Trafficking, Ngelem dan Kejahatan Seksual Anak

ilustrasi
Masih banyak anak Indonesia sedang menangis saat ini. Perayaan Hari Anak Nasional  menjadi pelipur lara, bak sapu tangan yang menyeka air mata anak Indonesia yang tengah menangis. Demikian Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait didamping Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pemprov Sulawesi Utara (Sulut) Mike Pangkong usai perayaan Hari Anak Nasional (HAN) di Kantor Gubernur Sulut di Manado, Selasa (23/7/2013)
.
"Sekalipun anak-anak Indonesia menangis dan lirih hatinya,  tetapi dengan perayaan di masing-masing provinsi, kita bersama menyiapkan sapu tangan menyeka air mata tangisan anak-anak," katanya kepada Tribun Manado. Komnas Perlindungan anak,  kata Sirait, mencatat banyak sekali kejadian menyayat hati anak-anak Indonesia, terutama kejahatan seksual, termasuk di Sulut.

"Pelanggaran hak anak justru dilakukan orang-orang terdekat anak. Anak sekarang ini tidak punya tempat yang nyaman. Tangisan anak  itulah yang direspon dengan kegiatan perayaan HAN. Anak-anak membutuhkan pertolongan kita semua. Refleksi hari anak memberikan yang terbaik bagi anak di Sulut," katanya.

Khusus di Sulut, Siarit memaparkan tiga masalah utama, yakni trafficking, konsumsi lem (ngelem) dan persetubuhan anak satu darah. "Ini jadi ancaman di Sulut. Banyak trafficking, ngelem, persetubuhan satu darah. Khusus ngelem ada kasus kena radang otak sampai meninggal dunia," katanya.

Paling rentan, kata Siarait, adalah trafficking atau perdagangan manusia. Komnas Perlindungan Anak mencatat ada tiga kantong daerah yang menjadi sasaran pelaku trafficking yakni Minsel, Minut dan Mitra  "Mereka berasal dari kantong kemiskinan, rentan terkena muslihat dan tipu daya dan sebagainya," kata dia.

Salah satu persoalan mendasar yang terungkap menurut Sirait adanya pemalsuan usia anak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dengan mencari kerja di luar daerah. Pemalsuan usia terjadi ketika meminta rekomendasi kepala desa

"Karena akta kelahiran tak ada, ada pemalsuan umur sehingga ada rekomendasi kepala desa untuk bekerja di luar. Itu salah satu faktor anak mudah ke luar Sulut. Alasannya dipekerjakan tetap, tapi justru menjadi korban trafficking, jadi  pekerja seks komersial," paparnya. Untuk mencegahnya,  kata Sirait,  harus ada akses memperoleh akta kelahiran dengan mudah.

Menurut dia, akar persoalantentu masalah kemiskinan, hingga solusinya
harus ada pemberdayaan di desa. "Trafficking harus dicegah di daerah asal. Apa penyebabnya ke luar dari desa, kan bisa terlihat di situ. Apakah karena kemiskinan, apa karena lapangan pekerjaan tidak ada? Atau diskriminasi dalam penanganan secara ekonomi itu yang saya lihat di sini," katanya. Solusi yang sekarang terjadi, lanjut Sirait,  hanya mencegat di bandara atau pelabuhan.

Menurut dia, selain Lampung, Sulsel dan NTB, Sulut masuk daerah rentan. Padahal di Sulut sejak beberapa tahun silam sudah ada Perda penanganan Trafficking. "Tapi Perda itu belum berjalan baik. Sudah ada perda menjerat para pelaku, tetap ini perlu penengakan hukum. Harus sinkron. Polisi kadang mengenakan 'kaca mata kuda' tidak mau repot," demikian Sirait.

Benteng Terdepan
Perayaan HAN di Ruang Mapalus Kantor Gubernur Sulut kemarin berlangsung meriah.  Anak-anak diberi panggung berkreasi lewat pertunjukan kesenian, bakat, dan talenta. Sekitar 1.000 anak Sulut ambil bagian. Mike Pangkong mengundang Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait hadir di tengah anak-anak Sulut.

Pada kesempatan itu Wakil Gubernur Sulut Djouhari Kansil memberikan penghargaan kepada anak berpestasi. Dalam sambutannya, Wagub mengatakan anak merupakan amanah dan karunia Sang Khalik. Penting untuk membangkitkan kesadaran lebih menggiatkan dua aspek utama dalam pembentukan karakter anak yakni perlindungan (protection) dan pemberdayaan (empowerment)  "Untuk itu anak-anak harus dijaga dan dilingdungi dari berbagai bentuk kejahatan, kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi," ujar Kansil.

Keluarga, kata Kansil, merupakan benteng terdepan dalam pergaulan dan pendidikan anak. "Pendidikan yang baik bagi anak-anak mulai dari dalam keluarga itu sendiri sehingga peran dan fungsi orangtua sangat mempengaruhi kehidupan masa depan dari anak itu sendiri," katanya Tata pergaulan, pendidikan dan lingkungan sosial juga ikut mempengaruhi tingkah laku anak mencari jati diri

Acara tersebut dihadiri wakil ketua Dharma Wanita Provinsi Sulut Ny  Mike Kansil  Tatengkeng,  Ketua DPRD Sulut, Bupati Minahasa, Bupati Bolmut, Bupati Sitaro, Wakil Bupati Bolmong, Wakil Bupati Bolsel, Kepala SKPD Provinsi Sulut dan undangan serta murid-murid SD, SMP dan SMA. (ryo)

Sumber: Tribun Manado 24 Juli 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes