Sang Maestro itu Telah Pergi

Kenangan indah bersama Om Valens Doy

Oleh Yos Lema*

SMS yang muncul di puncak malam tersebut membuat saya terbangun dari tidur. Waktu menunjukkan pukul 00:04 Wita. SMS itu dari Adhi Loudoe, rekan kerjaku di Venuz. Pesannya ringkas: "Selamat malam, beta mau kabarin bhw Om Valens Doy meninggal pkl 9 mlm tadi di Denpasar (jantung)".

Apa? Om Valens meninggal? Akibat serangan jantung? Kok bisa? Sejenak saya terdiam. Wajah Om Valens Doy hadir begitu saja dalam ingatan. Segala kenangan akan beliau mengalir tanpa bisa dibendung. Senyumnya - cara bicaranya - tawanya - lontaran kata-katanya begitu khas. Sompret lu, itu kata yang selalu diucapkan dengan wajah riang. Rasanya dia seperti berada di hadapan saya mengucapkan sepotong kata itu sambil tertawa renyah.

Tak terasa air mata pun menetes. Pipih saya basah. Saya berduka -- saya berluka. Saya lalu membuat tanda salib dan membisikkan sepotong doa dalam hati. "Tuhan, terimalah arwah Om Valens. Terimalah dia dalam kerajaanMu".
 

Meninggalnya Om Valens sungguh mengejutkan. Semua muridnya di republik ini tentu terpukul. Anak didik Om Valens tersebar di berbagai media cetak dan elektronik mulai dari Sabang sampai Merauke. Sejarah hidup Om Valens seolah diperuntukkan untuk membibit kader di bidang jurnalistik. Dari tangannya lahir para jurnalis handal yang kini dimiliki negeri ini. Dia ibarat lilin yang membakar dirinya untuk menerangi orang lain. Dia adalah roh yang mewarnai jurnalisme negeri ini.
 

Saya tidak dapat merinci satu persatu anak didiknya, namun saya percaya setiap mereka mempunyai nostalgia manis tentang Om Valens. Pribadinya yang bersahaja, hangat, suka melayani, telah merebut tempat paling istimewa dalam relung hati setiap anak didiknya. Dia bukan sekadar Sang Guru --- dia telah menjadi sumber inspirasi --- roh yang menggerakkan kepekaan pena anak didiknya.

Saya hanyalah salah seorang anak didiknya. Jumpa dengannya pada akhir tahun 1992, jelang Pos Kupang terbit perdana. Beberapa teman seangkatan antara lain Dion DB Putra, Beni Dasman, almarhum Ans Sally, Ferry Jahang, dan lain-lain. Dia mengajari kami soal angle, lead, 5W+1H, feature, dan lain-lain. Dia memahat prinsip-prinsip jurnalistik dalam jiwa kami. Dia memberi semacam ramuan yang membuat daya kritis kami setajam belati terhunus. Dia meletakkan pelatuk di ujung pena kami yang setiap saat bisa digunakan untuk menghancurkan keangkaramurkaan. Dia menjadikan kami corong kaum tak bersuara --- lidah para jelata dan si miskin papah tertindas.

Usai pelatihan, manajemen Pos Kupang menempatkan saya di Maumere. Di kota ini saya bertugas bersama almarhum Ans Sally. Saya ingat betul tulisan perdana saya yang muncul di Pos Kupang edisi perdana adalah mengenai sebuah kapal pesiar. Berita itu ada di halaman dalam, cuma berita ringkas. Tapi saya baca berita itu berulang-ulang. Senang, gembira dan bangga campur aduk. Saya percaya Om Valens telah melahirkan saya sebagai seorang jurnalis.
 

Dengan mesin ketik butut sejumlah berita dari Maumere mulai menghiasi halaman Pos Kupang. Namun kemampuan saya sebagai jurnalis baru mulai teruji saat gempa merontokkan Flores pada 12 Desember 1992. Gempa dahsyat dibarengi terjangan tsunami yang menelan korban sekitar 2000-an jiwa itu seperti batu asah yang menajamkan kepekaan saya selaku jurnalis. Pada gempa Flores itulah kebesaran nama seorang Valens Doy yang lazim disapa Valdo itu terdengar dari mulut para jurnalis senior yang datang dari berbagai media cetak dan elektronik di tanah air.
 

Valdo, putra yang berasal dari kaki Gunung Inerie dan Ebulobo, Ngada itu, rupanya telah menjadi rujukan para jurnalis di tanah air. Apalagi mereka yang berasal dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Di Maumere saya mengenal begitu banyak anak didik Valdo. Mereka senior di media tempatnya bekerja. Beberapa di antaranya adalah Ale, Ahmad Subeci, Hironimus Modo, Arbain Rambey, serta puluhan wartawan dari media di luar KKG.

Menariknya, setiap bicara tentang perkembangan pers di tanah air, terutama di daerah, nama Valdo selalu disebut. Mereka yang bukan dari KKG pun secara terbuka menyatakan menimba banyak ilmu dari Valdo. Bagi mereka Valdo adalah jaminan mutu. Tangan dinginnya dalam membidani lahirnya Harian Surya, Surabaya, Sripo, Palembang, Serambi Indonesia, Aceh, Tifa, Irian (kini Papua), dll sudah cukup menjadi bukti bahwa Valdo sungguh seorang perintis pers daerah yang handal.
 

Kejeniusan seorang Valdo itu dibuktikan pada gempa Flores. Dia menjadikan gempa Flores sebagai momentum mengibarkan bendera Pos Kupang di jagad Flobamora. Koran yang baru saja terbit itu dalam sekejab terkenal di mana-mana. Pos Kupang dilaporkan laris bak kacang goreng. Manajemen Pos Kupang sering kewalahan melayani permintaan.

Valdo dengan segala kecerdikannya telah membuat masyarakat di Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote dan Sabu akhirnya sadar bahwa NTT telah memiliki sebuah koran lokal bernama Pos Kupang. Koran kecil dengan ukuran tabloid itu terus diburu pembacanya. Jadilah Pos Kupang menjadi medianya rakyat Nusa Tenggara Timur.

Terhadap kami yang berada di daerah Valdo selalu berusaha berkomunikasi sesuai caranya. Terkadang dia bicara melalui telepon, telegram, bahkan surat untuk menjelaskan hal-hal mendasar soal jurnalistik, maupun rencana liputan ke depan. Dia tahu kesulitan kami di lapangan, dia juga tahu bagaimana memotivasi pasukannya di lini terdepan. "Terus Yos - terus -- jangan mundur," ucap Valdo suatu ketika dalam perbincangan kami melalui sambungan telepon. Kata-kata itu seperti dorongan yang luar biasa bagi anak didiknya untuk total di lapangan.

Di penghujung Februari 1993 saya menerima telegram dari Om Damy Godho, Pemimpin HU Pos Kupang. Beritanya singkat. "Yos segera ke Kupang untuk mendapat penugasan baru". Besoknya saya terbang ke Kupang. Jumpa Om Damy dan teman-teman di Pos Kupang. Ternyata saya ditugaskan ke Dili. Saya ikut dalam tim Om Valens yang berasal dari Persda (Pers Daerah milik KKG) untuk mendirikan koran baru di Timtim. Koran baru itu menurut rencana bernama HU Suara Timor Timur atau disingkat STT. Om Valens dan timnya sudah berada di Dili sejak beberapa hari sebelumnya.

Saya pun ke Dili. Saya ke Dili bersama Paul, seorang teman dari Persda. Bus yang membawa kami penuh berisi ratusan rim kertas untuk mencetak koran. Kami tiba di Kota Dili malam hari. Bus langsung ke Kantor PNRI Dili. Di sana ada Om Valens, Bung Wens Rumung, juga Adik Alex Azis Pagma (kini masih di Dili menjadi wartawan Suara Timor Lorosae) dan sejumlah wartawan senior dari Persda yang tidak saya kenal. PNRI Dili memang menjadi kantor sementara Suara Timor Timur yang akan segera terbit. Malam itu saya tidur sekasur dengan seorang teman asli Timtim berkulit hitam, rambut keriting. Lelaki bertampang sangar namun murah senyum itu kemudian memperkenalkan diri sebagai Otelio Ote -- yang kemudian menjadi reporter RCTI.
 

Besoknya diadakan rapat persiapan terbit dipimpin Om Valens. Di sana ada juga Salvador Januario Ximenes Soares sang penggagas, dengan sejumlah putra-putri asli Timtim. Lini redaksi siap tempur, lini bisnis pun sama. Semua dalam kondisi darurat. Terbit dengan satu komputer dan satu laptop. Selebihnya berita ditulis menggunakan mesin ketik atau tulisan tangan. Gila. Saya hampir tak percaya.


Fokus berita adalah pengadilan gembong GPK Fretelin, Xanana Gusmao (kini Presiden Timor Leste). Saya kebagian memantau di sekitar Polda Timtim, konon Xanana akan keluar dari tahanan Polda. Wartawan lain juga melakukan hal yang lain. Dili seolah dalam kepungan kami. Pena kami ada di mana-mana, sebisanya mencatat geliat rakyat menjelang pengadilan Xanana. Dan Om Valens bertindak sebagai jenderal yang mengendalikan seluruh opini publik yang akan dibangun. Persis seperti yang dia lakukan di Pos Kupang saat Flores dirontokkan gempa dan badai tsunami.

Besoknya Suara Timor Timur terbit. Koran setebal hanya delapan halaman itu laris manis bak kacang goreng. Di mana-mana orang memburu STT. Pengadilan Xanana menjadi topik yang menyita perhatian masyarakat. Publik Timtim dibuat terkesiap. Kalangan militer mulai peka menakar kehadiran media ini. Berbagai kekuatan menyambut kehadiran koran kecil ini dengan berbagai sikap. Ada yang senang, ada yang cemas, ada yang pesimis, bahkan terganggu. Yang pasti bumi operasi militer itu mulai menapaki era informasi, sesuatu yang sulit terbayangkan sebelumnya.

Di Suara Timor Timur inilah saya berada dalam jarak yang dekat dengan Om Valens. Saya baru dapat membuktikan bagaimana kebesaran seorang Valens Doy sebagai jenderal jurnalistik. Dia piawai sebagai nakhoda. Dia tahu ke arah mana haluan kapal akan membelah samudera informasi. Dia melakukan lobi, menjinakkan yang liar, melembutkan yang keras hati, dan meredam yang suka main kasar. Tiga pilar utama Timtim yaitu pemda, militer dan Gereja Katolik berada dalam genggamannya. Dia tahu bagaimana menekan tombol-tombol mereka. Maka dalam rentang waktu yang sangat singkat duet Valdo dan Salvador Ximenes Soares (Pemimpin Umum Suara Timor Timur) telah menghadirkan STT sebagai pilar keempat di bumi yang penuh genangan darah itu.

Di Suara Timor Timur barulah saya sadar Valdo adalah seorang jenius yang maniak kerja. Dia gila kerja. Dia berhari-hari berada di kantor. Semalam suntuk dia merangkai kata menjadi berita yang empuk dan enak dibaca. Tulisannya selalu menarik, baru dan sarat alternatif solusi. Dia total pada panggilan profesi. Dia lebur dalam setiap tarikan nafas informasi.

Apakah Valdo hanya menguasai jurnalistik? Tidak. Valdo menguasai industri pers. Dia mengetahui isi perut semua bidang dalam industri pers. Dia kuasai redaksi, sirkulasi, iklan, percetakan, lay out dan semuanya. Semua persoalan yang muncul dia akan memberi solusi akurat saat itu juga. Rapat dengannya akan membuat kita kaya akan pengetahuan terbaru. Bersama Valdo meliwati hari-hari di Dili telah memberikan saya pemahaman yang benar tentang pers.

Ada tiga peristiwa yang membuat saya senantiasa teringat pada Om Valens. Suatu ketika Dili dilanda angin kencang. Naluri saya sebagai insan pers pemula membawa saya berkeliling Kota Dili mengabadikan peristiwa itu. Saya potret pohon yang tumbang, juga pemancar sebuah radio amatir yang ikut rontok. Foto-foto hasil bidikan itu saya bawa ke rapat redaksi. Saya ingat betul Bung Wens Rumung senior saya langsung memberi komentar, lebih tepat marah. Foto macam apa ini, teriak Wens. Namun apa yang dilakukan Om Valens, dia menarik Wens dan mengingatkan.

"You tahu tidak, dia itu baru keluar dari daerah bencana, kepekaannya masih tinggi. Dia masih trauma". Saya lihat Bung Wens terdiam, kemudian mengajak saya untuk memilih beberapa pose yang akan digelar sebagai parade foto. Saya kira Om Valens benar, sebab sejak keluar dari Maumere saya sungguh mengalami trauma yang serius. Saya peka sekali, bahkan takut berada di gedung lantai dua atau lebih. Saya selalu gelisah bila terkurung dalam bangunan, khawatir kalau-kalau terjadi gempa dan saya akan melompat ke mana. Trauma itu berlangsung selama beberapa tahun.

Yang lainnya, bahwa suatu ketika saya menulis berita minor tentang sebuah lembaga keuangan di Dili. Berita itu telah membuat orang yang terkena pemberitaan mengamuk. Dia anak seorang pejabat besar di Pemda Timtim. Dia mengamuk, bawa massa satu mobil. Mereka pukul dua orang yang memberi informasi pada saya, kemudian mengejar saya ke kantor. Om Valens ada di sana. Saya ingat betul dia tidak mau saya berhadapan dengan siapa pun. Dia minta para redaktur bertanggung jawab. Sebab suatu berita sampai muncul di media tentu sudah melalui proses editing berlapis.

Penyelesaian persoalan itu alot. Sampai-sampai Salvador yang anggota MPR/DPR RI nekad menggulung tangan baju, sungguh merupakan pengalaman yang berharga. Setelah si anak pejabat itu pulang, kami ke restoran. Sambil makan Om Valens mulai menjelaskan titik lemah berita tersebut. Dalam hati saya mengaku telah salah dalam penulisan tersebut sebab mengabaikan keseimbangan berita. Dalam kondisi fisik lelah, capek, atau malas, sering seorang wartawan terjebak dalam kekilafan yang prinsip.

Setelah sebulan bersama Om Valens di Dili saya pun bicara empat mata dengannya. Saya katakan pada beliau bahwa saya harus kembali ke Kupang, karena sebelum ke Dili Om Dami Godho hanya mengijinkan saya boleh bertugas selama sebulan di Dili. "Yos, lupakan Om Dami. Sekarang kita ada di Dili. Kita bantu di sini. Oke?" ucapnya singkat. Selanjutnya saya menghabiskan seluruh waktu selama belasan tahun bersama teman-teman membangun Suara Timor Timur. Koran kecil itu tumbuh perlahan, Om Valens pun secara insidentil datang ke Dili untuk memberikan pencerahan kepada kami.

Saya masih sempat berjumpa dengan beliau dalam beberapa kesempatan, termasuk setelah kembali ke Kupang akibat Indonesia kalah dalam jajak pendapat. Ketika mendirikan sebuah koran lokal di Kupang pun Om Valens masih memberikan pandangan. Setelah koran itu kolaps saya akhirnya sadar, seandainya wanti-wanti Om Valens didengar? Akh, kami para anak didik terkadang memang suka sok tahu --- sok pinter. Padahal pengalamannya baru seumur jagung, ilmunya pun belum seberapa.

Timtim akhirnya merdeka menjadi negara Timor Leste. Om Valens ada di sana saat negeri itu bangkit dari puing-puing kehancuran. Dia hadir untuk membenah informasi negeri matahari terbit tersebut. Dia bukan sekadar menata kembali manajemen Suara Timor Timur yang bermetamorfosa menjadi Suara Timor Lorosae (STL) pimpinan Salvador Januario Ximenes Soares yang hancur lebur pasca jajak pendapat, namun juga membantu koran lain. Tak bisa dipungkiri sebagian besar jurnalis negara Timor Leste memang dilahirkan Valdo. Valdo ada di hati para jurnalista negara kecil itu. Mereka pun kehilangan atas kepergian Sang Maestro.

Kini Om Valens telah kembali ke pangkuan ilahi. Jagad informasi NTT berduka dan berluka. Laut Sawu bergemuruh --- tanda anak-anak nelayan ikut berlinangan air mata. Hamparan Mbay pecah dan terbelah, simbol dukalara anak-anak petani di seantero Flobamora. Dan semua stadion retak menangisi kepergian seorang maestro yang handal menulis para satria olah raga. Selayaknya ada bendera setengah tiang di pelataran jiwa setiap insan pers negeri ini. Selayaknya ada penghargaan yang pantas untuk putra terbaik Bumi Flobamora sekelas dia.

Selamat jalan Om Valens!! Doaku bersimbah air mata. Amin..!!


Pos Kupang Senin, 9 Mei 2005
* Penulis, seorang wartawan,
tinggal di Kupang



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes