Tampilkan postingan dengan label FAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAN. Tampilkan semua postingan

Inilah Para Pemenang NTT Academia Award 2013


SETELAH melalui penjurian yang ketat dewan juri NTT Academia Award tahun 2013 memutuskan untuk memberi penghargaan kepada Ir.I Gusti Ngurah Djalantik, M.Sc., PhD,  untuk Kategori Science, Mezra Pellondou untuk Kategori Sastra dan Humaniora, Baco Gaebo untuk kategori Social Entrepreneur, dan  Itja Frans untuk kategori Life Time Achievement.

Dalam siaran pers yang diterima Tribun Manado, Selasa (28/1/2014), panitia NTT Academia Award 2013 menjelaskan, keempat penerima penghargaan ini dipilih berdasarkan beberapa penilaiaan antara lain konsistensi berkarya, ketahanan, sumbangsih untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), dan tema NTT Academia Award Tahun ini Hidup dari Tanah Air.

Tatkala pertanian mulai ditinggalkan, maraknya perdagangan manusia, hantu tambang menghantui Nusa Tenggara Timur, para penerima NTT Academia Award 2013 kali ini membuktikan bahwa Hidup dari Tanah Air itu masih mungkin.

Mezra E Pellondou
Mereka konsisten untuk memulai dari tanah air, dan menyatakan lewat hidup mereka bahwa kerja berbasis tanah air masih mungkin. Dalam pemilihan kali ini para juri menekankan kemampuan bertahan. Kerja yang dinilai tak hanya ada dalam hitungan tiga tahunan, tetapi kemampuan untuk bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Menurut panitia NTT Academia Award 2013, I Gusti Ngurah Djelantik merupakan pemikir utama tentang sapi di NTT. Terobosan pemikirannya soal peternakan sapi merupakan acuan bagi para peneliti. Sayangnya, di kalangan birokrat pengetahuan dasar tentang peternakan sapi moderen ditinggalkan. Kemenangannya kali ini merupakan penghargaan atas kerja kerasnya, sekaligus merupakan penekanan bahwa tidak mungkin membangun sektor peternakan di NTT, entah dalam skala perencanaan pembangunan provinsi maupun koridor pembangunan regional tanpa berbasis pengetahuan.

Mezra E. Pellondou adalah salah satu sastrawan perempuan NTT. Meskipun dalam nominasi kategori ini muncul nama sastrawan muda lain asal NTT, tetapi dewan juri memutuskan untuk memberikan penghargaan ini untuk Mezra yang sebagai guru dan ibu rumah tangga yang masih mampu `idealis'. Sastrawan perempuan asal NTT masih minim, dunia sastra masih dianggap sebagai dunia maskulin.  Tak hanya itu bekerja sebagai PNS kadang bagi banyak orang sudah merupakan akhir dari bersikap idealis, Mezra mampu memberikan gambaran lain.

Baco Gaebo adalah kader Posyandu sejak tahun 1984. Urusan anak sering kali dianggap hanya sebagai urusan perempuan, tetapi tidak bagi Baco. Baco yang memilih bekerja di Posyandu sejak 30 tahun silam merupakan bapak langka yang memilih menjadi `pekerja sosial'. Ia memilih untuk melayani komunitas nelayan Bajo di daerah Wuring di Kabupaten Sikka selama 30 tahun terakhir

Pdt. Ishak Nicolas Frans, atau biasa dipanggil Itja Frans, tak hanya diingat oleh para aktivis maupun birokrat di NTT  yang pernah bekerja bersamanya. Sejak tahun 1960-an Itja Frans sebagai salah seorang pendeta muda telah memilih bahwa mewartakan tak hanya persoalan membaca kitab suci, tetapi juga berkaitan dengan membaca kesulitan hidup yang ada dan menjadi pergulatan masyarakat. Baginya seorang pendeta tak hanya harus mampu membaca kitab suci dengan mumpuni, tetapi menjawab persoalan kebutuhan dasar manusia. `Susah sama-sama, senang sama-sama, kenapa itu begitu sulit sekarang?' tanyanya.

Keempat penerima NTT Academia Award 2013 ini merupakan warga pilihan berdasarkan hasil penilaian dewan juri untuk NTT academia Award 2013 yang  terdiri dari Frangky Salean (Rektor UKAW), Merry Kolimon PhD (UKAW), Romo Leo Mali (Fakultas Filsafat Unwira), dan Dr. Ermi Ndoen (Forum Academia NTT), Dr.Jonatan Lassa (Rektor IRGSC).

Penyerahan penghargaan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Februari 2014 di kompleks F-Square di Jalan Shopping Center, Oebobo, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara dimulai pukul 17.00 Wita. (osi)

Sumber: Tribun Manado

NTT Academia Award 2012: Terima Kasih untuk Sebuah Idealisme dan Keluarga Baru

Dari kiri: I Wayan Mudita, Mediatrix, Gerson Poyk
Oleh I Wayan Mudita

Saya tidak sempat menonton pertunjukan monolog Abdi Keraf, saya dan istri tiba terlambat. Kami bukan sengaja ingin datang terlambat, tetapi kami mengijinkan Edi, sopir taksi plat hitam yang kami sewa hari itu, untuk terlebih dahulu mengantar penumpang lain. Kami menggunakan taksi karena khawatir turun hujan, biasanya kami menggunakan sepeda motor saja.

Begitulah, pada saat kami tiba di tempat acara Penganugerahan NTT Academia Award 2012, di aula Universitas Kristen Artha Wacana, acara sudah berlangsung. Kami, dan pada saat itu disertai sahabat kami Remi Natonis, langsung mengambil tempat yang disediakan. Ketika itu, seorang mahasiswi sedang membacakan puisi karya Gerson Poyk, penerima award untuk kategori Literature and Humanity. Lalu, disusul pembacaan puisi oleh Opa Gerson sendiri, maaf, perkenankan saya memanggil beliau dengan panggilan opa. Beliau lahir pada 16 Juni 1931 di Namodale, Ba'a, sekarang ibukota Kabupaten Rote Ndao.

Ketika Dominggus Elcid Li, Ph.D., ketua panitia yang ketika itu merangkap sebagai pemandu acara bertanya kepada Opa Gerson mengenai pendapat beliau terhadap perkembangan sastra di Kota Kupang, beliau menjawab bahwa beliau gembira karena kinisastra dan kesenian sudah mulai mendapat tempat di Kupang. Kini sudah ada Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang menerbitkan Jurnal Sastra Santarang, Sabana Lontar Karang. Beliau juga mengatakan, sangat bangga pada kemampuan Abdi Keraf, yang telah membawakan naskahnya dengan sangat baik.

Abdi Keraf dipanggil ke panggung, ditanya bagaimana bisa tampil dengan begitu utuh. Dia mengatakan sempat gugup juga harus menghapal naskah yang cukup panjang dalam beberapa hari, belum lagi menjiwainya, tetapi dia bersyukur pada seluruh nenek moyang, dia bisa membawakannya. Opa Gerson mengelus pundak anak muda ini, beliau tampak begitu bahagia.

Saya mengenal karya-karya Opa Gerson sejak ketika saya masih siswa SMA. Ketika itu, guru bahasa Indonesia di SMAN Dompu, NTB, sekolah tempat saya menamamatkan pendidikan SMA, mengajar bahasa dengan gaya agak beda, selain mengajarkan bahasa sebagaimana yang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah lainnya, juga mengajarkan sastra dan menulis. Guru saya itu, menyuruh murid-muridnya, termasuk saya yang duduk di kelas IPA, untuk membaca karya cerpen dan puisi Gerson Poyk dan buku Komposisi karya Gorys Keraf.

 Saya lupa, karya beliau yang saya pernah baca, karena sudah begitu lama, tetapi nama beliau selalu ada dalam benak saya. Saya bertemu dengan beliau pertama kali dan menyalaminya pagi hari pada acara Kuliah Umum yang diselenggarakan sebagai begian dari acara penyerahan award. Saya, sebagai penerima award kategori Science dan Engineering, diminta menyampaikan kuliah umum, bersama dengan penerima award kategori Social Entrepreneurship, Maria Mediatrix Mali. Pada saat kuliah umum, Opa Gerson sempat bertanya, apa yang menyebabkan apel soe punah. Setelah selesai kuliah umum saya sempat mengobrol dengan beliau. Menurut beliau, orang berpendidikan IPA yang menggemari sastra memiliki apa yang beliau sebut poetic vibration, yang membuat orang menjadi kreatif.


Acara, yang dihadiri oleh Rektor Universitas Kristen Artha Wacana, berlanjut dengan sejumlah pertunjukkan seni oleh mahasiswa. Selain pembacaan puisi, mereka juga menyanyikan puisi karya Opa Gerson dalam genre hip-hop, dan juga mempertunjukkan sejumlah tari kreasi. Mereka adalah anak-anak muda kreatif, berhasil membuat acara penganugerahan menjadi begitu megah.

Sampai akhirnya tibalah acara penyerahan award. Ibu Trix, begitu Ibu Maria Mediatrix Mali biasa dipanggil, mendapat kesempatan pertama, kemudian saya, dan terakhir, tentu saja tanpa mengurangi arti penting, Opa Gerson. Sayang, penerima penghargaan untuk kategori Lifetime Achievement, mantan Gubernur NTT dr. Ben Mboi, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, karena alasan suasana politik menjelang Pilgub NTT, tidak hadir.

Sebelum penyerahan, dibacakan kriteria pemberian award dan hal-hal yang menjadi kekuatan bagi setiap penerima. Saya tidak heran mengapa Opa Gerson dan Ibu Trix layak menjadi penerima, apalagi dr. Ben Mboi yang mantan gubernur. Lalu saya? Saya merasa sangat kecil dibandingkan dengan ketiga rekan penerima ini. Ketika Dr. Ing. Jonatan Lassa, salah seorang anggota Dewan Juri membacakan kriteria dan kekuatan setiap penerima, saya masih tidak percaya bahwa saya memenuhi kategori sebagai penerima award.


Bagaimanapun, saya patut menghormati upaya yang dilakukan oleh Forum Academia NTT, forum yang terdiri atas para akademisi muda NTT ini. Di tengah masyarakat yang didominasi oleh kepentingan pragmatis untuk mengejar materi, masih ada sekelompok kaum muda yang berani mengusung idealisme akademik yang di negeri tercinta ini merupakan sebuah jalur yang sepi. Lebih dari itu, NTT Academia Award merupakan bakti hasil kerja suka rela oleh banyak pihak. Tentu saja semua ini menjadi tidak mungkin dilakukan kalau saja mereka yang terlibat di dalamnya tidak memiliki sebuah idealisme.  Tiba-tiba saya menjadi semakin kecil, tetapi saya merasa berada dalam sebuah keluarga.

Kebetulan, saya pernah mengajar, ketika fakultas pertanian di universitas ini baru didirikan, dan istri saya juga menjadi dosen di fakultas perikanan, sebelum kemudian mengundurkan diri. Saya menemukan sesuatu yang begitu saya rindukan selama ini, anak-anak muda yang bersekolah tidak hanya untuk mengejar gelar, dosen yang mengejar jabatan guru besar bukan hanya untuk tunjangan kehormatan dan mendapat jatah dana penelitian hibah, orang-orang yang bekerja bukan hanya dengan mentalitas menengadahkan tangan, para penggiat sastra yang setia menelurusi jalan yang jauh dari kemilau materi. Mereka inilah yang sesungguhnya lebih patut menerima penghargaan, bukan saya.

Maka ketika saya diminta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, saya hanya bisa terdiam sebelum bisa terbata-bata menyampaikan terima kasih. Saya setuju dengan yang sebelumnya dikatakan oleh Elcid, diam bisa lebih mengungkapkan rasa daripada kata-kata. Saya hanya bisa menyebut terima kasih kepada para orang tua dan saudara-saudara di lereng Gunung Mutis, para petani jeruk keprok di sana, yang menginspirasi saya selama ini. Saya hanya bisa berterima kasih kepada kaum tani peladang tebas bakar yang selama ini dituding sebagai perusak lingkungan, tetapi membuat saya menjadi lebih berarti berada di tengah-tengah mereka, daripada mendengarkan pidato para pejabat ketika mereka memberikan sambutan pada berbagai rapat dan seminar. Keterdiaman saya, ketika berdiri di hadapan para undangan yang memenuhi aula, adalah keterdiaman untuk mengungkapkan terima kasih yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih kepada semua yang telah menghantarkan saya saya kepada yang bisa saya capai tanpa terlalu harus mengumbar ambisi. Dan terima kasih untuk bisa menerima saya dengan kesederhanaan yang apa adanya.

Menjelang membuat tulisan ini, saya menyempatkan diri membaca novel kenang-kenangan yang diberikan oleh Opa Gerson, "Enu Molas di Lembah Lingko", dan kumpulan puisi Ragil Supriyatno Samid, "Avontur: Sekumpulan Puisi". Saya belum selesai membaca, tetapi begitupun, kedua buku ini telah memperkaya hati, melalui apa yang oleh Opa Gerson disebut irrational logic. Simak saja protes Opa Gerson, melalui tokoh Enu Molas:

Itulah kekurangan para bireokrat kita. Mereka adalah pelaksana tetapi soknya bukan main. Kalau kita memberikan ide kepada mereka, mereka mengatakan, kami sudah memikirkan hal itu, ide itu sudah ada pada pemerintah. Birokrasi kita menolak ide-ide orang luar, orang terpelajar. Birokrasi kita bisa menjadi musuh men of ideas ...

    (Gerson Poyk, Enu Molas di Lembah Lingko, hlm. 117)

Maka saya pun maklum, mengapa hampir tidak ada kalangan birokrat yang hadir, pada kuliah umum, padahal sebelumnya Saudara Elcid sudah menyampaikan kepada saya, bahwa kuliah umum akan dihadiri kalangan birokrat. Saya maklum, tidak ada birokrat yang bersedia dikuliahi, sebab, sebagaimana saya sampaikan pada kuliah umum saya, dewasa ini bukan lagi jamannya "knowledge is power" tetapi "power is knowledge". Lihat apa yang dilakukan para pejabat ketika membuka rapat maupun seminar, mereka selalu menguliahi peserta panjang lebar, meskipun seringkali mengenai sesuatu yang mereka tidak kuasai. Jabatan telah membuat mereka menjadi orang yang paling tahu mengenai semua hal. Dan tentu saja, para peserta rapat maupun seminar terus saja manggut-manggut, sebab sebagai bangsa yang adiluhung, tentu saja tidak cukup mendengar dengan diam, takut dimarahi di depan umum sebagaimana yang dialami murid SD

Tapi, siapa yang berani lebih jujur, seniman atau akademisi, apalagi birokrat? Simak saja bait berikut dari puisi Ragil Supriyatno Samid, "Tentang Kemerdekaan (di negeri manasuka)":

    kenapa bukan "pukimai kau!"
    yang kita teriakkan
    untuk warna bendera yang cuma mengabarkan
    banjir darah dan kibar kafan
    buat saudara sendiri

    (Ragil Supriyatno Samid, Avontur: Sekumpulan Puisi, hlm. 41)

Maka saya pun benar-benar merasa sudah cukup puas dengan kenyataan bisa menjadi manusia tanpa harus menghalalkan segala cara untuk risa menjadi seorang pejabat. (*)

Sumber: Blog Wayan Mudita


Semua Artikel terkait NTT Academia Award

Monologia Flobamora: Refleksi Pendek Sastrawan Rantau

Abdy Keraf (foto Oddy Mesakh)
Oleh Dominggus Elcid Li

Naskah yang Indah, aktor kawakan, dan paduan suara yang membuat hati merinding. Mungkin ini tiga kesimpulan untuk menyebutkan pentas Monologia Flobamora. Naskah karya Gerson Poyk yang dipentaskan di Kupang, 18 Januari 2013 malam, merupakan momentum peringatan setengah abad jejak karya Gerson Poyk di dunia sastra Indonesia sekaligus pertemuannya kembali dengan kampung halaman.

Pentas kali ini pentas istimewa karena menandai pulangnya sastrawan rantau asal NTT.

Naskah monolog karya sastrawan Gerson Poyk dibuat khusus untuk dipentaskan pada malam penyerahan NTT Academia Award. ‘Opa Gerson’ merupakan penerima NTT Academia Award tahun 2012 untuk kategori Sastra dan Humaniora.

Abdy Keraf, pelaku monolog merupakan wakil dari generasi teater terbaru dari Kupang yang sedang tumbuh. Monolog 30 menitan ini merupakan ‘kritik Gerson atas keterasingan manusia NTT dari tanahnya sendiri.

Pentas dibuka dengan nyanyian dari paduan suara mahasiswa Universitas Kristen Artha Wacana. Suara tajam menyayat dengan nada requiem membuka pentas. Suara para penyanyi dan sayatan tangis membuat ruangan senyap.

Di bawah lampu penerangan  seorang penulis tua yang hanya berbaju kaos dalam, dan memakai sarung duduk di atas kursi yang terbuat dari ban mobil. Ia mengoceh panjang tentang budaya pencuri. TV-nya baru saja digasak maling. Untungnya laptop andalannya tak ikut disantap. Baginya maling pun merupakan kegiatan bekerja, sejenis dengan korupsi sebagai tindak pencurian, tapi kerja yang tidak didasarkan pada moral etis.

Abdi yang duduk di bawah lampu gantung dan sesekali berdiri mengampiri penonton malam itu menguasai panggung.  Ocehan panjangnya membuka lubang-lubang keterasingan yang selama ini melingkupi warga flobamora. Tentang ‘anak muda’ yang hanya mengincar posisi pegawai, soal petani yang tidak pernah dihargai kerjanya, dan ‘orang kota’ yang hanya tau makan beras, tanpa mau tahu bagaimana prosesnya dan menghitung berapa yang dimakan dalam rumus bare maximum, tentang kebutuhan maximum seorang manusia.

Kritik atas commodity fetishism, yang tergambar dalam berbagai jenis syahwat orang moderen tentang mobil, dan melupakan soal pertanian serta perluasan lahan produksi pertanian merupakan tanda-tanda keterasingan manusia Indonesia kini. Pemujaan yang berlebihan untuk mobil mewah, di atas keinginan untuk bertani, membuat manusia masuk dalam konsumerisme menjadi surga dunia dan tujuan hidup absolut.

Pentas ditutup dengan lagu ‘Flobamora Tanah Air Beta’. Flobamora tempat berlindung di hari tua. Lagu penutup ini membuat Opa Gerson menangis. Sastrawan perantau asal NTT ini memang sekian dari manusia anomali asal Flobamora yang sedang pulang. Para awak teater pecinta sastra di Kupang  sadar bahwa selain Gerson Poyk, masih ada satu nama lagi yang hingga kini belum pulang: Umbu Landu Peranggi.

“Awalnya saya tidak menyangka ada aktor di Kupang, sehingga saya menyuruh ia untuk membacakan saja naskahnya, tetapi terbukti Abdy bermain lebih baik daripada naskah yang saya tulis,” kata Gerson Poyk di ujung pentas. Kami diam dan ada yang hangat di mata. (el)


Sumber: KLIK DI SINI


Mungkin Anda tertarik baca semua Artikel terkait NTT Academia Award?

Maria Mediatrix Mali Raih NTT Academia Award

Mediatrix Mali
Forum Academia NTT pada Sabtu (29/12) kembali mengumumkan penerima penghargaan "NTT Academia Award" untuk tahun ini. NTT Academia Award adalah penghargaan prestasi tertinggi bagi putra/putri NTT di bidang pendidikan maupun inovasi dalam rangka mempercepat pembangunan Provinsi NTT. NTT Academia Award diibaratkan sebagai hadiah "Nobel" tingkat NTT yang diadakan setiap tahun sejak 2007.

Para penerima NTT Academia Award kali ini adalah Gerson Poyk untuk kategori Sastra dan Humaniora, Maria Mediatrix Mali untuk kategori Social and Policy Entrepreuner, Dr. I Wayan Mudita untuk kategori Science and Engineering dan Dr. Benedictus Mboi, MPh untuk kategori Lifetime Achievement.

Para penerima award ditentukan melalui beberapa tahapan yang dimulai sejak awal tahun 2012. Kandidat dijaring dari masyarakt NTT yang dinilai telah memenuhi kriteria-kriteria: relevansi karyanya bagi permasalahan dan pembangunan NTT, daya cipta dan inovasi, tingkat representasi dan pencitraan NTT, tingkat prestasi, visi penerima, serta inspirasi dari karya yang didapat. Calon penerima NTT Academia Award berasal dari petani, nelayan, mahasiswa, pelajar, akademisi, guru, seniman, wartawan, rohaniwan, filsuf, dan pihak manapun yang dengan caranya telah berkontribusi bagi akselerasi pembangunan NTT. Penentuan penerima penghargaan ini ditentukan melalui penjurian oleh tim yang terdiri dari Rm. Leo Mali, P. Budi Salean, Dr. Ermi Ndoen, dan Dr. Jonatan Lassa.

Sastrawan Indonesia asal NTT, Gerson Poyk dinilai layak menenerima penghargaan kategori Sastra dan Humaniora atas karya-karya jurnalistik dan sastra yang mengharumkan nama NTT tingkat nasional dan internasional. Sejak 1960-an sudah puluhan novel dan kumpulan cerpen yang telah ia tulis. Berbagai penghargaan bergengsi nasional dan internasional telah diraih diantaranya hadiah Adinegoro (1985 dan 1986), hadiah sastra ASEAN (1989), Sea Write Award (1989), Lifetime Achivement Award Kompas dan Anugerah Kebudayaan 2011 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Usaha Maria Mediatrix Mali yang menggerakkan jaringannya berhasil menggalang dana untuk memberantas malaria di Kab. Sikka-Flores melalui adavokasi dan penguatan kelompok masyarakat, baik di kalangan dasa wisma, kelompok basis umat dan sekolah-sekolah menghantarnya meraih penghargaan kategori Social and Policy Entrepreneur. Mediatrix berhasil mendatangkan ahli-ahli lingkungan dari Jerman untuk membantunya di Kabupaten Sikka. Ia juga melibatkan pengusaha, anggota brimob, polisi dan tentara dalam gerakan membuka genangan lagon yang menjadi sarang nyamuk anopheles serta memberantas jentik nyamuk di lagon-lagon yang luas dengan BTI (Bacylus Thuringensis Israelensis).

Dr. I Wayan Mudita dari Universitas Nusa Cendana - Kupang ditetapkan sebagai pemenang kategori Science dan Engineering atas dua jasa utamanya: Pertama, secara konsisten meneliti dan mengkomunikasikan persoalan bio-security dan hama penyakit tanaman khususnya pada Jeruk Citrus di pegunungan Timor Barat. Kedua, merintis penelitian terkait konservasi dan pengembangan Lontar di NTT. Riset PhD dari Dr. Mudita telah membuka mata berbagai kalangan bahwa masalah penyakit Huanglongbing (HLB) pada keberlanjutan produksi Citrus di pegunungan tinggi Timor Barat (terutama di Kabupaten TTS dan TTU) berakar pada kebijakan yang tidak berdasarkan pada evidence based.

Untuk kategori Lifetime Achievement, Dr. Benedictus Mboi, MPh yang adalah mantan Gubernur NTT dua periode (1978-1988) menerima penghargaan ini karena di tangan Benedictus Mboi, rakyat menyaksikan bahwa pemerintah dapat bekerja dan berhasil dalam berbagai sektor termasuk yang paling sulit seperti konservasi lingkungan dan hutan melalui program Operasi Nusa Hijau. Sosok Benedictus Mboi menjadi simbol harapan bagi rakyat tentang pentingnya pemerintah dan bahwa pemerintah dapat menjadi alat yang efektif dan efisien dalam membangun kesejateraan rakyat. Dr. Mboi adalah tokoh inspiratif ideal untuk para pemimpin NTT masa kini maupun calon pemimpin NTT masa mendatang ditengah kegersangan dan degradasi kualitas pemimpin NTT saat ini. (by Pither Yurhans Lakapu, Citizen Journalist)

Sumber: www.berita99.com


Semua Artikel tentang NTT Academia Award

2012 NTT Academia Winners

dr Ben Mboi (kiri) dan istri dr. Nafsiah
TAHUN 2012, NTT Academia Award genap memasuki usia yang keenam. Pertanyaan dasar yang kembali ditanyakan oleh para penggagas award ini  bertemu sehari setelah peringatan 17 Agustus 2012 lalu adalah: Sejauhmana kualitas NTT Academia Award masih bisa dipertahankan? Masihkah NTT Academia Award menyasar calon terbaik?

Apakah kita sedang bergerak ke arah itu?Jika tidak, apa yang harus kita lakukan? Kegelisahan  yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bukti keinginan untuk maju dan senantiasa mempersembahkan yang terbaik  dalam setiap proses yang ditempuh. Hal ini yang menjadi pegangan bagi para sukarelawan yang tergabung dalam tim kerja tahun ini. Melalui proses panjang akhirnya diputuskan pemenang NTT Academia Winners 2012 sebagai berikut.

1. Dr Aloysius Benedictus Mboi MPh - Lifetime Achievement - NTT Academia Award 2012.

Dalam konteks iklim global yang berubah dan ditengah kerisauan para academia dan pengambil kebijakan tentang proyek-proyek mitigasi perubahan iklim tentang lemahnya kelembagaan formal (dalam hal ini sistim formal dan organisasi kepemerintahan), sosok Ben Mboi tepat untuk membawa harapan bagi rakyat tentang pentingnya pemerintah dan bahwa pemerintah dapat menjadi alat yang efektif danefisien dalam membangun kesejateraan rakyat.

Ditengah kegagalan proyek-proyek kehutanan seperti REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), sosok Dr. Mboi menjadi simbol harapan bahwa bila anda memilih pemimpin yang tepat dan percaya pada sistim, maka daerah yang kering dapat menjadi rimbun dan sejuk, sebagaimana diamini para tetua dari Alila di Alor.

Narasi tetang keberhasilan Ben Mboi ada di mana-mana, dari pelosok Flores hingga pegunungan tinggi di Timor Barat hingga pelosok Alor. "Ketika saya tiba di sini tahun 1978 sebagai guru, daerah ini adalah daerah padang rumput yang gersang dan berbatu. Sering terjadi kebakaran padang setiap tahunnya. Namun kemudian daerah ini berubah menjadi hutan Lamtoro, sejak Gubernur Ben Mboi mendorong reboisasi lewat slogan Operasi Nusa Hijau. Sejak itu, kampung hutan kami menjadi hutan lamptoro."

Hal ini diutarakan Kepala Sekolah SD Gunung di Desa Alila di Alor (Mail 2010; Han 2010 and Boli 2010). Pesan dari Alor di atas memberikan harapan bahwa "Pemerintah dapat bekerja dan sukses dalam menciptakan keberlanjutan ekologi dan ekonomi pedesaan". Cerita di atas juga merupakan konfirmasi atas capaian Gubernur Ben Mboi dalam memimpin NTT 1978-1988 merupakan cerita inspiratif buat para pemimpin NTT masa kini maupun calon pempimpin NTT masa mendatang.

Ditengah-tengah kegersangan dan degradasi kualitas pempimpin NTT yang intelek, visioner,
determinasi kokoh dan personal yang integrative, kami generasi muda dari Forum Academia NTT secara bulat memutuskan bahwa Ben Mboi, Gubernur NTT 1978-1988 sebagai penerima Lifetime Achievement untuk NTT Academia Award 2012.

Di tangan Ben Mboi, rakyat menyaksikan bahwa pemerintah dapat bekerja dan berhasil dalam berbagai sektor termasuk yang paling sulit seperti konservasi lingkungan dan hutan melalui Operasi Nusa Hijau. Mantan Gubernur NTT 1978-1988 menunjukan ciri smart leadership - model yang hilang dari sebuah bentuk kepemimpinan yang ideal yang hilang saat ini dan sosoknya memberikan pesan bahwa NTT sedang kehilangan pemimpin yang dibutuhkan ke depan. Biografi singkat: Dr. Ben Mboi MPh.

2. Dr I Wayan Mudita: Pemenang NTT Academia Award 2012, Kategori Science and Engineering.

I Wayan Mudita
Pak Mudita sedang menyelesaikan studi S3 di Charles Darwin University, Darwin, NT, Australia" (Submitted). Penelitian PhDnya berjudul "Community Biosecurity of Citrus in the Highlands of West Timor, Indonesia". Fokus penelitian ini adalah pada peran kebijakan pemerintah dalam era otonomi daerah dan perlunya pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi penyakit huanglongbing (HLB) pada jeruk, khususnya jeruk keprok soe.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebaran penyakit huanglongbing, yang di Indonesia dikenal dengan nama CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), terjadi bukan hanya tersedianya lingkungan fisik yang memadai, tetapi juga lingkungan sosial (kebijakan) yang mempermudah penyakit menyebar.

Kedua, merintis penelitian mengenai peran tumbuhan lokal dalam ketahanan pangan masyarakat NTT (seperti Lontar). Pak Wayan, sebagaimana beliau biasa di panggil para kerabatnya, sudah 26 tahun mengabdi sebagai dosen di Faperta Undana, Kupang, NTT. Riset PhDnya membuka mata kita bahwa masalah penyakit Huanglongbing (HBL) pada keberlanjutan produksi Citrus di pegunungan tinggi Timor Barat (terutama di Kabupaten TTS dan TTU) berakar pada kebijakan yang tidak berdasarkan pada evidence based - salah satu papernya yang dipublikasikan berjudul Crossing the community-government communication border in managing citrus biosecurity in West Timor, Indonesia".

Pak Mudita lahir di Yehembang, Jembrana, Bali, 21 July 50an tahun lalu. S1  crop protection dari Mataram University, Mataram, Indonesia.  Di tahun 1992 beliau mendapatkan MSc agricultural and environmental sciences dari McGill University, Montreal, Canada. Pak Mudita sedang menantikan hasil PhDnya dari Charles Darwin University, Australia. Biographi singkat I Wayan Mudita PhD Cand.

3. Maria Mediatrix Mali - Pemenang NTT Academia Award 2012, Kategori Social and Policy Entrepreneur 
Mediatrix Mali

Dengan jaringan yang luas, Trix yang pandai berbahasa Inggris dan German ini, berhasil menggalang dana untuk memberantas malaria dari Flores melalui adavokasi dan penguatan kelompok masyarakat, baik di kalangan dasa wisma, kelompok basis umat dan sekolah-sekolah.

Dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Trix dan Yaspem berhasil melalukan 72.000 pemeriksaan slide darah malaria di enam kecamatan endemis malaria di Sikka dan berhasil mengobati 1.227 orang yang positif malaria saat itu juga. Trix berhasil mendatangkan ahli-ahli lingkungan dari German untuk membantunya di Sikka. Tindakan memberantas jentik nyamuk di lagon-lagon yang luas dengan BTI (Bacylus Thuringensis Israelensis). Trix juga melibatkan pengusaha yang menyediakan alat berat untuk membuka lagon-lagon yang tergenang agar tidak menjadi sarang nyamuk Anopheles. Tidak hanya pengusaha, anggota brimob, polisi dan tentara pun terlibat dalam gerakan membuka lagon. "Memberantas malaria harus komprehensif dan melibatkan semua unsur masyarakat".

Karena itulah Trix tidak mau bekerja sendiri. Trix Mali melalui Yaspem juga mencari dana untuk melatih para mikroskpist malaria di Sikka. "Saya sangat prihatin dengan kualitas pemeriksaan malaria di Sikka. Sikka memiliki error rate kedua tertinggi di NTT yaitu sekitar 38%. Karena itu, dengan bantuan mikroskopist ahli dari Kemenkes RI di Jakarta, kami bertekad untuk memperbaiki kualitas pemeriksaan malaria di Sikka. Kami telah melatih tenaga mikroskopist dari 14 Puskesmas di Sikka. Saat ini bahkan kami sudah memiliki  "teaching mikroskopist". Kami bertekad untuk menjadikan Sikka sebagai Pusat Cross-checker Malaria untuk daratan Flores". Biographi Trix Mali

4. Gerson Poyk - Pemenang NTT Academia Award 2012, Kategori Sastra dan Humaniora
Gerson Poyk adalah sastrawan Indonesia yang nyaris tidak dikenal di NTT, kampung halamannya sendiri. Berawal dari guru Nusantara, Gerson kemudian memilih menjadi jurnalis, sekaligus sebagai sastrawan.
Gerson Poyk

Pada tahun 1989 ia menerima hadiah sastra ASEAN untuk Sang Guru (1972). Di bidang jurnalistik Gerson adalah penerima hadiah Adinegoro, penghargaan bergengsi yang dikeluarkan PWI, pada tahun 1985 dan 1986. Beliau juga penerima Sea Write Award (1989), Lifetime Achivement Award Kompas dan Anugerah Kebudayaan 2011 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas jasanya di bidang sastra dan budaya.

Karya novel-novelnya "antara lain": Hari-Hari Pertama (1964), Sang Guru(1971), Jerat (1978) Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982), Doa Perkabungan (1987), Poti Wolo (1988), Negeri Lintasan Petir (2009), Sang Sutradara dan Wartawati Burung (2009), Tarian Ombak (2009).   Sedangkan Karya kumpulan cerpennya "antara lain" Matias Akankari (1972), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk seorang perempuan (1983), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), dan Poli Woli (1988).  

Di tahun 2012, karya Gerson Poyk mulai diperkenalkan kembali di NTT. Naskah Teater-nya "Ratu Balonita" dipentaskan ulang oleh para awak teater yang tergabung dalam Rumah Poetika.  Sastrawan kelahiran Namodale, Rote pada tanggal 16 Juni 1931 meskipun tak muda lagi, masih mempertahankan vitalitas dalam ber-kata-kata. Karya masih mengalir dari jarinya. Biografi Singkat Gerson Poyk.

Sumber: Forum Academia NTT

Semua Artikel Terkait Forum Academia NTT: KLIK di SINI

Artikel Lainnya DI SINI

Kapitalis Global & Lokal

Oleh Ferdy Hasiman
Peneliti Di Indonesia Today, Jakarta

Banyak pihak di negara-negara Eropa, Asia dan Amerika Latin memboikot produk-produk Trans National Corporation (TNCs), seperti McDonald, Cocacola, Pepsi, Starbuck, karena mematikan ambisi pebisnis-pebisnis lokal. Nutrisi yang digadang-gadang dari produk-produk TNCs tak sebanding dengan makanan dan minuman lokal. Produk-produk ini unggul hanya karena embel nama besar negara asalnya yakni USA.

Kritikan Sri Palupi “Pilot Yang Salah Pesawat” berkaitan dengan kondisi Indonesia yang sedang berjumpa kapitalisme. (Baca; Kompas, 2/2) Kritik utama ditujukan kepada pemimpin kita yang tak berdaya di hadapan kekuasaan TNCs. Bayangkan! TNCs ini kerap melakukan tekanan politik melalui lembaga-lembaga multilateral, seperti IMF dan Bank Dunia untuk mendobrak negara bandel.

Survey Control Risk Group (2004 ) menemukan, TNC kerap menggunakan tekanan
politik dari negara asal untuk mendobrak negara yang bandel. Dari survey itu, hanya 7,6 % perusahaan USA dan 9,2 % negara OECD yang tidak melalui tekanan politik. Akibatnya, 78.000 TNCs, berikut produk-produknya, membanjiri pasar seluruh dunia dan domestik. (Baca; UNCTAD, 2007)

Tak heran kalau pedagang-pedagangan asongan yang berjejer di setiap lorong metropolis gagap melihat outlet-outlet, seperti 7Eleven, Cyrkle-K, Lotte Mart. Rumah makan tradisional menjadi tidak menarik bagi konsumen karena hadirnya McDonald, KFC, Burger King dan sebentar lagi restoran cepat saji, Johnny Rockets (AS ) segera hadir di Indonesia. Mobil produk SMEA di Solo merupakan produk lokal terbaru yang disambut basa-basi konsumen karena masih kuatnya cengkeraman raksasa Honda, Toyota, dan mobil-mobil buatan Eropa.

Kapitalis Lokal
Tampaknya Palupi hanya menyoroti korporasi asing (TNCs) dan lupa korporasi domestik. Padahal, sepak terjang korporasi nasional dan transnational sama saja, profit-oriented. Lihat saja daftar 40 orang kaya Indonesia yang mengakumulasi kekayaan sebesar US$ 85,1 miliar. Nilai kekayaan mereka setara dengan 11 persen total PDB tahun 2011 yakni US$752 miliar. Total kekayaan dan aset mereka terus meningkat. Mereka mengkapitalisasi semua bidang-pertambangan, ritail, perkebunan, pertanian-sehingga tak ada ruang bagi rakyat mengembangkan usaha.

Kapitalis lokal tidak susah mencari uang. Mereka bisa mencari uang ke bank dan bank investasi. Tetapi, yang menyulitkan mereka adalah mendapat lahan konsensi dan perijinan. Sehingga, mereka perlu bersahabat
dengan penguasa. Bahkan ada yang menjadi pengurus dan penguasa Parpol. Di era otonomi daerah hanya Parpol yang bisa mengendalikan kepala daerah, karena bupati adalah anggota Parpol tertentu. Persahabatan kapitalis dan penguasa bukan untuk urusan publik, tetapi untuk kepentingan diri. (Baca; Adam Smith).

Kapitalis mendapat kemudahan berbisnis dan penguasa mendapat dana untuk proyek politik selanjutnya. Dengan demikian, baik TNCS maupun korporasi domestik sama-sama buruk karena mereka menguasai sumber hayat orang banyak untuk kepentingan privat, membangun korporatocracy dan merusak demokrasi. Jika TNC memasarkan demokrasi sebagai pintu masuk usahanya ke Indonesia, korporasi lokal malah bisa menjadi pemain dalam sistem demokrasi. Demokrasi bagi korporasi lokal menjadi sekedar tunggangan mengakumulasi modal.

Dengan cara seperti itu mereka mencaplok kekayaan seluruh nusantara. Genapalah sepenggal syair lagu Koes Plus, orang bilang tanah kita tanah surga, tetapi dalam genggaman kapitalis, tongkat, kayu dan batu bisa jadi tanaman. Dalam genggaman kapitalis lahan dan tanah pertanian warga dicaplok hanya untuk investasi tambang dan pembangunan mall-mall. Maka, baik TNCS maupun korporasi domestik sama-sama buruk karena keduanyaa menguasai sumber hayat orang banyak untuk kepentingan privat, membangun korporatocracy dan membuat cita-cita Pancasila dan UUD’45 jauh dari harapan.

Dalam genggaman kapitalis, model pembangunan kita semakin mengarah ke rezim liberal. Liberalisasi membuka pintu bagi pembangunan top down. Model ini menggodai lembaga-lembaga intermediasi, seperti perbankan untuk berpihak pada korporasi-korporasi berskala raksasa.

Data tahun 2008 menunjukan, bank-bank nasional lebih suka memberi kredit kepada 331 perusahaan raksasa daripada kepada sektor UMKM yang mencapai 44 juta. Rendahnya akses kredit berakibat langsung pada minimnya daya saing industri dalam negeri. Itulah sebabnya, meskipun pertumbuhan ekonomi meningkat 6,5 persen dan pendapatan per kapita mencapai Rp30.8juta tahun 2011,tetapi pertumbuhan itu tetap tidak menyentuh kehidupan rakyat kecil.

Dalam teorinya, rakyat kecil, seperti petani akan mendapat berkah dari pertumbuhan ekonomi jika ekspor digenjot, karena menyentuh langsung petani penggarap. Ekspor kita memang menunjukkan grafik menaik beberapa tahun terakhir. Tahun 2010 misalnya, kenaikan ekspor ditopang beberapa sektor non-migas, seperti kelapa sawit. Persoalannya, meskipun kelapa sawit adalah salah satu industri yang menopang ekspor per Januari-Novemeber 2010 (US$ 140,65 miliar), namun bukan petani plasma yang mendapat berkah dari kanaikan harga CPO global,melainkan pengusaha-pengusaha besar sekelas Wilmar Group. Begitupun nasib warga sekitar areal tambang emas, nikel dan mangan. Mereka hanya mendapat secuil berkah kenaikan harga komoditas, seperti emas dan mangan. Justru yang mendapat keuntungan besar adalah investor tambang. Pertanyannya adalah mengapa warga kecil selalu menjadi korban pembangunan?

Tidak Diperhitungkan


Dalam pemerintah korporatocracy, rakyat kecil tidak diperhitungkan. Suara rakyat yang berteriak menegosiasikan kehidupan mereka di ruang publik, tidak tersambung ke parlemen. Rakyat hanya konstituen mereka sebelum pemilu. Setelah pemilu usai, konstituen mereka bukan rakyat lagi, tetapi pemodal yang membiayai mereka dalam kampanye pemilu. Soalnya, dalam demokrasi elektoral pendaftaran parpol dan biaya operasional saja sangat mahal. Sehingga perlu mencari pendanaan melalui pengusaha, dana asing dan dana ilegal untuk menghidupi partai. Tak heran jika banyak politisi terjebak korupsi.

Untuk lolos serbuan KPK, mereka membentuk kartel politik. Kartel untuk melumpuhkan kinerja aparat penegak hukum dan mensabotase setiap aksi pencarian informasi. Kartel politik akhirnya bermuara pada hancurnya fungsi institusi-institusi demokratis. Institusi-institusi demokratis tetap dipelihara sebatas simbol tanpa substansi. Pemilu tetap dijalankan secara regular, namun tidak membawa perubahan konkret bagi hidup rakyat kebanyakan. Itulah sebabnya, kendati institusi-institusi demokratis tampaknya bekerja, namun persoalan-persoalan menyangkut hidup rakyat kebanyakan tidak tersentuh kerja institusi-institusi tersebut.


Pemimpin Indoneisa perlu belajar dari keberanian Mantan presiden Brasil, Lula Da Silva, yang berani mengambil jarak terhadap kapitalisme global dan menerapkan program pro-rakyat. Dalam genggamannya, ekonomi Brazil tahun 2010 bertumbuh 7 persen dan mampu menyerap 2.5 juta angkatan kerja yang ditopang kebijakan perbankan yang baik, proteksi terhadap industri kecil dan kebijakan land reform yang baik. Strategi ini yang diharapkan mekar dari industri-industri kecil dan menengah di Indonesia.

Sumber: Opini Kompas, Selasa 28 Februari 2012

Ketua Geng Motor Sekaligus Inovator

Novers Nggili
KESAN pertama yang didapat sewaktu berjumpa Noverius Henutesa Nggili adalah angker dan menyeramkan. Betapa tidak, rambut keriting sepundak, badannya tegap, dan sorot matanya tajam. Kumis serta jenggot lebat menghiasi mukanya. Kacamata gelap dengan frame warna perak disematkan di atas dahinya. Pria berusia 34 tahun ini cocok dengan gambaran anggota geng motor layaknya di film Hollywood.

Begitu berucap, kesan angker tersebut hilang. Gaya bicara Noverius terasa santun dengan nada perlahan tapi jelas didengar. Pria yang kerap dipanggil Frits ini merupakan perwakilan dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam acara Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) yang digelar di Gedung Merdeka serta Gedung Indonesia Menggugat, pekan lalu. Namun, prasangka di awal perjumpaan ternyata tidak sepenuhnya salah sewaktu Frits mengakui bahwa dia adalah pemimpin geng motor.

”Nama geng motor saya adalah geng Imut,” ujar Noverius dengan mimik dan nada yang datar agar tidak dianggap sedang bercanda oleh lawan bicaranya.

Rupanya nama Imut geng motornya merupakan singkatan dari Aliansi Masyarakat Peduli Ternak. Dibentuk sejak tahun 2005, Geng Motor Imut awalnya beranggotakan 15 orang. Selain cinta otomotif, mereka awalnya kerap berdiskusi mengenai masalah pertanian dan peternakan. Dengan demikian, sembari berkeliling layaknya geng motor, mereka memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai ilmu yang dikuasai.

Bagi Noverius, geng Imut adalah sebuah gerakan pembelajaran dengan filosofi berbagi ilmu sebelum ajal. Dia beralasan, setinggi apa pun pendidikan yang sudah dicapai seseorang, semua menjadi sia-sia bila tidak pernah diamalkan demi kebaikan sesama. Moto mereka, ”tapaleuk urus ternak”. Tapaleuk dalam bahasa Kupang bisa diartikan sebagai jalan-jalan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk berbincang dengan orang lain.

Enam tahun sejak berdiri, geng Imut sudah menyambangi 20 kelurahan di NTT yang tersebar di tujuh kabupaten dan tujuh pulau. Mereka juga merangkul geng motor lain yang semula hanya meresahkan masyarakat untuk diarahkan kepada kegiatan yang bermanfaat. Dimulai dari 15 orang, kini anggota Geng Motor Imut mencapai lebih dari 100 orang. Forumnya di jejaring sosial Facebook pun diikuti oleh 700 pengguna lain sebagai ajang diskusi mengenai isu lingkungan yang diselesaikan dengan cara murah, mudah, dan ramah lingkungan.

Biogas
Dalam perjalanan ke sejumlah daerah, geng Imut tidak hanya menularkan ilmu yang didapatkan dari sekolah maupun perguruan tinggi. Mereka juga menciptakan peralatan yang memudahkan hidup masyarakat, salah satunya pembuat biogas menggunakan drum bekas. Penggunaan drum lebih masuk akal dibandingkan dengan lembaran plastik seperti di daerah lain, misalnya Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ”Pasalnya, plastik sulit didapatkan di Kupang karena harus didatangkan dari Pulau Jawa, sementara drum sangat berlimpah karena digunakan untuk wadah bahan bakar minyak,” kata Noverius.

Keengganan pemilik hewan ternak untuk mencampur kotoran di bak penampungan biogas juga diakali geng Imut. Menggunakan sepeda statis, pemilik hanya perlu mengayuh untuk mencampur kotoran ternak. Kayuhan selama dua jam menghasilkan cukup daya listrik untuk penerangan di waktu malam selama tiga jam.

Geng Imut juga membuat blok suplemen pakan gula lontar untuk mengatasi sulitnya mendapatkan pakan ternak. Pakan ternak sangat melimpah sewaktu musim hujan dan bisa sebaliknya sewaktu musim kemarau. ”Dengan diolah menjadi blok pakan, peternak memiliki pakan yang bisa disimpan hingga tiga tahun atau memiliki nilai ekonomis bila dijual,” katanya.
Pengolahan limbah ternak menjadi biogas mengantarkan geng Imut mendapatkan dua penghargaan, yakni Academia Award dari Forum Academia NTT pada tahun 2010 serta 103 Inovasi Indonesia dari Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2011.

Desalinator air laut
Geng Motor Imut juga membuat desalinator atau pengubah air laut menjadi air tawar untuk bisa dikonsumsi. Penemuan tersebut dimanfaatkan betul oleh penduduk Pulau Sabudi, Kabupaten Sabu-Raijua, yang kesulitan mengakses air tawar untuk dikonsumsi. Untuk mendapatkan air tawar, warga harus meninggalkan pulau mereka dan membeli jeriken berkapasitas 40 liter seharga Rp 25.000.

Namun, dengan penemuan yang diberi nama Desalinator Imut, yang sepenuhnya memanfaatkan sinar matahari, persediaan air tawar bukan masalah lagi. Penelitian tersebut berbuah penghargaan empat besar dalam Mandiri Young Technopreneur Award 2011.

Cara kerja desalinator itu memanfaatkan prinsip penguapan. Air laut yang diletakkan di bak penampung akan naik suhunya hingga 70 derajat celsius sehingga menguap. Uap air yang sudah tawar menempel ke bagian penutup bak dan mengalir menurut kemiringan menuju pipa ke penampungan air tawar. ”Air berkadar garam yang tersisa bisa dicampur iodium kemudian dijemur lagi untuk mendapatkan garam yang bisa dijual sebagai tambahan mata pencarian,” kata Noverius.

Angkat tradisi
Semangat Geng Motor Imut untuk berinovasi ternyata tidak menyurutkan kebanggaan atas nilai dan tradisi lokal, terutama berkaitan dengan perawatan ternak. Noverius mengaku, kelompoknya terang-terangan membangkang kebijakan veteriner yang mengharuskan hewan sakit ditangani oleh dokter hewan. Karena keterbatasan personel, mereka mengembangkan dukun ternak untuk mengobati ternak sakit berdasarkan ramuan yang sudah lama dikenal masyarakat Kupang.

Salah satu resep yang dibagi adalah mengobati cacing pada mata ternak yang bisa mengakibatkan kebutaan. Dengan memanfaatkan getah dari tumbuhan yang mereka sebut koleng susu, yang diteteskan sehari dua kali, ternak tersebut akan terbebas dari kondisi tersebut setelah sepekan perawatan.

Di kepala Noverius, masih tersimpan banyak ide untuk pengembangan Geng Motor Imut di masa mendatang. Yang pasti, dia takkan mengkhianati filosofi dasar yang dianut kelompok itu, berbagi ilmu sebelum ajal. Selama hayat masih di kandung badan, masih banyak ilmu maupun pengabdian yang akan dibaginya di lingkungan Pemerintah Kota Kupang ini. (Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo)

Sumber: Kompas Cetak 18 Februari 2012

"Perempuan Itu Bermata Saga" Memberinya Hadiah Sastra

Agus Dapa Loka (paling kanan)
Melalui novelnya "Perempuan itu Bermata Saga" terbitan Elex Media Komputindo 2011 (Gramedia Group) Agust Dapa Loka meraih penghargaan NTT Academia Award (NTT AA) 2011 untuk kategori SASTRA. Novel tersebut berisi true story yang pernah ia alami sendiri. Pada 10 Juni 2009 Agust mengalami kecelakaan lalu lintas. Setelah melalui pengobatan yang ternyata gagal, pada 14 Juni 2009 ia menjalani amputasi kaki kanannya, beberapa centi meter di atas lutut.

Ketika ia masih sehat, dia adalah tipe lelaki pekerja keras, aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat, sekolah, gereja, keluarga dan lain-lain. Ia pun pernah menjadi petani sawah dan penjual ikan keliling untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebab gajinya sebagai guru swasta tergolong kecil dan tidak mampu membiayai keluarganya.

Praktis setelah amputasi itu, apalagi sempat divonis menderita infeksi tulang, dia tidak bisa berbuat banyak. Sakit pada kakinya selalu menyiksa (bahkan tanpa henti). Di saat menghadapi penderitaannya, ia menyaksikan kekuatan istrinya Anastasia Talu Tadi yang sangat "luar biasa". Sang istri dengan inner stength-nya mampu menyelesaikan semua pekerjaan yang sebelumnya Agust kira tak bakal bisa dikerjakan oleh istrinya sebab menyangkut urusan dengan orang luar dan yang lain menuntut kekuatan fisik.

Apa yang terjadi? Sang istri bahkan bisa melakukannya lebih baik dari dirinya. Sementara itu sang istri tetap merawatnya dengan sepenuh hati dan cinta. Sice, demikian sapaan sang istri yang telah memberinya 3 putri itu berusaha menumbuhkan kepercayaan diri Agust. Dan benar saja, meski dalam keadaan sakit, Agust berusaha tampil di depan umum sebagai pemandu acara dalam berbagai event di Kota Waingapu, Sumba Timur, NTT. Sekadar informasi, Agust adalah MC terbaik di Sumba bahkan mungkin di NTT. Dengan dorongan istrinya, kepercayaan diri Agust lekas pulih. Di samping itu dia bisa memperoleh tambahan dana untuk membiayai keluarganya.

Bagi Agust, istrinya adalah pahlawan dalam hidupnya yang "tidak sempurna" lagi. Dia melihat istrinya sebagai wanita pemberani. Berani menghadapi berbagai tantangan hidup. Tak sudi menyerah! Dari kesimpulan inilah ia menulis novel tersebut. Jadi Sang Perempuan Bermata Saga itu adalah istrinya sendiri. Agust mengumpulkan energi yang masih tersisa ungtuk merangkai kata meramu kisah yang kemudian menjadi novel tersebut.

Suatu ketika ia pernah mengatakan, cinta istrinya telah menyembuhkannya. Selain itu, Agust meyakini, menulis merupakan terapi yang ikut menyembuhkan atau meringankan penderitaannya. Beberapa bulan lalu, berdasarkan pemeriksaan dari seorang dokter ahli ortopedi dari Australia, Agust dinyatakan telah sembuh dari infeksi tulang yang sempat meniksanya. Berita gembira ini memberi harapan hidup lebih panjang bagi tenor andal ini. Tahun lalu seorang dokter ahli ortopedi di Bekasi memvonisnya menderita infeksi tulang. Ia bahkan dianjurkan untuk menjalani operasi lanjutan.

Karena tak punya dana Agust memilih pulang ke Sumba. Di sana dia hanya mengonsumsi ramuan suplemen kesehatan sambil berdoa mendapat mukjizat dari Tuhan. Kompasiana melalui kebaikan Pak Hardja, Bu Soyo dan kompasianer yang lain sempat menggalang dana untuk upaya operasi lanjutan Agust. Terima kasih untuk kepedulian ini.

Atas penghargaan tersebut, Agust mengaku sangat terharu. "Tuhan memberi saya penghargaan di saat saya begini, namun saya sangat bersyukur. Terima kasih juga untuk Panitia dan juri yang memilih saya. Saya yakin, saya bukanlah yang terbaik di NTT. Masih banyak orang lain yang lebih baik. Saya akan terus melakukan yang terbaik di tengah keadaan yang kerap dianggap sebagai keterbatasan," kata alumni Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Sanata Dharma (sekarang universitas) Yogyakarta ini.

Lebih lanjut tambah Agust, ia sangat mengapresiasi upaya keras panitia menyelenggarakan acara tahunan tersebut. "Semestinya begitulah kaum intelektual harus mengadakan kegiatan intelektual. Saya yakin akan muncul orang-orang muda yang lebih cerdas, dan baik dari kami yang menerima ini," ungkap Agust melalui sambungan telepon.

***

Selain kategori SASTRA, ada juga kategori lain. Kategori Bidang Sains dan Inovasi Keteknikan diraih Maria Loretha, Pemburu Benih Sorgum Flores. Kategori Entrepreneurship/kewirausahaan diraih dr. Bobby Koamesah, dalam usaha peternakan babi di Oenesu yang juga memberdayakan masyarakat sekitar dan pembangunan pabrik pakan babi di Kupang. Ada juga John Ndolo dari Rote Ndao yang meraih penghargaan di bidang Kategori II : Inovasi Pembangunan.

Para penerima penghargaan usai penyerahan NTT AA. Foto dokumen panitia
NTT Academia Award 2011 tersebut digeser pelaksanaannya pada 14 Januari 2012. Hal ini terjadi karena kendala teknis yang tidak bisa dihindari panitia. Apa kendala teknis itu? Terutama masalah dana, di samping masalah lain! Hingga tahun kelima, Panitia masih mengandalkan swadaya anggota yang seluruhnya adalah intelektual NTT yang tersebar di seluruh dunia. Mereka terhubung oleh bantuan mailing list dan grup face book. Para anggota yang memiliki rezeki "lebih" menyumbangkan uangnya ke kas panitia. Ada juga usaha panitia yang lain, yakni menjual kaos yang keuntungannya dimasukkan semua ke kas panitia.

Panitia benar-benar bekerja secara sukarela, bahkan mengorbankan tenaga, pikiran dan dana pribadi. Semua ini dimaksudkan agar ikut membangun dunia dari NTT. "Membangun Dunia dari NTT" begitu teman acara yang digelar di gedung Museum, Kupang, NTT.

"NTT Academia Award" adalah penghargaan tahunan yang hendak dicitrakan dan dimaknai sebagai penghargaan prestasi akademik tertinggi yang dicapai oleh para academia NTT. Analogi sederhananya adalah NTT Academia Award adalah penghargaan tahunan "Nobel" alternatif bidang pendidikan tinggi level Provinsi NTT

Hadir dalam penyerahan NTT Academia Award kali ini adalah para seniman yang tergabung dalam Rumah Poetika dan ANBI (Anak NTT Bermusik Indipenden), aktivis ornop, akademisi di NTT dan para tokoh agama.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/16/agust-dapa-loka-raih-ntt-academia-award-kategori-sastra/ 



Baca juga link ini

Pelopor Bank Benih Raih NTT Academia Award 2011

sergapntt.com [KUPANG] – Maria Loretha, seorang perempuan asal Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berprofesi sebagai petani meraih penghargaan NTT Academia Award 2011. Ia dinobatkan masuk kategori sains/basic science/engineering karena mampu mempelopori hadirnya bank benih untuk memenuhi kebutuhan benih para kelompok tani di Adonara, seperti benih Sorgum, Jelai, Padi Hitam, Wijen, dan lain sebagainya.

Penyerahan NTT Academia Award 2011 sendiri dilakukan pada Sabtu, 14 Januari 2011, di Kupang, bertempat di gedung Museum Daerah Kupang, NTT.

Selain pelopori bank benih, Loretha juga aktif mengolah pangan lokal menjadi pangan ringan kering. Ia mengolah jagung pulut menjadi kripik, pisang menjadi pisang sale, kue kering dari tepung sorgum, chips ikan, dll. Semua makanan ringan kering ini hanya diproduksi pada saat musim panas, dengan mengandalkan panas matahari.

Selain Loretha, NTT Academia Ward 2011 juga diraih Jhon Ndolu, Ketua Forum Komunikasi Tokoh Adat Peduli Budaya Rote Ndao dengan kategori Pembangunan/ pertanian/peternakan/perikanan/ perkebunan. Jhon berperan penting mempopulerkan Tu’u Pendidikan alias arisan Pendidikan di Kabupaten Rote Ndao. John mencetuskan Tu’u pendidikan karena ia melihat ’ongkos adat’ dalam masyarakat Rote telah menjadi jerat persoalan tersendiri.

Sementara kategori Humaniora/Sastra disabet Agus Dapa Loka, Penulis Novel Perempuan Bermata Saga. Ia adalah Guru Bahasa Indonesia di SMA, dan kisah dalam novel ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan perempuan-perempuan perkasa yang merelakan kakinya diamputasi.

Sedangkan kategori Enterpreneurship diraih Bobby Koamesah, seorang dokter (Manusia) yang memiliki hobby beternak babi. Ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki ‘dikawinkan” dengan kesenangan dan keinginan berwirausaha membangun NTT, dengan menghabiskan waktu luang, terutama di sore hari dengan mengurus Peternakan dan Pabrik Pakan.

dr. Bobby Koamesah saat ini juga sebagai Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana. Ia optimisme bakal mengangkat kemakmuran rakyat NTT melalui usaha yang dilakukan saat ini. Setidaknya punya harapan mengembalikan NTT sebagai propinsi ternak.

Selain menerima piagam NTT Academia Award 2011, para pemenang juga diberikan suntikan uang sebesar Rp5 juta.

“NTT Academia Award” adalah penghargaan tahunan yang hendak dicitrakan dan dimaknai sebagai penghargaan prestasi akademik tertinggi yang dicapai oleh para academia NTT. Analogi sederhananya adalah NTT Academia Award adalah penghargaan tahunan “Nobel” alternatif bidang pendidikan tinggi level Provinsi NTT

Hadir dalam penyerahan NTT Academia Award kali ini, para seniman yang tergabung dalam Rumah Poetika dan ANBI (Anak NTT Bermusik Indipenden), aktivis ornop, akademisi di NTT dan para tokoh agama di Kupang.

Tentang NTT Academia Award 2011, menurut Candra Dethan, Ketua Panitia NTT Academia Award 2011, kegiatan memberikan NTT Academia Award ini merupakan usaha untuk tetap mempertahankan jati diri manusia NTT yang senantiasa berjuang meskipun ada dalam kesulitan hidup.

Menurutnya maraknya bantuan yang dialamatkan kepada warga di NTT yang di-indetikan dengan kemiskinan, memiliki peluang untuk menghilangkan etos kerja keras yang dimiliki Orang NTT. NTT

Academia Award merupakan momen hidup untuk merayakan warga NTT yang berprestasi. “Orang NTT adalah manusia pejuang, kita harus berusaha dan terus berusaha, karena itu lah jati diri kita.

Salah seorang musisi NTT, Ivan Bartels yang juga turut hadir dalam acara pemberian NTT Academia Award 2011 mengatakan, “Idenya keren, kegiatan semacam ini merangsang masyarakat untuk berbuat lebih, dan penting penghargaan buat orang-orang yang berjasa besar bagi NTT serta dengan hal ini pemerintah hrs mulai membuka mata dan lebih peka agar ke depannya jangan sampai orang-orang berpotensi di NTT pergi ke luar daerah karena merasa tidak punya tempat berkarya di rumah sendiri”.

Sumber: http://www.sergapntt.com/2012/01/pelopor-bank-benih-asal-flores-timur.html

Ibu Rumah Tangga Raih NTT Academia Award 2011

Penerima NTT AA 2011 (foto Edy Royanto)
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Maria Loretha, seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Flores Timur (Flotim) berhasil meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori I, Bidang Sains dan Inovasi keteknikan.

Selain Loretha, masih ada tiga orang lainnya yakni John Ndolu, Agus Dapaloka dan Bobby Koamesah yang juga meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori berbeda.

Loritha yang adalah seorang petani oleh tim juri dinilai berhasil di bidang sains dan inovasi keteknikan atas usahanya membudidayakan sorgum, jelai, jewawut, padi hitam dan wijen. Dia pun mengolah pangan lokal menjadi panganan ringan kering.

Maria Loretha terima trofi dari Leo Nahak
John Ndolu adalah fasilitator pengembangan di WVI. Dia terpilih sebagai penerima NTT Academia Award untuk kategori Inovasi Pembangunan berkas gagasan dan tindaknnya dalam hal revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pesta pora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak).

Agus Dapaloka adalah seorang guru bahasa dan sastra Indonesia pada SMAK Andaluri, Waingapu. Agus meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori Humaniora dan inovasi sosial budaya atas karyanya mengubah pola pikir terhadap wanita melalui sebuah buku novelnya yang berjudul “Perempuan itu Bermata Saga”.
John Ndolu (kiri)

Sedangkan Bobby Koamesah adalah seorang dokter dan dosen Fakultas kedokteran Undana Kupang yang punya hobi beternak babi berhasil meraih pengghargaan untuk kategori Enterpreneurship/kewirausahaan. Dokter Boby berhasil mengembangkan bibit babi unggul dan pakan ternak murah tapi berkualitas.

Penyerahan hadiah dan penghargaan kepada empat pemenang berlangsung di Aula Museum Daerah NTT di Kupang, Sabtu (14/01/2011). Turut hadir pada acara penganugerahan ini adalah salah satu anggota DPR RI, Farry Djemi Francis yang juga merupakan anggota FAN NTT.

Para pemenang NTT Academia Award 2011 mendapatkan pengghargaan berupa piagam, trofi dan uang tunai yang diserahkan Kepala Museum NTT, Leonardus Nahak, panitia dan juga anggota DPR RI, Farry Djemi Francis.

Dari FAN yang diwakili salah satu anggotanya, Fary Francis dalam sambutannya mengatakan, malam penganugerahan kali ini merupakan suatu hal yang luar biasa berbeda dengan tahun sebelumnya karena para pemenang tidak pernah diketahui oleh panitia maupun anggota FAN NTT.

Tahun ini katanya, acaranya lebih istimewa. Dia mempertanyakan mengapa tidak ada satupun perwakilan dari pemerintah baik pemerintah kota Kupang maupun propinsi NTT. “Panitia undang (pemerintah) atau tidak?” lalu dijawab oleh panitia bahwa telah mengundang pemerintah untuk hadir dalam kegiatan malam itu namun tidak ada satupun perwakilan pemerintah yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap karya-karya anak Floamora.

“Sangat disayangkan kalau pemerintah setempat tidak ada perhatian terhadap karya-karya anak negeri seperti ini,” katanya kepada Pos Kupang usai acara malam itu. Farry berharap agar dengan penganugerahan penghargaan ini, semakin banyak orang NTT yang berusaha berbuat demi orang banyak.

Sementara Kepala UPT Museum NTT, Leonardus Nahak mengatakan orang NTT harus bangga menjadi orang NTT, banyak hal yang bisa dilakukan atau dibuat untuk NTT asalkan bekerja dengan hati.

Ketua Panitia kegiatan, Candra K Dethan mengatakan, FAN telah selama lima tahun berturut-turut membuat kegiatan serupa dengan mememilih orang-orang yang sudah berbuat banyak bagi perubahan masyarakat tapi belum diperhatikan pemerintah. “Dan di tahun 2011, panitia melalui dewan juri independen telah menetapkan empat tokoh yang telah berbuat lebih untuk NTT dan dunia,” katanya.

Penganugerahan Academia Award 2011 ini diawali dengan diskusi publik bertema refleksi empat pilar kebangsaan yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika dengan narasumber Beny Tukan. (gg)


Komentar mereka
1. MARIA LORETHA : sehari-hari bekerja sebagai petani. Petani budidaya sorgum, jelai, jewawut, padi hitam, wijen. Dan mengolah pangan lokal menjadi panganan ringan kering contoh: jagung pulut menjadi criping jagung pulut, pisang menjadi pisang sale, kue kering dari tepung sorgum, chips ikan, dan lain-lain. Semua makanan ringan kering ini hanya diproduksi saat musim panas. Karena membutuhkan tenaga surya matahari. Sementara budidaya benih lokal hanya terpusat di kebun saya sebagai pusat BANK BENIH. Penyebaran hanya pada kelompok tani-kelompok tani (poktan) yg membutuhkn, ada kesadaran diri pribadi untuk mengembangkan dan melestarikan. Saya diundang poktan dulu baru saya datang bagi benih.
Jagung solo atau watabolong atau lepang atau sorgum bukan makanan kelas dua. Dia sengaja dilupakan dan ditinggalkan padahal dari segi gizi jauh di atas beras. Sebagai orang NTT saya bangga dengan kekayaan sumber pangan NTT yang sangat beragam. Kepada pemerintah, NGO dan seluruh masyarakat NTT, mari dukung perempuan penghasil pangan.

2. JOHN NDOLU : Saya bekerja selama 24 tahun tiga bulan di WVI sebagai Fasilitator Pengembangan. Dan kebetulan mendapat penghargaan dan Jaminan hidup dari Ashoka maka saya mundur dari WVI karena tidak boleh menerima gaji dobel. Maka sekarang saya melayani masyarakSat sambil bertani.
Saya melakukan revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pesta pora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak) Mengapa harus tu’u pendidikan? Karena pendidikan merupakan investasi pembangunan bangsa.

3. AGUS DAPALOKA: “Perempuan itu Bermata Saga” adalah sebuah novel yang berkisah tentang cinta seorang wanita. Wanita yang selama ini dipandang sebagai lemah dan selalu kalah dari laki-laki. Pandangan itu begitu keliru sebab telah ternyata bahwa dengan cinta dan sentuhan kelembutannya, wanita menunjukkan kekuatan yang dasyat. Tidak mudah seorang wanita menerima resiko “Tetap teguh mencintai” saat sebuah perubahan pada apa yang dicintai begitu menawarkan ketakutan. Cara berpikir terhadap wanita harus diubah dan berhenti meremehkan wanita.

4. DR. BOBBY KOAMESAH : Inti bisnis peternakan babi. Produksi bibit babi unggul, produksi pakan ternak murah dengan kandungan bahan lokal 2012 mulai produksi pakan. Pengembangan peternak dengan bantuan bibit, pakan, bantuan teknis dan manajemen dengan satu keluarga lima ekor, dapat meningkatkan penghasilan Rp 1 juta perbulan untuk peternak. Saat ini produksi 1.000 sampai 2.000 ekor bibit per tahun. Sedangkan produksi pakan berkualitas dua sampai lima ton setiap hari.



Penerima Tahun Sebelumnya


Tahun     2007:  Kusa Bill Nope, MT, Dosen Poltek Kupang, kategori sains dan keteknikan menyuling air laut menjadi air tawar dan tim robotika “PNK Smart Furute, mahasiswa politeknik Kupang. Tim Pelajar SMUN 2 Kupang    Dengan paper berjudul “pengaruh pembuatan kapur terhadap peningkatan kerusakan terumbu karang” dalam munas Terumbu karang coremap II di Jakarta 10/09/2007.

Tahun 2008: Siprianus Paulus Dawan    Mahasiswa FST Undana, karena temuan pada tahun 2007 berupa kolektor gerak surya memberi solusi mengatasi kekurngan air di daerah pesisir pantai NTT. et Malelak    Inovasi pembangunan (Dusun Uel, Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur) berswasembada jagung bahkan surplus jagung. Yovita Meta Bastian    atas karyanya menduniakan tenun ikat NTT, khususnya dari TTU.


Tahun 2009: Sr. Dr. Susi Susilawati    Penelitian tentang pengelolaan air hujan untuk pertanian di daerah kering dan pulau-pulau kecil (pulau sabu raijua). Yie Gae Tjie    Pengusaha aneka kerajinan Flores dan seorang motivator dan inspirator bagi masyarakat Kota Maumere.

Tahun 2010: Aliansi Masyarakat Motor Peduli ternak (Geng Motor IMuT)    Inovator teknologi terapan dengan memamfaatkan limbah ternak dan limbah industry rumah tangga menjadi biogas.    Pdt. Sefnat Sailana, S.Th    Motivator pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya air di Desa Apui, Alor. Pater Robert Ramone, CSsR    Melestarikan dan menduniakan kekayaan alam dan budaya sumba via lensa kamera.

Sumber: Pos Kupang.Com, Minggu 15 Januari 2012

Bawa Mimbar ke Mana-mana

Sefnat Sailana
Oleh Alfred Dama

BERPENAMPILAN sederhana namun berwawasan luas. Itulah Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Pria kelahiran Alor ini sehari-sehari berkarya sebagai pelayan di Jemaat Ebenhaezer Apui, Kecamatan Alor Tengah Selatan- Kabupaten Alor.

Pdt. Sefnat merupakan salah satu dari banyak mutiara- mutiara di bumi Flobamora yang melakukan kegiatan besar namun luput dari perhatian banyak orang, termasuk pemerintah.

Sejak 11 tahun silam, Sefnat telah mendedikasin diri kepada umat, bukan hanya sebagai pendeta tetapi juga mensejahterakan masyarakat melalui upaya penyelamatan hutan. Dedikasinya dalam hal penyelamatan lingkungan inilah yang membuatnya Forum Acedemia Nusa Tenggara Timur (FAN) memberikan Academia Award 2010 kategori Inovasi Pembangunan kepada Pdt. Sefnat. Ia dipandang berjasa dan berdedikasi tanpa pamrih dalam membangun lingkungan di Apui.

Pdt. Sefnat, lulusan Fakultas Theologia Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang ini, mengisahkan, berkarya dalam bidang lingkungan hidup sudah menjadi pergumulannya sejak 11 tahun mengabdi di Apui. Keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan dimana-mana membuatnya terpanggil untuk melakukan sesuatu.


Bersama-sama jemaatnya dan warga desa umumnya, mereka menjalankan manajemen pengelolaan dan distribusi air minum di Desa Apui. Dimulai dari membuat lubang-lubang resapan air sampai menjalankan manajemen pengelolaan air minum desa yang sampai saat ini masih berjalan.

Pekerjaan tetap sebagai pendeta bukan menjadi penghalang bagi upaya menyelamatkan lingkungan.

Ia bagai membawa mimbar kemana-mana untuk mengajak masyarakat menanam dan menanam untuk menghijaukan lingkungan. Bukanlah mimbar sentris, tetapi mimbar untuk mengajak masyarakat mencintai dan menghargai ciptaan Tuhan berupa menanam dan melindungi hutan.

Ajaran dalam Alkitab tidak sekadar diucapkan tetapi diwujudnyatakan dalam aksi nyata sehari-hari. Sebagai Ketua Klasis di Kecamatan Alor Tengah Selatan, Pdt. Sefnat memiliki program kerja bagi gereja-gereja yang berada dalam Klasis Alor Tengah Selatan. "Ini berangkat dari keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan hidup yang terjadi dimana-mana," jelasnya.

Aksi itu dimulai dengan memrogramkan setiap gereja memiliki hutan jemaat. "Setiap gereja memiliki hutan jemaat karena saya berpikir, gereja juga harus punya andil dalam merehabilitasi kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan karena tebang pohon untuk pembangunan," jelasnya.

Lahan-lahan kritis mulai ditanami, dijadikan hutan jemaat. Jebakan-jebakan air dan sumur resapan dibuat dan lingkungan ou menjadi hijau. Pohon di hutan tak lagi ditebang.

Ide untuk membuat sumur resapan dan jebakan air ini didapat setelah membaca sebuah majalah dan bacaan itu pun diplikasikannya. "Saya baca dari majalah dan kemudian diprogramkan di tingkat klasis," jelasnya.

Selama ini, katanya, masyarakat kurang peduli pada berkat Tuhan berupa air hujan. Air hujan yang turun ke bumi langsung mengalir masuk laut. Dengan mengembangkan sumur resapan, maka air hujan "ditahan" untuk menjadi cadangan air. "Ada kendala, dimana kadang ada kesulitan menyakinkan dan mengajak warga menanam dan membuat sumur resapan. Warga berpikir instan, hari ini kerja besok rasakan manfaatnya. Mestinya harus berpikir jangka panjang," urainya.

Pdt. Sefnat juga aktif memotivasi jemaat untuk menjaga sumber-sumber air dengan melakukan mengadakan ibadah pada setiap Hari Air. "Bertepatan dengan Hari Air Internasional, kita bikin ibadah pada sumber-sumber air. Juga melaukan kegiatan penanaman pohon," jelasnya.

Pendeta Sefnat juga menggelar doa melarang penebangan hutan secara sembarangan sehingga daerah-daerah tangkapan air terpelihara. Ada masyarakat yang membangkang namun dengan pola pendekatan pastoral, kebiasaan masyarakat yang suka menebang hutan ini akhirnya berkurang. Ada pula kebaktian padang dimana jemaat dilarang membakar padang.

Pdt Sefnat juga mencintai keindahan. Ia menyarankan masyarakat selalu menanam bunga di halaman rumah. Dia bahkan sempat dicap menyebar ajaran sesat karena berbagai aksi nyatanya itu. Namun anggapan atau tuduhan itu hilang dengan sendirinya begitu orang melihat hasil nyata yang diperoleh.

Dia juga melarang umatnya membeli pohon natal. Sebagai gantinya dirancang anakan pohon hidup sebagai pohon natal.

"Yang menjadi komitmen kami di sana adalah bagaimana membawa mimbar ke tengah-tengah alam atau tempat kerja," jelasnya.

Ada filosofi nenek moyang yang diajarkan kembali pada jemaat bahwa kita harus mencintai pohon. Pohon ibarat orangtua yang semestinya dijaga dan dilindungi. Sebab, pohon-pohon itu pula yang akan melindungi kehidupan dengan menyediakan air. Alam pun harus dilihat sebagai orangtua, sebab dengan demikian maka alam akan memberikan apa yang dibutuhkan.

Berkat kerja keras Pdt Sefnat bersama masyarakat maka di Apui, kini, bagi mereka yang ingin menebang satu pohon, mereka harus menanam lima pohon. Jika ada yang menebang pohon sembarangan, maka akan dikenakan sanksi harus menanam seratus anakan pohon baru. Semua itu disepakati dalam persidangan jemaat dan masih berjalan sampai sekarang.

Kini setiap gereja memiliki hutan jemaat. Di jemaat Ebenhaezer Apui, setiap tahun diadakan kebaktian khusus untuk mencegah kebakaran hutan dan penggunaan potas, kebaktian pelarangan perusakan kolam air, kebaktian syukur atas hujan pertama, kebaktian perayaan hari lingkungan hidup, Hari Bumi dan Hari Air Sedunia dalam liturgi tahunan gereja. *

Data Diri:
Nama : Pdt. Sefnat Sailana, S.Th
Pekerjaan : Pendeta Jemaat Ebenhaezer Apui,
Ketua KPWK Alor Tengah Selatan
Asal : Desa Apui, Kel. Keilasi Timur, Kec. Alor Selatan

Sumber: Pos Kupang, 21 Desember 2010 halaman 1

Mewarta Lewat Fotografi

Robert Ramone
Oleh Alfons Nedabang

ADAKAH korelasi antara rohaniwan dan fotografi? Pater Robert Ramone, CSsR membuktikannya. "Saya mewartakan injil dengan mengabadikan keindahan dan keagungan Tuhan lewat fotografi."

Robert Ramone adalah rohaniwan Katholik dari kongregasi (ordo) Redemptoris. Bukan fotografer. Meski demikian, dalam kesehariannya ia sering bekerja layaknya seorang fotografer. Menyusuri Pulau Sumba khususnya dan berkeliling Indonesia, sudah ia lakukan. Tujuannya, menjepret aneka obyek wisata, baik budaya, alam maupun bahari.

"Ada yang bilang kenapa saya sebagai pastor suka menenteng kamera ke mana-mana. Saya katakan bahwa saya hanya merekam sedikit saja keindahan dan keagungan Tuhan lewat lensa kamera yang kecil," ujar Pater Robert dalam diskusi NTT Academia Award 2010 di ruang Redaksi Pos Kupang, Jumat (17/12/2010), sehari sebelum malam penganugerahan NTT Academia Award 2010.



Karya fotografinya membuatnya terkenal. Ia pun kerap meraih penghargaan. Penghargaan terkini yang diperoleh, yaitu menjadi pemenang NTT Academia Award 2010 kategori bidang humaniora, sastra dan inovasi sosial budaya dengan karya, melestarikan dan menduniakan kekayaan alam dan budaya Sumba. Jauh sebelumnya, Pater Robert mendapat penghargaan dari National Geographi.

Minat fotografi mulai ditekuni setelah ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1992. Berbekal sebuah kamera hadiah sepupunya pada saat pentahbisan, Pater Robert mengembangkan bakatnya. Ia pun mulai menjepret. Dalam perjalanan, pada tahun 1994, ia memiliki kamera roll film.

"Sejak saat itu saya ambil gambar. Hasilnya saya senang. Gambar-gambar yang saya ambil ada yang umurnya sudah 16 tahun. Dan, pada tahun 2000, saya beralih ke kamera digital," ujarnya.

Pater Robert memiliki alasan menekuni dunia fotografi. Ketika masih menjadi mahasiswa Filsafat Teologi di Yogyakarta, ia bertemu banyak mahasiswa. Teman- temannya selalu bangga dengan budayanya. Ada yang memperlihatkan kartu pos dengan gambar budayanya. Pada tahun 2003, dia mencari kartu pos dengan gambar budaya Sumba, namun tidak ditemukannya. Dia lalu terinspirasi. Dia mendesain kartu pos sendiri dengan gambar-gambar budaya Sumba. Lewat kartu pos itu, ia kemudian dikenal di Jerman dan Belanda.

Pater Robert menuturkan, pada tahun 2004, ada mahasiswa fotografi di New Nork datang ke Sumba. "Saya terkejut karena dia mencari saya. Saya tanya, mengapa datang ke sini (Sumba)? Dia jawab, saya tertarik dengan Anda karena terlibat dalam pameran foto meski tidak melakukan studi fotografi," kisah Pater Robert.

Meski sudah terkenal lewat kartu pos, itu tidak membuat Pater Robert berhenti berkarya. Pada tahun 2006, ia mengadakan pameran foto di Balai Kartini, Jakarta.

"Ada tawaran pameran foto di Kantor Berita ANTARA tapi saya tidak terlibat karena keterbatasan dana. Ada tawaran juga ikut pameran di Bali tapi saya tidak ikut karena keterbatasan dana. Saya bicara dengan pemda tentang pemeran foto tapi tanggapan pemda saya kecewa sekali karena tidak tahu foto," tutur Pater Robert sembari menambahkan, sampai sekarang, ia bergerak sendiri tanpa ada bantuan satu sen pun dari pemda.

Pater Robert juga menulis buku tentang kebudayaan Sumba, seperti pasola dan acara pemakaman orang mati. Buku setebal 208 halaman itu, lebih banyak memuat hasil jepretan kameranya. Buku tersebut ia tulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, diterbitkan di Belanda dan akan diluncurkan Januari 2011.

Pater Robert juga mengatakan, sekarang ia sedang mewujudkan mimpinya, yaitu membangun pusat studi pelestarian budaya Sumba. Proyek pembangunan rumah budaya dengan anggaran Rp 1,5 miliar itu pengerjaannya sudah sampai 80 persen. Menurut rencana diresmikan pada Juli 2011. Pembangunan rumah budaya dibiayai seorang donatur dari Papua yang ia kenal lewat pameran foto. Donatur itu menyumbang dana Rp 1,2 miliar.

"Mengapa saya mendirikan rumah budaya? Karena, saya mau melestarikan budaya lokal, agar orang Sumba bangga dengan kebudayaannya," katanya.

Dalam mewujudkan mimpinya, Pater Robert kerap mendapat tantangan. Tantangan datang dari pemerintah daerah dan sesama rohaniwan. Terkait mendirikan lembaga studi, ia membutuhkan waktu empat tahun untuk mendapat restu dari pimpinan dan anggota kongregasi. 

"Sekarang karena sudah berhasil, tidak ada lagi yang mengolok saya. Saya berkesimpulan orang mudah mengkritik kita kalau belum melihat hasilnya. Saya senang karena tidak ada yang megolok-olok lagi," ujarnya. *


BIODATA

- Nama: Pater Robert Ramone, CSsR
- Tempat/tanggal lahir: Kodi, Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962.
- Tahun 1985: Bergabung dengan Kongregasi Redemptoris.
- Tahun 1985-1992: Studi Filsafat dan Teologi pada Fakultas Teologi Wedhabakti- Yogyakarta.
- Tahun 1992: Ditahbiskan menjadi imam. Setelah ditahbiskan, bekerja sebagai pastor kapelan di Paroki Santa Maria Homba Karipit.
- Tahun 1993-1994: Bekerja di Paroki Roh Kudus Weetebula.
- Tahun 1994-1996: Socius Student Wisma Sang Penebus dan merangkap sebagai pastor di Stasi Santo Alfonsus Nandan-Yogyakarta.
- Tahun 1996-2001: Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak.
- Kini bekerja di Rumah Retret Santo Alfonsus Weetebula.

Sumber: Pos Kupang, 22 Desember 2010 halaman 1

Tapaleuk Urus Ternak

Noverius Nggili
Oleh Alfons Nedabang

MENJADI pemenang NTT Academia Award 2010 kategori bidang Sains dan Inovasi Keteknikan tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Geng Motor iMuT. Makanya, ketika diinformasikan panitia, pengurus Geng Motor iMut merasa kaget tidak percaya. Setelah diyakini, rasa syukur pun dipanjatkan.

"Kami kaget setelah mendapat informasi. Sekitar dua jam lalu, saya dikontak Winston (Winston Rondo, Red) untuk datang di Pos Kupang. Saya pikir kita bagi ilmu biasa saja. Ternyata ada nuansa lain. Kami bersyukur," ujar Koordinator Geng Motor iMuT, Noverius Ngili, dalam diskusi NTT Academia Award 2010 bertajuk Inovasi Bagi Dunia di ruang Redaksi Pos Kupang, Jumat (17/12/2010) petang, sehari sebelum malam penganugerahan NTT Academia Award 2010.


Bagi kebanyakan orang, Geng Motor iMuT bisa dipersepsikan negatif. Identik dengan geng motor yang kerjanya ugal-ugalan di jalan raya. Namun, sesungguhnya Geng Motor iMuT tidaklah demikian. Geng Motor iMuT adalah komunitas sarjana peternakan yang peduli terhadap peternakan di NTT. Kata 'iMuT' merupakan akronim dari Aliansi Masyarakat Peduli Ternak. "Kami secara sengaja menggunakan penggalan huruf dari aliansi masyarakat peduli ternak (iMuT) biar mudah tertanam dalam kepala orang (mudah diingat)," jelas Noverius.

Noverius menuturkan, Geng Motor iMuT terbentuk awal tahun 2005, diinisiasi beberapa alumni Fakultas Peternakan Undana Kupang. Cikal bakalnya, karena sebelumnya ada beberapa alumni Fakultas Peternakan Undana yang sering melakukan diskusi informal tentang hal-hal pertanian, lebih khusus masalah peternakan di NTT.

Ada beberapa pemikiran yang berkembang waktu itu, di antaranya NTT sebagai gudang ternak hanya tinggal nama. Ada ribuan sarjana peternakan, tetapi sangat berbanding terbalik dengan kondisi usaha peternakan di NTT. Dalam beberapa penelitian kecil, kelompok diskusi menemukan sejumlah sarjana peternakan bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmunya. Sebagian besar sudah tidak mengingat ilmu peternakan. Bahkan, ada yang sudah lupa judul skripsinya. Sementara itu, masih banyak calon sarjana peternakan. Lebih memilukan lagi, Fakultas Peternakan Undana sebagai fakultas pertama yang dibentuk Undana, saat ini kondisinya sangat memrihatinkan.

Anggota diskusi juga mengamati, sebagian besar lembaga non pemerintah yang ada di NTT memfokuskan kerjanya pada kulit luar peningkatan kapasitas petani-peternakan, atau hanya pada respon-respons dinamika sosial dan atau kegiatan emergensi respon semata. Padahal, pertanian-peternakan merupakan penopang hidup utama bagi warga NTT. Bagaimana rantai manajemen produksi, mulai saprodi, pengupayaannya, pasca panen berupa pemasaran dan pengolahan limbah sering terlupakan oleh pihak-pihak yang berwenang. Kalaupun ada hanya sebatas masa proyek saja, selebihnya tidak ada monitoring dan pendampingan lanjutan.

Berangkat dari kondisi-kondisi di atas, anggota diskusi yang adalah alumni peternakan Undana mencari sebuah formula baru agar ilmu peternakan yang dimiliki sarjana peternakan tidak sampai pudar termakan waktu. Maka, lahirlah komunitas pemerhati masalah pertanian peternakan yang dikenal dengan nama Geng Motor iMuT pada tahun 2007. "Ekstraksi kapasitas anggota pada masalah pertanian-peternakan sering dilakukan pada waktu senggang atau libur dengan cara bermotor ke kampung-kampung, terutama di Timor Barat," ujar Noverius Ngili.

Geng Motor iMuT memiliki 50 anggota aktif, dengan 30 motor pribadi. Sementara anggota pasif sebagai kawan diskusi di facebook group dan japri lewat telepon, SMS (short mesage service) serta email. Latar belakang pekerjaan anggota komunitas beragam. Ada PNS, pegawai bank, LSM, pegawai perusahaan dan kantor swasta.

Noverius mengatakan, Geng Motor iMuT memulai karya dengan terlebih dahulu melakukan visioning komunitas berbasis apresiative inquiry untuk menemukan target kerja dalam bentuk mimpi komunitas, menggali kekuatan komunitas, menentukan peta jalan perubahan dalam bentuk tahap prioritas agenda. 
Tapaleuk Urus Ternak. Demikian mantra sukses Geng Motor iMuT. Selain sebagai identitas, mantra itu juga sekaligus memotivasi anggota Geng Motor iMut untuk mencintai dan berkarya dalam bidang peternakan sesuai prioritas agenda kerja, walaupun sebagian dari anggota yang aktif bukan berprofesi sebagai peternak aktif.

Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan Geng Motor iMut, yaitu perakitan prototipe biogas portable dilanjutkan dengan pengisian bahan baku, perakitan kompor biogas dan 21 hari kemudian sudah menikmati biogas tersebut. Bahan baku biogas dari feces dua ekor babi dan dapat menyalakan kompor biogas selama 45 menit.

Kompor biogas dibuat dengan menghabiskan dana hanya Rp 4 juta, berbeda dengan yang kompor gas milik pemerintah karena biayanya mencapai Rp 50 juta. Kompor rakitan Geng Motor iMut menggunakan drum bekas dan kaleng bekas. "Kami langsung mengaplikasikan pembuatan dan pengoperasian degester, penampung biogas dan kompor biogas di Kelurahan Bakunase," katanya. 

Melakukan pelatihan manajemen peternakan, yakni pelatihan pembuatan blok suplemen pakan gula lontar untuk ternak sapi, pengenalan pakan lokal ternak babi yang bermutu dan pelatihan pembuatan pupuk bokashi semak bunga putih (Choromolaena odorata). Pembuatan biogas (degester dan kompor biogas), pembuatan kompor bio etanol dengan memanfaatkan sopi sebagai sumber energi. Selain itu, pembuatan pupuk bokhasi dan pupuk hijau.

Geng Motor iMuT juga merakit degester biogas, sebagai tawaran solusi terhadap persoalan penanganan limbah tahu tempe di Kelurahan Bakunase.

Apa yang sudah dibuat Geng Motor iMut dipilih untuk meraih penghargaan NTT Academia Award 2010. Selamat kepada Geng Motor iMuT. Teruslah berkreasi dan berinovasi. NTT menunggu inovator-inovator baru. *

Pos Kupang 20 Desember 2010 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes