Mimpi tentang Indonesia di atas Laut Baltik



LANGIT biru. Udara bersih. Hutan pinus yang hijau mengitari hamparan ladang gandum yang baru saja selesai panen. Pagi nan cerah dan sejuk dengan suhu 20 derajat Celsius. Begitulah potret indrawi yang terekam ketika saya menjejakkan kaki di Copenhagen Airport, Denmark, September lalu, pukul 08.00. Penerbangan melelahkan selama lebih 12 jam dengan Singapore Airlines dari Singapura seolah terpulihkan oleh embusan udara baru di sini.
Di antara semilir angin pagi itu (saat tulisan ini diturunkan sudah musim dingin di Eropa) saya telah menjejakkan kaki di tanah kelahiran Soren Kierkegaard, salah satu filsuf pelopor eksistensialisme itu. Juga negerinya Ludvig Holberg, penulis dan pemain drama dan Hans Christian Andersen, penulis cerita dongeng ternama.

Copenhagen beruntung sebagai gerbang masuk ke seluruh kawasan Skandinavia, atau negara-negara yang mengitari Laut Baltik. Bandaranya memiliki posisi terpenting dan terbesar di seluruh kawasan karena melayani penerbangan ke sejumlah negara tetangga di sekitarnya.
Ada 19 juta penumpang pesawat keluar masuk melalui bandara di ini setiap tahunnya, seperti dilansir Reuters awal September lalu. Dari Copenhagen ada penerbangan langsung ke 120 tujuan, dan 20 penerbangan di antaranya untuk melayani penumpang antarbenua.
Ibu kota negara Denmark ini adalah tempat transit saya beberapa jam sebelum meneruskan penerbangan ke Helsinki, Finlandia, dalam rangkaian perjalanan jurnalitik yang ditugaskan Kompas untuk mengikuti Asia Pacifik Press Trip, 5-11 September 2005 atas undangan Nokia. Saya akan terbang ke Helsinki melewati udara Laut Baltik.
Denmark dan Finlandia, termasuk dalam kawasan Laut Baltik atau Skandinavia, bertetangga dengan Swedia, Estonia, Latvia, Lithuania, Russia, Jerman, Polandia, dan Norwegia. Tetapi sebutan Skandinavia dan kawasan Laut Baltik bisa membingungkan. Nama Skandinavia biasanya diberikan untuk Semenanjung Norwegia dan Swedia, tetapi juga meliputi Denmark yang dihuni rumpun bangsa Skandinavia. Bersama dengan Finlandia dan Eslandia, tiga negara tadi juga dinamakan bangsa-bangsa Nordik.
Sedangkan sebutan negara-negara Baltik lebih luas lagi. Selain meliputi negara-negara Nordik tadi, berarti juga mencakup negara lain yang memiliki tepi pantai ke Laut Baltik seperti Estonia, Lithuania, Latvia, Polandia, Russia dan Jerman.
***
SETELAH sekitar dua jam menunggu waktu transit, penerbangan ke Helsinki pun diteruskan melewati udara Laut Baltik dengan Skandinavian Air jenis MD 90 yang berkapasitas 147 penumpang. Tetapi kali ini, penumpang yang terangkut tidak lebih dari 45 orang. Jika jumlah penumpang tidak mencapai lebih 50 persen dari kapasitas penumpangnya, penerbangan dipastikan akan ditunda dengan berbagai alasan. Itu di Indonesia, tidak di kawasan Baltik! Jadwal penerbangan di sini tetap on time, seperti yang dialami hari itu.
Duduk di kursi dekat jendela pesawat sungguh menyenangkan karena kita bisa melihat ke luar. Pramugrai mengumumkan, flight ke Helsinki sekitar 1,5 jam dan ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat di kota itu dibandingkan waktu di Copenhagen.
Dari udara cukup jelas terlihat daratan di sekitar Laut Baltik. Negara-negara di kawasan tidaklah seluas Indonesia, dan penduduknya pun sedikit. Sebagai contoh, misalnya, Denmark dihuni 5,3 juta jiwa, Swedia 8,9 juta jiwa, dan Finlandia 5,1 jiwa.
Meski kecil jumlah penduduknya, tetapi kawasan ini memiliki banyak perusahaan berskala internasional. Juga terkenal maju di bidang penelitian medis, pengembangan energi, industri pesawat terbang dan ruang angkasa, perkapalan, produk makanan, dan perdagangan."This is the region of the Nobel Prize, of Norwegian oil platforms, Danish shipping, Nokia and Ericsson mobile phones," jelas seorang penumpang, mengaku pengusaha, warga Denmark dalam satu tujuan ke Helsinki.
Ya! Setidaknya, kalau kita mengenal beberapa merek seperti Maersk pasti dari Denmark yang unggul dalam usaha perkapalan. Bahkan Maersk belakangan ini telah merambah ke pembuatan pesawat terbang (aircraft) yang terus berkembang.Begitu juga dengan Volvo dan Ericsson dari Swedia. Atau Nokia yang kini dijuluki pelopor teknologi komunikasi bergerak (mobile communications) yang berpusat di Finlandia. Nokia kini menguasai lebih dari 40 persen pasar telepon seluler di dunia.
Norwegia memiliki Akeryards, perusahaan pembuatan kapal persiar terkenal di dunia, serta feri. Maskapai pelayaran seperti Wallenius Group, Silja Line, Birka Line, Color Line, DFDS, Scandlines dan Finnlines berasal dari kawasan Nordic dan Jerman.
Kita belum menyebut lebih rinci usaha perkapalan di Jerman seperti Lloyd, serta negara-negara lain di kawasan Baltik. Perusahaan feri Tallink dari Tallinn, Estonia yang berpenduduk 1,4 jiwa itu juga berperan bagi pertumbuhan kawasan ini.
Negara-negara di kawasan itu termasuk pelaku ekonomi terbaik di dunia dengan pertumbuhan ekonominya yang cukup tinggi yakni 6-7 persen per tahunnya. Kawasan ini sangat atraktif bagi investasi asing karena iklim investasinya yang mendukung.
Majalah bisnis khusus tentang kawasan Skandinavia, Nordiculum, edisi September 2005 yang tersedia di pesawat Skandinavian Air menyebutkan, investasi asing di sini mekar terus. Terjadi pertumbuhan yang pesat, rata-rata 343 persen, antara 1995 dan 2003.
Contoh, investasi asing di Denmark tahun 1995 ialah 23.801 juta dollar AS, namun tahun 2003 menjadi 76.195 juta dollar AS (naik 320 persen). Total investasi asing di 9 negara di kawasan itu, naik dari 271.216 juta dollar AS pada 1995, menjadi 929.863 juta dollar AS pada tahun 2003 (naik 343 persen).
"The growth of such investments in the Baltic Sea economic area has even outstripped that of China (Laju pertumbuhan investasi di kawasan ekonomi Laut Baltik itu bahkan telah melampaui investasi di China)," tulis Nordiculum mengutip Direktur Pan-European Institute Prof Kari Liutho.
***
KETIKA lagi asyik membaca majalah tadi dan mengagumi pertumbuhan ekonomi di kawasan Laut Baltik, membandingkannya dengan Indonesia, suara pramugari bergetar. "Beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Vantaa Airport, Helsinki....," katanya.
Saya menegakkan kursi dan mengikat sabuk pengaman. Tertinggal kini di dalam hati dan pikiran untuk membandingkannya dengan Nusantara yang begitu kaya alam darat dan lautnya, serta dihuni 220-an juta penduduknya sebagai penggerak ekonominya.
Indonesia tentu saja jauh lebih besar dibandingkan kawasan Norwegia, atau Denmark, Finlandia, dan Swedia. Negara maritim terbesar, tetapi ikannya banyak terkuras oleh nelayan kapal asing yang jauh lebih gesit dari nelayan dan kapal negeri ini.
Seandainya bisa berkembang pesat, pasti tidak akan ada lagi kemiskinan di Nusantara. Tidak ada lagi krisis BBM, moneter, dan korupsi. Bagaimana mungkin? Itu pasti hanya sebuah mimpi. Investasinya yang terseok dan utang luar negeri terus melilit.
Indonesia kini satu-satunya negara di Asia yang belum pulih dari krisis panjang meski memiliki segalanya di tanah dan air ini. Kapankah bangsa besar ini, Nusantara-ku, menjadi negara bertenaga besar dalam segala bidang kehidupannya?*


Helsinki, Kota dalam Sebuah Taman

MELALUI jendela pesawat Skandinavian Air yang terbang mendekati Vantaa Airport, Helsinki terlihat jelas di bawa tiga warna utama mendominasi: hijau, biru dan coklat. Semakin pesawat bergerak turun, warna-warna itu semakin tegas.
Bagi pendatang yang pernah ke Finlandia pada peralihan musim summer ke autum, pasti tahu tentang tiga warna itu. Hamparan hijau yang luas tidak lain rimbunan hutan pinus. Ratusan danau besar dan kecil yang mengepung Helsinki tanpak membiru.
Lalu warna coklat? Warna itu mirip hamparan sabana di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur yang dipanggang kemarau panjang. Di sekitar Helsinki, atau di Finlandia umumnya, warna itu tidak lain hamparan ladang gandum yang baru saja selesai dipanen.
***
BEBERAPA menit setelah tiba di Vantaa Airport, langsung dengan taksi menuju penginapan di Hotel Hilton Kalastajatorppa. Hotel ini dibangun di antara rimbunan hutan pinus, di tepi danau yang indah dan bersih yang juga dikelilingi hutan pinus yang hijau.
Saya akan berada di sini antara 6-9 September mengikuti Asia Pacific (APAC) Press Trip bersama 24 wartawan lain dari delapan negara APAC yang disponsori Nokia. Kelak saya akan ke tanah air melalui Copenhagen dan Singapura, pada 10-11 September.
Udara di Helsinki tidak terlalu dingin, hanya 20 derajat Celsius pada siang hari. Cukup mengenakan jaket, kita bisa bepergian ke pusat kota dengan ongkos taksi 20 euro. Akan terasa dingin pada malam hari karena suhu bergerak antara 13-15 derajat Celsius.
Acara APAC Press Trip sangat padat. Dua hari penuh, 7-8 September, kami di "kelas". Hari pertama diisi presentasi para senior executive dari unit-unit bisnis Nokia tentang Mobile Phones, Multimedia, Network, Enterprise Solution, dan demo produk.
Pada hari kedua, masih ada presentasi lalu mengunjungi pabrik Nokia di Salo. Selain itu wartawan dari setiap negara diberi kesempatan melakukan wawancara "wajib" dengan para senior executive tadi yang memang sudah dijadwalkan sebelumnya.
Kunjungan ke Salo, sekitar 1,5 jam dari kota Helsinki, sungguh menyenangkan. Jalan aspal mulus, melintasi ladang-ladang gadum di antara rumpun-rumpun hutan pinus yang luas. Batang-batang gandum rata dengan tanah tanda usai panen.
Rumpun-rumpun hutan pinus itu berdiri tegak dan asri, tidak ada yang melakukan penebangan liar, dan selalu terkendali. Perkampungan penduduk di desa tidaklah terlalu padat. Rumah seluruhnya terbuat dari kayu kecuali supermarket dari tembok atau beton.
Pabrik Nokia ini menjadi salah satu obyek wisata juga. Meski hanya 1,5 jam di sini, tetapi rombongan APAC Press Trip tidak bisa memotret karena dilarang. Tetapi peserta umumnya puas karena dapat menyaksikan proses pembuatan telepon seluler.
Di sini kami mengetahui, bahwa Nokia memproduksi 500.000 unit telepon seluler setiap hari, atau tujuh unit per detik. Setiap produk, atau dalam satu unit telepon seluler yang diproduksi Nokia itu terdapat 300 - 350 komponen (tergantung modelnya).
Mobile phones (Nokia) menempati urutan kedua dalam daftar ekspor Finlandia setelah pulp dan kertas, dan hasil-hasil hutan yang biasa digunakan antara lain untuk bahan baku kertas. Ekspor produk industri telekomunikasi ini diikuti oleh metal.
***
KEJENUHAN dua hari di ruang "kelas" terobati setelah panitia mengadakan city tour pada 9 September pukul 09.00 - 15.00. Tur dengan tujuan utama Porvoo (baca Pesona yang Memikat Porvoo), melewati sebagian sudut kota seperti Senaatintori (Senate Square).
Sebelum tur, saya dan tiga rekan dari Indonesia, termasuk Manajer Komunikasi Nokia Indonesia Regina Hutama, langsung check out. Waktunya cukup mempet untuk kembali lagi ke hotel setelah tur, karena kami akan kembali ke tanah air sore harinya melalui Copenhagen lagi.
Tur di Helsinki ini hanya sejenak. Sekitar sejam di Senate Square, sejam di pusat kota, dan selebihnya tiga jam mengitari Porvo. Untungnya, 6 September sore kami berempat dari Indonesia sudah sempat jalan-jalan sejam di Market Square dan pusat kota sambil cari makan.
Di Market Square dijual berbagai barang untuk cindera mata. Ada beberapa produk yang relatif lebih murah, tetapi kualitasnya lebih rendah dari pusat perbelanjaan di Jalan Esplanade. Di sini juga terdapat pedagang sayur dan ikan.
Pasar ini berada di tepi pantai selatan di mana terdapat banyak bus air, atau feri, yang melayani penumpang antarsamudera. Kegiatan di pasar hanya berlangsung setiap pagi dan petang musim panas hingga menjelang musim gugur. Pada musim dingin pelabuhan ditutup.
Helsinki identik dengan udara bersih, deretan bagunan dengan arsitek avant-garde yang sempurna, industri dan pelabuhan laut yang besar, kehidupan ekonomi yang menggairahkan. Nama penunjuk jalan dan tempat di sini ditulis dalam dua bahasa, Finnish dan Swedish.
Martina Lindholm, guide hari itu menjelaskan, penggunaan dua bahasa resmi di Finlandia itu berdasarkan Konstitusi 1919, lalu dijabarkan lagi dengan Language Law 1922. Seluruh kegiatan bisnis ekonomi, kultural, dan pemerintahan memakai dua bahasa itu.
"Saya orang Swedia. Dari nama saja, Martina, itu nama khas Swedia. Di rumah kami menggunakan bahasa Swedish, tetapi lebih sering pakai Finnish karena kami menetap di Finlandia, yang sekitar 92 persen penduduknya dari suku Finn," katanya.
Undang-undang, dekrit, surat keputusan dan produk hukum lainnya selalu ditulis dalam dua bahasa, Finnish dan Swedish. Namun komando militer menggunakan Finnish, sedang wajib militer diatur dalam unit-unit yang menggunakan bahasa Swedia.
Ibu kota Finlandia ini dihuni sekitar 530.000 jiwa, kota kecil, teduh, dan tenang. Finlandia berdasarkan estimasi Juli 2005 dihuni 5.223.442 jiwa, dengan hasil pertanian ialah gers (semacam gandum, bahan pembuatan bir), gandum, gula bit, kentang dan ikan.
Ditunjang sarana dan prasarana transportasi yang memadai, dan kelancaran lalu lintasnya, sebagian besar kota dapat dikitari dalam waktu setengah hari. Naik taksi relatif mahal dimulai dengan delapan euro, tapi naik trem 1,8 euro untuk satu rute jauh dekat.
Ruas jalan dalam kota umumnya dibagi dalam tiga kelompok, yakni jalur roda empat dan sepeda motor, sepeda dayung, dan pejalan kaki (pedestrian). Pada ruas tertentu ditambah dengan perlintasan trem. Semuanya saling menghargai, tidak saling serobot.
Helsinki menebarkan ketenangan dan keteraturan, atau disiplin. Bayangkan kalau di Jakarta, atau kota-kota besar di Indonesia. Banyak kendaraan mengambil jalur berlawanan meski dilarang, atau ada tanda larangan. Jadilah kota yang semrawut.
Kata Martina Lindholm, kota Helsinki dibangun tahun 1550 oleh raja Swedia Gustav Vasa untuk dijadikan pusat kegiatan ekonomi di Laut Baltik menyaingi Tallinn (Rusia, kini ibu kota Esthonia). Jantung kotanya Vanhakaupunki (dulu Gammelstaden).
Pembangunan Helsinki baru secara tegas dimulai tahun 1748 ketika Swedia membangun benteng yang besar dan luas di Suomenlinna untuk mengantisipasi ancaman Rusia. Finlandia memang di bawah Swedia hingga tahun 1809, lalu diambil alih Rusia.
Finlandia berdiri sebagai negara merdeka pada 6 Desember 1917 (dari Rusia), yang didahului Revolusi Bolshevik pada Oktober 1917. Meski demikian, perang saudara masih sering terjadi hingga akhirnya tampil tokoh penyatu yakni Marshal Mannerheim.
***
KINI Helsinki adalah kota dengan udara sangat bersih, bahkan lebih bersih dari Copenhagen. Tidak ada polusi udara, kemacetan. Lalu lintas kota yang tertib dan saling menghargai antarpengguna jalan merupakan sebagian dari karakter kemajuan kota ini.
Sesungguhnya Helsinki adalah kota dalam taman yang indah. Bangunan di kota, rumah penduduk, dan pusat permukiman, tumbuh di antara tegakan pohon-pohon pinus nan hijau. Di bawahnya rumput selalu terpangkas, membentuk taman di seluruh kota.
Taman yang paling terkenal terletak di pusat kota, yakni Taman Esplanade. Setiap sore ada banyak kaum muda dan orang tua duduk bersenda gurau di sini. Ada pengamen, tetapi tidak memaksa. Taman ini pun dihiasai pohon-pohon pinus yang teduh. Memang lebih dari 70 persen wilayah Finlandia, termasuk Helsinki, diselimuti hutan-hutan pinus. Panorama kota yang indah itu pun menjadi lebih sempuna oleh serakan ribuan danau hingga Finlandia sering juga dijuluki Negeri Seribu Danau.*


Pesona yang Memikat di Porvoo

SETELAH satu jam 10 menit naik bus meninggalkan Helsinki, akhirnya kami tiba di Porvoo, sebuah kota tua di wilayah Uisimaa. Kota ini dibangun, dan berkembang, di sekitar gereja Katedral Porvoo yang dilaporkan telah berusia lebih dari 750 tahun.
Di sini kami dipandu oleh seorang ibu separuh baya, Tuula Palva (54), warga Porvoo yang ramah dan sangat fasih berbahasa Inggris. Dia menguasai dengan baik sejarah kota tua itu, berikut perkembangannya hingga akhirnya masuk pengaruh modern sekarang ini.
Kota ini pada awalnya dibangun di sebuah bukit yang bagian kakinya mengalir sebuah sungai yang juga diberi nama Sungai Povoo. Pada zaman pertengahan kota ini menjadi pusat utama peradaban, kehidupan dan niaga di bangsa Finn.
Dari Helsinki, atau Vantaa Airport, kota kecil ini dapat dicapai dengan mudah. Bisa menggunakan taksi, atau mobil rental, serta bus reguler yang biasa menghubungkan Helsinki - Porvoo. Lewat laut pun bisa, yakni boat atau kapal api, bus air tapi waktunya lebih lama.
Sebuah kapal api JL Runeberg, atau bus air seperti King milik Royal Line bisa menghantar pengunjung jika ingin sekalian melihat keindahan pantai sepanjang 50 kilometer antara Helsinki-Porvoo. Waktu tempuh biasanya mencapai antara 2,5 - 3 jam.
Kalau dengan Runeberg, dan King, harga tiket selalu dibedakan antara orang dewasa yang masih aktif bekerja, dan dewasa pensiunan (selama musim dingin, pelayaran tidak beroperasi). Jika ingin cepat karena alasan waktu wisata yang mepet, lebih baik lewat darat.
***
PORVOO adalah kota kedua tertua setelah Helsinki. Luas kota ini sekitar 1.768 km2, tetapi hanya 652 km2 yang merupakan daratannya. Penduduk kota, seperti dituturkan Tuula, ialah 46.000 jiwa yakni 64 persen berbahasa Finnish, 34 persen Swedish, dan sisanya lain-lain.
Daya tarik utama kota ini terletak pada tipe-tipe rumah penduduk, jalan dan lorong yang sempit, bangunan tua, dan keramahan penduduknya. Dimulai dari katedral, kami menyisir lorong-lorong permukiman yang terletak di kawasan Old Town di sekitar gereja itu.
Ada banyak manor di sini. Kita tahu, manor adalah kata kuno dalam bahasa Inggris, yang umumnya tidak ditemukan lagi dalam kamus bahasa Inggris modern. Dulu kata itu berarti "rumah atau istana milik keluarga kaya", dan dewasa ini berarti "bangunan bersejarah".
Bangunan tertua yang masih bertahan hingga sekarang adalah gereja Katedral itu sendiri. Gereja ini memiliki sejarah yang panjang, dan menjadi salah satu ikon sejarah terpenting di Finlandia, sehingga selalu dipertahankan keasliannya, dirawat dan dipelihara.
Pada mulanya seluruh bangunan gereja dibuat dari kayu yang sederhana, tetapi mulai akhir abad ke-13 direhabilitasi dan diganti dengan batu granit pada bagian dindingnya. Panjang gereja ini 17 meter, lebar 10 meter dan ketebalan dinding granitnya satu meter.
Menurut Tuula, corak mode bangunan katedral ini dapat ditemukan antara lain di Swedia, Uppland dan di pulau Gottland. Menurut sebuah tradisi tua yang diterus dituturkan, gereja ini dibangun oleh Carsten Nybur dari Rostock, Jerman.
Misa atau kebaktian di gereja ini pada setiap hari Minggu, hari libur, atau hari raya biasanya dilakukan dalam bahasa Finnish setiap pukul 10.00 dan bahasa Swedish pada pukul 12.00. Sebuah organ tua buatan tahun 1799 masih mengiringi kebaktian misa hingga kini.
Biasanya banyak wisatawan yang merayakan Natal dan Paskah di gereja Katedral Porvoo. Tradisi Natal di kota ini selalu dipertahankan dengan pengayaan pada rentang ritualnya yang biasanya dimulai sejak akhir November.
Salah satu manor terkenal adalah bekas rumah Johan Ludvig Runeberg, penyair kenamaan bangsa Finn yang hidup sekitar tahun 1800-an. Selama 25 tahun sejak tahun 1852, dia menetap di sini bersama isterinya Frederika dan anaknya hingga akhir hayatnya 1877.
Rumah tinggal penyair terkenal Finlandia itu mulai beralih menjadi museum pada tahun 1882, kemudian direnovasi lagi pada tahun 2003. Selain diingat dalam rupa museum, namanya juga dipaterikan dalam sebuah kapal wisata JL Runeberg, yang melayani Helsinki-Porvoo.
Dalam museum tadi terdapat sekitar 140 item patung karya pemahat Walter Runeberg (1838-1920), anak kandung penyair JL Runeberg. Dalam bidang seni pahat, Walter dikenal tidak hanya di Porvoo, atau Finlandia. Dia pernah hijrah ke Roma dan Paris, dan menetap di dua kota itu selama lebih dari 30 tahun.
Sebuah bangunan tua lainnya, Kiiala manor, adalah rumah tempat kelahiran pelukis kenamaan Finlandia, yakni Albert Edelfelt pada 21 Juli 1854. Rumah ini seluruhnya terbuat dari kayu, dengan arsitek yang menawan, diperindah dengan paduan cat warna kuning dan putih.
Di halamannya tumbuh rerumputan hijau yang selalu terpangkas rapi, dan apik. Beberapa pohon tumbuh merimbuni halaman, dan siang itu terasa sejuk dikunjungi. Rumah ini kini menjadi toko, kafe dan galeri yang dikelola keturunan Edelfelt.
Ada banyak bangunan bersejarah di sini. Setiap musim panas misalnya, selalu ada konsern bagi umum di manor Hommanas di Vesso, sudut lain Porvoo. Sedangkan di bangunan tua Sannas dan Stor-Kroksnas, yang telah direstorasi, menjadi pusat pendidikan.
Porvoo adalah kota sejarah, kota kenangan, kota para artis. Selain beberapa museum yang sudah disebutkan tadi, masih ada banyak museum lain seperti Outboard Museum berisi banyak literatur, brosur dan buku tentang abad pertengahan dari luar Porvoo.
Juga ada museum berisi jenis-jenis mainan di masa silam, museum ilmu pengetahuan alam (natural history), dan museum studio Albert Edelfelt, dan museum Postimaki (museum di alam terbuka). Dan terdapat banyak toko cindera mata yang sangat khas Porvoo.
Seluruh rumah penduduk di sini dibangun dari kayu. Sesekali Tuula menjelaskan jika ada peserta tur menanyakan tipe rumah, atau sesuatu yang unik tentang bangunan rumah, model jendela dan pintu, atau cat rumah yang warna-warni "aneh".
Misalnya, bentuk jendela menyerupai kotak empat persegi panjang, ada jendela berukuran 1 x 1 meter, tetapi lebih banyak berukuran lebih kecil lagi. Tetapi beberapa di rumah yang lain, pintu rumah dibuat sangat lebar, mencapai tiga meter.
Bagian dinding dibangun sampai menyentuh langit-langit atap dan tidak ada celah angin atau ventilasi. Kata Tuula, itu untuk menghindari udara dingin musim dingin, dan biasanya di seluruh wilayah, termasuk rumah dan semua bangunan akan tertutup salju.
Menurut Tuula, disain, model dan ukuran rumah di Porvoo kebanyakan sama (standar), fleksibel untuk semua musim di Eropa. Jendela dan pintu akan dibuka seluruhnya selama musim semi, panas dan gugur, dan umumnya tertutup rapat selama musim dingin.
Rumah-rumah penduduk diberi cat aneka warna-warni, terkesan ramah, dan sesuai dengan kondisi alam lingkungan sekitarnya menjadi sisi lain pesona Porvoo. Setiap pekarangan rumah selalu ditumbuhi rumput yang terpangkas rapi, dan juga pepohonan yang rindang.

***
SETELAH lelah menyisir Old Porvoo kami mencari makan di New Porvoo, yang tidak lain merupakan presentasi bagian kota yang terpengaruh budaya modern. Kawasan ini terletak agak ke selatan, dekat bantaran sungai Porvoo.
Ketika akan kembali ke bus, hanya sekitar 10 meter dari pagar gereja Katedral, tepatnya di Jalan Kirkkotori 1, tampak sebuah bangunan tua bertulisakan: "Pieni SUKLAATEHDAS". Jangan-jangan ada pabrik coklat asli di Porvoo.
Saya mencoba mendekati pintu masuk, tapi ragu-ragu, karena pada bagian pintu tertulis kata-kata dalam bahasa Finnish dan Swedish. Tidak terdapat tulisan bahasa Inggris, apakah maksudnya "tutup" atau "buka"? Saya mendorong pintu pelan-pelan, ternyata tidak terkunci.
Wahhhh, benar dugaan semula. Ternyata di dalam gedung terpajang sejumlah truflles, brownies dan kue coklat lainnya. Tiba-tiba pemilik toko pun muncul, dan menjelaskan, rumah itu selain toko adalah tempat pembuatan coklat asli Porvoo, diwariskan sejak tahun 1809.Setelah mencoba, coklatnya pun sangat lezat, hangat dan asli. Beragam bentuk coklat disajikan, seperti berbentuk biji kemiri (hazelnut), ada yang rasa coklat-mocha, mint, dan jeruk. Rupanya, selain bangunan tua, juga ada pabrik coklat yang usianya sudah hampir dua abad.* Features persembahan sahabatku, wartawan Kompas, Pascal S Bin Saju untuk Pos Kupang.


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes