Ikan Raja Laut di Manado Makan Sampah

Ikan  Coelacanth
Ikan Raja Laut atau coelacanth di perairan Manado dalam kondisi miris. Hasil pembedahan menunjukkan ada aneka sampah plastik di dalam perut ikan purba tersebut.

Angelique Batuna,  aktivis lingkungan hidup sekaligus anggota Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken mengaku prihatin. Melalui emailnya, Senin (28/5/2012), ia mengirimkan foto ikan purba coelacanth yang ditangkap nelayan dan terlihat ada paparan sisa sampah. Angelique mengatakan ikan  di foto tersebut dikirim temannya Masamitsu Iwata, peneliti dari Marine Aquarium Fukushima, Jepang.

"Kata Masa, foto ini dari tahun lalu, dia baru kasih ke saya kemarin (Minggu, 27/5/2012). Ikan tersebut dipancing nelayan di Tetapaan dekat Wawontulap. Kalau sampai daerah sana saja masih ada sampah seperti ini sampai dimakan Raja Laut, bagaimana di Teluk Manado?" katanya.

Menurut Angelique habitat ikan ini ada di sepanjang Malalayang - Kalasey sampai perairan Amurang. Sekitar 5 tahun lalu peneliti dari Jepang sudah melakukan penelitian tentang Coelacanth Latimeria Menadoensis bekerjasama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Fakultas Kelautan Unsrat.

Selama ini peneliti telah memfilmkan coelacanth di Teluk Manado, sepanjang pesisir Malalayang - Kalasey. "Mereka juga punya footage segunung sampah plastik di kedalaman 200 meter di Malalayang pas di samping goa yang ada ikan coelacanth-nya," imbuh Angelique.

Ia menduga sampah plastik dimakan ikan ini. Coelacanth masuk daftar CITES Appendix 1 atau binatang yang paling dilindungi PBB karena keberadaannya dianggap hampir punah. "Bagaimana dengan reklamasi pantai Malalayang - Kalasey? Bagaimana dampaknya terhadap kehidupan ikan-ikan ini? Selamatkan Raja Laut, selamatkan habitatnya dari sampah dan reklamasi," tegasnya.

Prof Dr Alex Masengi, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan Unsrat yang menjadi koordinator penelitian tersebut, bekerjasama Fukushima Aquamarine Jepang, membedah Ikan Raja Laut yang ditemukan di Amurang Kamis (24/5) di laboratorium Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut.

"Hasil pembedahan Ikan Raja Laut ada sampah plastik di dalam perut, ada semacam kain-kain warna putih dan tisu dengan serat yang kenyal," kata Masengi. Fakta tersebut mencengangkan karena selama ini menurutnya coelacanth merupakan ikan jenis karnivora atau pemangsa ikan lain, namun karena laut yang terkontaminasi sampah plastik sehingga ikan ini berubah menjadi pemakan segala.

Dengan temuan ini pemerintah daerah harus segera membuat perubahan kebijakan, satu di antaranya membuat wilayah perlindungan laut. Wilayah laut yang ditengarai menjadi tempat bernaungnya ikan ini diberi tanda dan dibuat payung hukum untuk perlindungan bagi coelacanth. "Selain sampah,  ikan langka ini juga terancam karena tertangkap tak sengaja. Kita sudah survei sejak tahun 2004, sepanjang Teluk Manado hingga Amurang itu merupakan lokasi Ikan Raja Laut," jelasnya.

Selain itu perairan di dua pulau seperti Pulau Bangka dan Talise Kabupaten Minahasa Utara juga ditemukan tempat-tempat coelacanth. Masamitsu Iwata, peneliti dari Fukushima Aquamarine Jepang bahkan pernah merekam anak coelacanth yang lincah bergerak di perairan Talise. Masa menemukan ikan tersebut pada kedalaman 155 meter menggunakan wahana bawah laut tanpa awak (remotely operated vehicle/ROV) yang dipasang dengan kamera perekam video. Setelah penemuan tersebut bahkan Tribun Manado ikut dalam ekspedisi penelitian tersebut bersama Masa dan kru juga beberapa dosen Unsrat.

Penemuan ini diharapkan menjadi kajian pemerintah, apalagi di Pulau Bangka akan dilakukan eksploitasi tambang bijih besi. "Kalau jadi dilakukan penambangan harus diatur baik-baik jangan sampai penambangan bisa merusak habitat Ikan Raja Laut, lebih bagus tak ada penambangan," kata Masengi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulut, HTR Korah mengaku telah mengetahui hal ini dari stafnya. Ia mengatakan, penelitian tersebut membuktikan bahwa di laut banyak sampah plastik. DKP Sulut telah mengkampanyekan kebersihan, bahkan tiga kali setahun DKP mengadakan acara bersih laut.

Tentang wilayah laut yang perlu diberikan tanda untuk penyelamatan ikan ini masih dikoordinasikan, karena meliputi wilayah beberapa kabupaten kota.Wilayah lain yang juga habitat coelacanth di perairan Pulau Bangka juga menjadi perhatian. Menurutnya rencana tambang bijih besi di Pulau tersebut masih melewati proses panjang.  "Perusahaan tambang harus mengikuti aturan main berbagai instansi terkait, instansi terkait tentu tak akan dengan mudah meloloskannya, selain itu masih harus melibatkan masyarakat," ujarnya. (rob)

Sumber: Tribun Manado 29 Mei 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes