Nanang Gadaikan Mobil Avanza

ilustrasi
Menjelang tahun ajaran baru tahun  2012-2013  beban anggaran rumah tangga bertambah. Di tengah harga sembako yang terus melonjak,  para orangtua  kelabakan sehingga perlu menempuh beragam cara guna mendapatkan biaya pendidikan bagi anak-anak mereka.

Dari beragam opsi, banyak orangtua memilih menggadaikan barang berharga di Kantor Pegadaian. Selvi Sala, seorang ibu rumah tangga ketika di temui Tribun Manado, mengaku membawa berharga berupa gelang dan kalung emas untuk digadaikan. "Saya memang membawa gelang dan kalung emas," tuturnya saat ditemui di kantor Pegadaian Manado awal pekan ini.

Barang berharga itu digadaikan Selvi  demi memperoleh uang segar bagi biaya sekolah anaknya, Farhan. Saat ini, Farhan butuh biaya untuk masuk perguruan tinggi. "Saya butuh sekali uang itu," ujarnya. Hasil yang diperoleh Selvi lumayan. "Saya bisa bawa pulang empat juta (rupiah)," ujarnya. Diakuinya, menggadaikan barang berharga di pegadaian mudah dan aman. Hal itu sudah dia alami berulangkali. "Saya sering gadai di sini, biasanya barang mas," ujarnya.

Kemudahan dari pegadaian juga dikatakan Nanang. Warga Tuminting Manado ini menggadaikan mobil Avanza yang dia beli pada tahun 2009. Ditemui di Kantor Pegadaian, ia mengaku tengah menunggu uang. "Mobil itu saya gadai dua bulan lalu," tuturnya.

Menurut Nanang, hal itu sangat membantunya. Uang sebanyak Rp 70 juta dikantonginya. Selain untuk menambah modah usaha warung, sisanya dia simpan untuk anaknya yang akan masuk SMU dalam waktu dekat ini. "Sebagian uang saya sisihkan untuk biaya sekolah anak saya," kata Nanang.

Nanang menyiapkan biaya pendidikan sejak jauh hari. Ia tidak mau pengalaman buruk seorang keponakannya terulang. "Pernah saudara saya mengalami hal itu. Tanpa persiapan, ia kesulitan uang. Buntutnya anaknya terkatung-katung saat mau masuk sekolah," katanya.

Galau menimpa Sanny Malela, warga Maumbi, Mihasa Utara (Minut). Penerimaan siswa baru SMA makin dekat, sedangkan uang belum ada. Maklum, pria yang sehari-hari bekerja serabutan ini tidak memiliki penghasilan tetap. "Saya memiliki dua anak, satunya telah selesai," tuturnya.


Dalam kondisi terjepit, Sanny  Malela  menggadaikan sepeda motornya di pegadaian. BPKB sepeda motor Yamaha Vega itu dibawanya ke kantor Pegadaian di Manado. Beberapa hari kemudian, dia menerima uang hasil gadai. Meski begitu ia enggan merinci jumlahnya. "Yang pasti cukuplah," kata pria berkulit legam ini.
Marni lebih memilih pegadaian untuk mendapatkan uang ketimbang persiasannya dijual di pasar atau di toko emas. Jual merupakan opsi terakhir jika koleksi perhiasannya tidak utuh lagi. "Kalau perhiasan mending saya gadai daripada jual, kalau sudah dapat duit lagi bisa kita tebus kapan saja, tapi kalau belum bisa ganti surat ketika sudah masuk masa jatuh tempo," ungkapnya ketika ditemui di Toko Perhiasan kawasan Pasar 45 Manado, Minggu (24/6/2012).

Sama halnya dengan Ani yang mengaku menggadaikan perhiasan lebih baik ketimbang dijual.  Membeli perhiasan, kata Ani, merupakan cara investasi yang paling baik karena setiap tahun harganya pasti naik. Saat dia membutuhkan biaya tambahan, misalnya untuk anak sekolah, tinggal digadaikan saja.

Jalan lain ditempuh Saidi (57), warga Kalawat, Minut. Hari Senin (25/6) dia  mencuri HP seorang mahasiswi cantik bernama Floura Ukus untuk biaya kuliah anaknya. Kepergok, ia digelandang ke Polresta Manado. Di hadapan penyidik, Saidi mengaku nekat mencuri lantaran putrinya butuh uang untuk kuliah.  Dengan tersedu-sedu, ia minta dikasihani. Korban yang tak tega akhirnya membatalkan laporan polisi. Polisi pun hanya memberikan pembinaan bagi Saidi.

Masih Normal

Sementara itu hingga pertengahan pekan ini, karyawan Toko Perhiasan di Pasar 45 Manado mengatakan transaksi pembelian emas masih normal. Tak ada penurunan yang signifikan. "Normal, kalau yang lain lagi sibuk dengan menghadapi tahun ajaran baru, yang lainnya menutupi karena sedang panen cengkih. Hanya memang kalau dibandingkan masyarakat yang membeli emas lebih tinggi dibandingkan menjual kembali emasnya," ungkap seorang karyawan.

Harga emas berbeda-beda. Di Toko Perhiasan harga jualnya mencapai Rp 410 ribu sampai Rp 425 ribu per gram untuk emas perhiasan 23 karat. Tetapi di pesisir toko-toko kawasan Shoping Center hanya di kisaran Rp 400 ribu per gram. Berbeda dengan emas logam mulia 24 karat yang merupakan 99,99 emas murni, harganya lebih tinggi yakni mencapai Rp 540 ribu per gram. (art/nty/jhp)

Sumber: Tribun Manado 29 Juni 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes