui Ketua I LKMD, Yohanes Kaki, sebagian besar petani jeruk di Nuamuri mempraktekkan sistem ijon. "Biasanya pembeli dari Maumere atau Larantuka sudah memberikan uang pada saat buah jeruk belum matang. Mereka beli per pohon," kata Kaki. Harga setiap pohon jeruk siam bervariasi antara Rp 75.000,00 sampai Rp 200.000,00.
"Memang petani yang rugi memakai cara seperti ini. Tapi petani di sini tidak mau repot menjual sendiri ke Maumere atau Ende. Jual jeruk risikonya kan tinggi. Kalau tidak laku pasti busuk," tuturnya. Kendala lain yang dihadapi petani setempat ialah mendapatkan pupuk urea dan TSP untuk tanaman wortel dan kentang.
***
DESA Nuamuri merupakan satu dari 25 desa di Kecamatan Wolowaru. Desa yang terletak sekitar 56 km timur Kota Ende ini berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Perkampungan di desa ini cukup tersebar. Nuamuri merupakan ibukota desa. Kampung-kampung yang masuk wilayah ini ialah Detuara, Niraola, Watubewa, Detu Bu, Wolo Kelo, Nua Nggo, Tedho Naka, Ndule, Wolonio, Maru dan Wolo Jeo.
Untuk memenuhi kebutuhan air, baik bagi lahan pertanian maupun air untuk kebutuhan manusia, Dinas Kehutanan Kabupaten Ende telah membangun dua buah cekdam. Air bersih memang cukup sulit diperoleh warga desa itu sehingga menggugah pemerintah Australia melalui lembaga Ausaid memberikan bantuan perpipaan untuk pengadaan air minum dari sumber air sejauh 7 km dari pusat desa.
Kekuatan lain di desa ini adalah semangat gotong-royongnya. Untuk mengerjakan lahan pertanian, terdapat 32 kelompok kerja yang dibentuk secara swadaya. Setiap kelompok beranggotakan 10-11 orang. Jadwal kerja kelompok yang dalam bahasa setempat disebut Ju mulai sejak pukul 05.00 - 10.00 Wita. Jam kerja ini sangat konsisten diterapkan dan ditaati seluruh anggota kelompok. (dion db putra)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes