Loper

Mereka langka di terminal, di pasar-pasar, di perempatan jalan. Dirayu tak mau. Tak doyan digombal, dibujuk belum tentu mau!

ENAMBELAS tahun lalu mereka malu. Malu-malu. Canggung. Banyak yang pergi tanpa memberi tahu setelah bergabung paling lama seminggu. Mereka, manusia langka di terminal, di pasar- pasar, di perempatan jalan. Dirayu tak mau. Tak doyan digombal, dibujuk belum tentu mau!

Begitulah Kupang di penghujung 1992 ketika bumi Flobamora mulai mengenal koran harian. Koran lokal yang terbit setiap hari. Mencari tenaga kerja produktif yang mau menjual koran bukan kerja ringan. Selain iklan lewat media, hampir saban hari manajer sirkulasi dan seluruh awak pemasaran bergerilya ke pasar-pasar, pertokoan, terminal guna merekrut tenaga loper atau pengecer. 

Jika sedang beruntung bisa mendapatkan satu atau dua orang loper. Mereka kemudian diberi tips cara menjual. Bagaimana hubungan kerja dengan agen, petunjuk tentang lokasi strategis pemasaran koran termasuk besar fee yang akan mereka peroleh dari setiap eksemplar koran terjual. 

Apa yang terjadi? Para loper zaman itu mengisi koran di dalam tas plastik atau tas kresek warna hitam. Mereka memang berada di terminal, perempatan jalan, pelabuhan, pertokoan, bandara, kantor-kantor pemerintah, BUMN dan instansi swasta yang ramai pengunjung.

Namun, mulut mereka terkunci rapat. Sulit sekali bersuara menjajakan koran layaknya menjual kue atau menawarkan jasa gerobak kepada pengunjung pasar. Ditanya dulu baru menyahut bahwa dia menjual koran. Jangan tanya isi koran. Dia akan garuk-garuk kepala yang tak gatal. Paling jauh sekadar senyum sambil tunjuk kepala berita. Hasilnya mudah ditebak. Lebih banyak koran tak laku. Bertumpuk-tumpuk di gudang, berdebu lalu ludes dimakan rayap. 

Betah pun sebuah perkara. Tak banyak loper betah menjual koran di suatu daerah. Bisa bertahan dalam kurun waktu tiga sampai enam bulan termasuk rekor istimewa. Tak sedikit yang pergi amat lekas. Pergi tanpa pesan sambil membawa uang hasil jualan. Flobamora 1992 adalah Flobamora yang belum tahu banyak betapa pentingnya profesi agen, pengecer koran atau majalah. Jumlah mereka demikian minim. 

***
ITU kisah enambelas tahun lalu. Waktu, yang tak terasa lekas nian berlalu. Di tahun 2008 Flobamora telah berubah jauh. Saban hari tuan dan puan menemui loper gaul, keren dan tentu lebih necis. Mereka riuh berteriak, ramah menyapa, tak lagi malu menawarkan koran dan majalah. Sudah tahu berita menjual dan tidak menjual. Cukup cakap menjelaskan isi berita, paling tahu selera pembaca. Suara mereka ikut memberi inpirasi dalam hal kebijakan editorial.

Tidak sulit menemukan mereka sepanjang protokol, perempatan atau pertigaan jalan, pasar, pertokoan, rumah sakit, bandara, terminal, dermaga, bank, kantor Pos dan Giro (Posindo) dan banyak tempat. Jika dulu mereka jalan kaki, sekarang tidak selalu begitu lagi. Paling kurang punya sepeda. Sepeda motor telah menjadi bagian dari keseharian. 

Dan, mereka bukan manusia NTT tak berpendidikan. Loper 2008 adalah pelajar, mahasiswa dan bergelar sarjana. Pagi menjual koran, siang dan sore anak sekolah. Mereka membiayai studi dengan keringat sendiri. Hidupi keluarga dari jualan koran. Mereka punya koperasi, nomor rekening bank. Yang kerja keras dan kerja cerdas, penghasilan sebulan rata-rata di atas Rp 2 juta bahkan lebih. 

"Kami tidak merasa hina menjalani pekerjaan ini" Ungkap spontan para loper dalam acara rekreasi bersama di Pantai Tablolong-Kupang, hari Minggu 30 November 2008. Melihat tiga ratusan orang di pantai itu, beragam rasa berkecamuk. Terharu membandingkan keadaan enambelas tahun lalu.
Di Tablolong sepanjang hari Minggu, dalam siraman hujan senja, sapuan angin Laut Timor, mereka riang bercanda. 

Semangat baja menarik tambang, lari karung, gigit kelereng, lomba goyang, main bola, hingga cari jejak berhadiah. Ada yang boyong sepeda, tv warna, hp flexi, dvd, radio dan tas. Semua girang, semua riang. Semua dapat hadiah. Mereka berpesta!

Pesta kecil dan sederhana itu sudah sepantasnya untuk mereka.  Mana mungkin koran atau majalah tumbuh tanpa agen dan loper? Di hari jadinya ke-16, Pos Kupang memberi hadiah untuk para ujung tombak. Agen dan loper, merekalah pelor pembawa perubahan. Pembawa kabar yang dibutuhkan tuan dan puan. Saban hari. Bahkan ketika fajar di kaki langit Flobamora masih malas menyingsing...! (dionbata@poskupang.co.id)

Pos Kupang edisi Senin, 1 Desember 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes