Menyembuhkan Luka Lama

* Dialog KKP Indonesia-Timor Leste (1)

KRISTAL Hotel Kupang, 4 Januari 2007. Di Ballroom yang sejuk berpendingin udara tapi suasana di sana tidaklah benar- benar dingin. Jauh dari adem meski hari masih pagi dan matahari Kupang berselimut kabut tipis. Hujan pun belum lama berhenti. Ballroom Kristal sungguh memancarkan kehangatan. Sesekali bahkan cukup panas! Bukan karena kehadiran Yang Mulia Uskup Agung Kupang, Gubernur NTT, Kapolda, Danrem161 Wirasakti, wakil rakyat terhormat, pimpinan media massa serta puluhan wartawan.

Kehangatan itu tercipta dan diciptakan oleh anak-anak Timor Lorosae. Negeri matahari terbit. Mereka, anak-anak rantau itu berkumpul. Berbicara dan berdialog tentang masa lalu. Tentang diri mereka sendiri, tentang kampung halaman, tentang tanah air yang dicintainya.
Sang tuan rumah hari Kamis itu adalah KKP. Singkatan institusi yang so pasti belum setenar KPK yang sudah meringkus banyak koruptor negeri ini (kecuali NTT) hingga terkencing-kencing dan meringkuk di hotel prodeo. Ya, KKP tentunya masih asing bagi telinga sebagian besar orang di sini, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur, Flobamora. KKP adalah Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia - Timor Leste. Duduk di podium terhormat para komisioner dari dua negara. Inilah kegiatan besar pertama di Timor Barat. Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr dan Antonius Sujata membawa nama Merah Putih. Aniceto Gutteres, Maria Volandino Alves, Felicidade Guterres dan Rui Santos -- merekalah komisioner dari Timor Leste yang selama 23 tahun dulu menjadi bagian NKRI -- propinsi ke-27. Si bungsu. Sebagaimana lazimnya anak bungsu, kadang agak nakal, bikin pening kepala orangtua dan sodara. Tapi disayang dan dikasihi karena mereka memang saudara kandung putra-putri Ibu Pertiwi secara geneologis, kultur pun tradisi.
Awal mula MC menyapa peserta dan tamu undangan. Berlanjut dengan sambutan Gubernur NTT, Piet A Tallo, S.H sekaligus membuka acara dialog sepanjang hari itu. "Ini momentum sejarah," kata gubernur. "Ya, KKP mengemban tugas sejarah yang sangat berat. Butuh dukungan semua pemangku kepentingan di Indonesia dan Timor Leste agar KKP dapat melaksanakan tugas sejarah ini dengan baik. KKP tidak boleh gagal," kata Uskup Agung Petrus Turang.
Uskup menjadi pembicara pertama tatkala dialog mulai dipandu moderator, guru besar dari Undana Kupang, Prof. Dr. Alo Liliweri, MS. Pemimpin umat Katolik Keuskupan Agung Kupang yang wilayahnya meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan dan Alor itu berbicara tenang-berwibawa. Dari nada suaranya, Yang Mulia rupanya sedang flu ringan. Tapi tidak mengurangi semangat beliau memaparkan misi KKP, mandat, pekerjaan KKP dan harapan-harapan demi masa depan anak cucu bangsa Indonesia- Timor Leste.
KKP Indonesia - Timor Leste unik. "Inilah satu-satunya komisi kebenaran pertama di dunia yang melibatkan dua negara," kata uskup. Unik. Seunik hubungan Indonesia - Timor Leste dalam bentangan sejarah. Ada saat manis-romantis. Ada waktu menyedihkan, ada masa menyayat hati.
Fokusnya tentang angka 1999. Setahun sebelum milenium baru. Sesaat menjelang dunia memulai ziarah abad ke-21. Jajak pendapat akhirnya menjadi pilihan politik-demokratis untuk menentukan sikap, tetap bersama NKRI atau berdiri sendiri. Hasil yang diumumkan PBB menegaskan, mayoritas rakyat Timor Timur memilih berpisah. Sayonara Indonesia. Resmi berdirilah Negara Republik Demokratik Timor Leste tanggal 20 Mei 2000. Merdeka.
"Tapi jajak pendapat 1999 meninggalkan luka. Hampir semua kita tahu telah terjadi kekerasan yang menelan korban jiwa, terjadi pelanggaran HAM serius sebelum dan segera setelah Jajak Pendapat tahun 1999 itu," kata Uskup Turang. Selain itu, terjadi gelombang pengungsian besar-besaran. Lebih dari 300 ribu orang eksodus ke Indonesia -- jumlah terbesar ke Timor Barat.
***
PELANGGARAN HAM berat. Melakukan kejahatan terhadap kemanusian! Begitulah yang melekat dengan Indonesia pasca jajak pendapat. Selain pusing mengurusi rumah tangga sendiri yang penuh onak dan duri. Mengelola eforia reformasi yang antara lain menghasilkan tiga presiden dalam waktu empat tahun, Indonesia tak henti-hentinya disorot dunia soal pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). RI sudah menunjukkan niat baik membuka kejahatan itu lewat proses peradilan. Membentuk Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM (KPP-HAM) di Timtim tahun 1999 serta mengadili sejumlah tokoh sipil dan militer lewat pengadilan Ad Hoc HAM.
Hubungan bilateral dan persahabatan Indonesia-Timor Leste pun terus disemaikan dalam beragam bentuk dan cara. Presiden Gus Dur dan Megawati bukan cuma sekali berjumpa dengan Presiden Xanana Gusmao, Mari Alkatiri, Ramos Horta. Presiden RI menginjakkan kaki di Dili, menghirup udara Becora. Presiden Xanana Natal Bersama di Timor Barat. Tapi dunia tetap tidak puas! Kejahatan terhadap kemanusiaan tahun 1999 dianggap belum tuntas.
Prahara itu memang belum usai. Kedua negara menyadari beberapa isu residual belum terselesaikan, termasuk pelanggaran HAM yang dilaporkan terjadi tahun 1999. "Tak mudah mengobati luka lama. Untuk menyembuhkannya harus dioperasi ulang," ujar Uskup Turang. Melalui berbagai pendekatan, lobi dan diskusi, "meja operasi" itu akhirnya terbentuk di Bali. Pulau Dewata, tak jauh dari Dili dan Jakarta.
Belum dua bulan menduduki kursi kepresidenan, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merealisasikan apa yang telah dirintis para pendahulunya. SBY bertemu koleganya Xanana di Bali. Perjumpaan penuh senyum. Padat pengertian, kenyal kehangatan dan tekad untuk membuka tabir kelam dalam sejarah kedua bangsa. Sepekan menjelang Natal, persisnya 14 Desember 2004, lahirlah Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia- Timor Leste. Dan, tanggal 11 Agustus 2005, sepuluh anggota KKP dilantik. Komunitas internasional berharap banyak padanya, teristimewa putra-putri Timor Lorosae. Di dalam negeri maupun di perantauan.
Berharap apa pada KKP yang efektif bekerja sejak Agustus 2005? "Mengungkap kebenaran akhir terkait dengan berbagai peristiwa menjelang dan segera setelah jajak pendapat 1999, menciptakan rekonsiliasi dan persahabatan sejati dan memastikan agar peristiwa serupa tidak terulang. Masalah yang tersisa antara Indonesia dan Timor Leste tidak akan terselesaikan apabila tak ada upaya bersama untuk mengungkap kebenaran secara berani dan lapang dada. Inilah mandat yang diberikan kepada KKP," demikian Uskup Turang. Mengungkap kebenaran akhir tentang peristiwa yang mencabik-cabik hati. Apakah mungkin? Bukankah operasi luka lama bisa menimbulkan luka baru jika dokter bertindak keliru? (dion db putra/bersambung)Diturunkan secara serial oleh Pos Kupang, edisi 12-15 Januari 2007. Halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes