Rio Re Tiwu

Oleh Maxi Marho

RATESUBA. Nama sebuah kampung di Desa Kebirangga Tengah, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende. Karena kampungnya cukup besar, Ratesuba dibagi dua menjadi Ratesuba I dan Ratesuba II. 

Letaknya dekat kali yang biasa disebut kali Bengge. Di sebelah selatan kali Bengge ada sebuah kampung lagi bernama Pu'umbindi. Kampung ini diapit lagi oleh sebuah kali bernama kali Palei yang mengalir bergabung ke kali Bengge di samping kampung Ratesuba II. Dua kali yang bersatu ini kemudian mengalir ke laut melalui Maukaro. Di wilayah Maukaro, kali ini dikenal dengan nama kali Maukaro.

Pada tahun 1980-an, ketika saya masih kecil, wilayah perkampungan ini masih sangat hijau. Kali Bengge dan kali Palei yang kemudian bersatu menjadi kali Maukaro banyak airnya dan tidak pernah kering pada musim kemarau. 

Di sepanjang kali yang meliuk-liuk itu, ada yang airnya dalam dan ada juga yang dangkal. Tempat di mana airnya dalam oleh warga setempat disebut tiwu. Dalam tiwu-tiwu anak-anak biasa mandi beramai-ramai dan berenang yang oleh warga setempat disebut rio re tiwu (mandi di air yang membentuk kolam di kali). Banyak anak-anak suka memanjat tebing kali lalu terjun ke dalam air tiwu. 

Suasana mandi bersama teman-teman sewaktu kecil memang asyik. Kami mandi dengan gembira, tertawa, dan saling ejek. Tapi, saya tidak seperti anak-anak yang lain. Saya takut berenang dan takut terjun dari tebing kali. Saya lebih banyak mandi di air dangkal dan menonton teman-teman yang terjun ke dalam tiwu. 

Meski demikian kenangan ini asyik sekali ketika diingat kembali. Biasanya kami mandi berjam-jam dan baru pulang ke rumah setelah dicari orangtua kami.

Tapi, itu kenangan lama. Keadaan tahun 1980-an itu tidak lagi terlihat saat ini. Pada pertengahan Oktober 2008, ketika saya pulang ke kampung Ratesuba, air tiwu sudah tidak ada lagi. Kali Bengge dan kali Palei sudah kering. Yang ada hanya batu dan pasir yang berserakan, bahkan rumput tambuh sampai masuk ke areal kali (sungai). 

Kalau pada tahun 1980-an orang Ratesuba mengambil air bersih di kali untuk memasak nasi dan mandi di kali yang banyak airnya, maka sekarang tidak lagi. Air bersih hanya bisa diambil dari air leding yang sering macet karena pipanya sering patah. Jumlah pipa air bersih pun cuma satu atau dua untuk mengalirkan air ke Ratesuba I dan Ratesuba II dengan jumlah penduduk lebih dari 100 kepala keluarga (KK).

Keringnya kedua kali tersebut mungkin karena banyaknya penebangan kayu yang dilakukan sejak lima tahun terakhir di wilayah pegunungan yang menjadi daerah sumber air bagi desa sekitar. Dengan dalih mengantongi izin dari pihak berwenang, penebangan hutan pun tidak terkendali. 

Yang jelas, kampung Ratesuba dan sekitarnya yang dulu hijau dan banyak air kini tinggal kenangan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah juga. 

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menulis puisi berjudul "Ratesuba" untuk mengenang kampungku itu.

Aku teringat wajahmu
Kau baik, ramah..
Menyapaku setiap pagi dengan senyuman
Kadang kau marah kalau aku berbuat salah
Tapi kau temanku, kau pujaanku.
Hampir separuh hidup aku bersamamu
Dimanja, dipeluk. 
Dipukul dan dicaci maki.
Tapi aku tak pernah lupa padamu
Aku tahu engkau baik
Aku tahu engkau sayang padaku.
Kini aku jauh.
Aku ingat engkau
Ratesubaku...*
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes