Teror Kartu Kredit Menyadarkan Meilan

ilustrasi
Penggunaan kartu kredit  sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Meski demikian ada risiko yang harus ditanggung bila sang pengguna tidak cakap mengatur pemanfatannya sesuai kebutuhan. Ada yang keasyikan menggesek kartu kredit saat berbelanja  hingga melewati limit.

Demikian pendapat para pengguna kartu kredit yang diwawancarai Tribun Manado secara terpisah selama pekan silam. Umumnya para pengguna merasakan manfaat yang besar dengan menggunakan kartu kredit. Saat belanja tidak perlu repot membawa uang tunai.Tinggal gesek urusan beres.  Sarfia, salah seorang pengguna mengakui kartu kredit sangat membantu. Dia pun rutin membayar tagihan per bulan. "Dengan perhitungan matang, kartu kredit tidak menjadi beban," katanya.

Pernyataan serupa dikatakan Ireine Rumondor. Menurut irene  lebih efektif gunakan kartu kredit ketimbang uang tunai. "Apalagi saat kita di luar negeri. Kartu kredit sangat membantu karena mata uang kita tak bisa digunakan," kata Ireine.

Dalam sebulan Ireine membayar tagihan kartu kredit Rp 2,5 juta. Kartu kredit BNI miliknya biasa digunakannya untuk belanja keperluan sehari-hari. "Pokoknya saya puas menggunakan kartu kredit," tuturnya.  Ireine pernah terlambat membayar tagihan namun tak pernah berhubungan dengan debt collector. "Biasanya mereka (bank) menghubungi  dan saya langsung bayar dengan sistem kliring," katanya.

Rolly Manoppo, seorang pengusaha kontraktor menggunakan kartu kredit sejak tiga tahun lalu. "Dulu saya punya tiga kartu kredit, tapi sekarang hanya satu," tuturnya. Manoppo pun merasakan  manfaat kartu kredit saat belanja. "Saat genting dimana boks ATM sulit dicari lebih mudah jika miliki kartu kredit. Tinggal gesek," katanya. 

Menurutnya,  pengguna kartu kredit harus bisa mengendalikan diri. Besarnya bunga perlu disiasati dengan membayar tagihan sebelum jatuh tempo. "Biasakan bayar tagihan sebelum jatuh tempo," tuturnya.

Teror via SMS
Karyawati sebuah  perusahaan swasta di Manado, Meilan, mengisahkan pengalaman menarik terkait pemakaian kartu kredit. "Saya pernah menggunakan kartu kredit sampai melewati limit. Saya sudah tidak memikirkan lagi cara melunasinya karena sudah asyik berbelanja. Akhirnya saya sering diteror melalui SMS atau telepon, bahkan pernah didatangi langsung debt collctor ke rumah," kata Meilan.

Teror via SMS dan telepon tersebut menyadarkan Meilan untuk lebih teguh mengendalikan diri saat berbelanja. "Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih pandai mengatur keuangan," katanya. Kini Meilan mengaku lebih bijaksana menggunakan kartu kredit. "Selain menjadi gaya hidup, kartu kredit  mempermudah kita membeli keperluan sehari-hari, " ujar Meilan yang menggunakan kartu kredit dengan limit Rp 3 juta per bulan.

Peringatan dari bank karena telat membayar tagihan juga pernah dialami Pingkan, juga seorang  karyawati perusahaan swasta di Manado. "Sekarang saya berusaha mengontrol penggunaan kartu kredit untuk membeli barang yang paling saya butuhkan, bukan yang diinginkan," demikian Pingkan.

Pengalaman berbeda dialami Indra yang hanya bertahan delapan bulan menggunakan kartu kredit. Gara-gara punya  kartu kredit, dia belanja sesuka hati lalu kelabakan saat membayar tagihan bank. "Mau karaoke tidak perlu mikir lama, mau main biliard oke, belanja oke, tapi akhir bulan pusing," kata Indra. Sejak itu dia tak mau lagi menggunakan kartu kredit.  "Jadi mending punya kartu debit saja karena tanpa harus mikir tagihan tiap bulan dan kalaupun tidak dipakai itu tetap akan jadi tabungan," kata Indra.

Nonong Sumual, seorang pegawai swasta sudah kapok menggunakan kartu kredit. Indah dan manis pada awalnya, namun akhirnya dia diburu kolektor. Pengalaman ini dia alami setahun lalu. "Waktu itu saya diburu kolektor," tuturnya. Yang paling disesali Sumual adalah bunganya selalu bertambah. "Seolah tidak ada habisnya," tuturnya. Pengalaman buruk itu membuat Sumual memutuskan untuk berhenti menggunakan kartu kredit hingga sekarang. (jhp/nty/kev/art/dru/def)


News Analysis
Tommy Parengkuan
Dosen Fakultas Ekonomi Unsrat

Bank Harus Selektif


NASABAH yang memiliki kartu kredit harus bisa menahan nafsu belanja agar keuangannya tidak kebobolan. Perlu sikap hati-hati dalam penggunaan kartu kredit. Caranya rutin mengontrol tagihan ke bank agar pemakaian tidak berlebihan.
Sebaiknya sebelum memutuskan untuk menggunakan kartu kredit, seseorang perlu melakukan analisa mendalam tentang gaji atau pendapatannya setiap bulan. Pendapatan itu perlu dikalkulasi secara obyektif  dengan kebutuhan mendasar sehari-hari. Tentu berbeda kebutuhan bagi  mereka yang telah berkeluarga dan yang lajang.

Selain itu perbankan harus memberlakukan aturan yang selektif dalam mengeluarkan kartu kredit. Banyak bank hanya mengejar target dan tidak melakukan survei mendalam terhadap calon pemegang kartu kredit.
Ada orang yang sebenarnya belum mampu menggunakan kartu kredit karena pendapatannya pas-pasan saja,  tetapi karena gengsi terpaksa dia mengurus kartu kredit.  Akibatnya tagihan bulanan kartu kredit bisa dua kali lipat dari gajinya.

Artinya kartu kredit bisa membuat sebagian orang boros. Maka perbankan harus selektif supaya tidak salah menjaring nasabah. Tapi harus diakui penggunaan kartu kredit ini banyak sekali sisi positifnya. Kuncinya setiap orang bijaksana menggunakan kartu kredit agar tidak merugikan dirinya sendiri. (dru)

Sumber: Tribun Manado 4 Juni 2012 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes