Upacara Peh Cun di Manado

Seorang pria meletakkan sebutir telur di atas batu. Keanehan terjadi begitu ujung telur menyentuh permukaan batu.

TELUR berbentuk oval itu berdiri tegak dan lama, tidak menggelinding seperti bunyi hukum alam.  "Ini terjadi setiap tanggal lima bulan lima penanggalan Imlek," ujar Lorenso, seorang warga Tridharma. Meski akrab dengan pemandangan itu setiap tahun, namun ia tetap takjub. "Ini kejadian yang luar biasa," katanya.

Peristiwa itu terjadi pada Perayaan Peh Cun yang digelar puluhan Umat Tridharma Klenteng Kwan Kong di tepi pantai belakang Manado Town Square (Mantos), Sabtu (23/6/2012). Menurut Iswandi Santoso, salah seorang umat Tridharma, dalam perayaan ini digelar upacara sembahyang kepada Dewa Hae Liong Ong atau penguasa air.

"Sembahyang bermula di klenteng, kemudian lanjut di tepi pantai," tuturnya. Selain berdoa juga digelar berbagai acara yang telah mentradisi di kalangan umat Tridharma. Salah satunya mendirikan telur. "Tradisi lainnya adalah perahu naga, melepas persembahan sesaji di tengah laut, makan bakcang dan mandi tengah hari," jelasnya..

Untuk telur, ia menyatakan secara ilmiah dapat dijelaskan. Hari ini, posisi matahari berada sangat dekat dengan bumi. Kuatnya pengaruh gravitasi matahari terhadap bumi membuat telur dapat  berdiri sendiri. "Ini muncul oleh tarik-menarik antara bumi dan matahari," katanya. Dari kacamata Feng Shui, fenomena ini memiliki penjelasan sendiri. "Seorang yang lahir pada tanggal ini memiliki hoki luar biasa," ujar seorang warga Tridharma lainnya.

Keunikan lain dari perayaan tersebut adalah tradisi melepas persembahan di tengah laut. Untuk itu digunakan dua buah perahu berkepala naga yang terbuat dari stereoform. Di atas perahu ini terdapat berbagai sesaji berupa kue bak cang dan buah-buahan. Perahu dihias meriah dengan deretan bendera warna-warni pada kedua sisinya.

Setelah sembahyang, perahu berukuran 2 meter itu diarak menuju tepi pantai. Dari situ, perahu dinaikkan pada sebuah kapal untuk kemudian di lepas di tengah lautan. Biasanya beberapa warga Tridharma turut menceburkan diri bersama kapal itu. "Mereka mandi karena cuacanya sangat panas," ujar Iswandi.


Tradisi ini memiliki makna bagi umat Tridharma. Selain untuk Dewa, pemberian sesajen juga dimaksudkan untuk roh para leluhur yang telah meninggal di lautan. "Untuk itulah maka ada dua perahu" tuturnya. Tradisi tersebut digelar umat Tridharma di seluruh daerah. Untuk Manado, masing-masing klenteng yang ada juga menggelar tradisi tersebut.

Sementara Ekel menjelaskan, perayaan ini digelar untuk menghormati keberanian Qu Yuan, seorang menteri pada zaman dinasti Han "Karena alasan tertentu, ia melompat ke sungai tepat pada tanggal lima bulan lima," tuturnya. Warga yang sangat menghormati Qu Yuan, melemparkan makanan ke dalam sungai agar jasad sang menteri tak diganggu ikan atau binatang air lainnya. Makanan itu  bertransformasi menjadi bakcang, penganan khas Tionghoa berisi daging dibungkus daun. "Jajanan itu selalu disiapkan saat Peh Cun," tuturnya. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Mandao 24 Juni 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes